Pelatih kepala ganda campuran Indonesia, Nova Widianto, memberikan evaluasi tajam terhadap performa anak asuhnya usai melakoni rangkaian tur Eropa. Meski menunjukkan grafik perkembangan yang positif, Nova menilai pasangan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dan Dejan Ferdinansyah/Felisha Pasaribu masih memiliki celah besar dalam konsistensi permainan di level elit dunia.
Selama tur Eropa, kendala utama yang dihadapi oleh para pemain adalah kemampuan beradaptasi di poin-poin kritis. Nova menyoroti bahwa kekalahan yang dialami oleh para atletnya kerap terjadi pada fase akhir gim, di mana ketenangan dan kematangan taktik menjadi penentu kemenangan. Kondisi ini membuat hasil yang diraih di beberapa turnamen terakhir belum mencapai ekspektasi tim pelatih.
Salah satu faktor teknis yang menjadi sorotan Nova adalah variasi kondisi lapangan dan perbedaan spesifikasi shuttlecock yang digunakan di setiap turnamen. Perubahan drastis antara penggunaan shuttlecock merek Victor dan Yonex menuntut pemain memiliki adaptasi instan. Bagi pasangan seperti Amri/Nita, tantangan ini sering kali memengaruhi akurasi pukulan serta pola permainan yang ingin diterapkan saat menghadapi lawan yang berbeda karakter.
Masalah konsistensi ini diperparah dengan posisi peringkat dunia mereka yang belum menembus jajaran delapan besar. Akibatnya, Amri/Nita sering kali harus berhadapan dengan lawan-lawan unggulan sejak babak pertama. Situasi ini menciptakan beban mental tersendiri yang berdampak pada kepercayaan diri pemain saat bertanding di lapangan.
Analisis Nova menunjukkan bahwa untuk bersaing di level tertinggi, seorang atlet tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan mental yang stabil. Tanpa posisi unggulan yang aman, para pemain Indonesia cenderung bermain di bawah tekanan, yang justru sering kali menjadi bumerang saat menghadapi lawan yang lebih berpengalaman di babak awal.
Secara strategis, Nova telah menetapkan target ambisius bagi Amri/Nita untuk segera menembus top 8 dunia. Target ini bukan tanpa alasan, sebab posisi tersebut sangat krusial sebelum periode penghitungan poin kualifikasi Olimpiade dimulai. Dengan berada di jajaran delapan besar, mereka akan mendapatkan keuntungan dalam undian pertandingan, sehingga terhindar dari pertemuan dini dengan sesama pemain unggulan.
Keberhasilan menembus peringkat delapan besar akan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi pemain untuk melangkah lebih jauh di setiap turnamen. Hal ini juga menjadi tolok ukur kesiapan mereka untuk bersaing di panggung olahraga paling bergengsi di dunia. Strategi ini merupakan langkah konkret PBSI dalam memperbaiki peta kekuatan ganda campuran Indonesia yang sempat mengalami masa transisi.
Nova menegaskan bahwa proses adaptasi harus dipercepat. Ia berharap para pemainnya dapat lebih cerdas dalam membaca situasi di lapangan, terutama saat shuttlecock yang digunakan tidak sesuai dengan pola permainan ideal mereka. Kemampuan untuk mengubah strategi secara cepat di tengah pertandingan menjadi pembeda utama antara pemain papan atas dan pemain yang masih berjuang di papan tengah.
"Secara keseluruhan, kemajuan mereka sudah terlihat jelas dibandingkan sebelumnya. Namun, kami harus lebih stabil agar tidak lagi terjebak dalam kekalahan di poin-poin krusial," ujar Nova saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung. Baginya, kegagalan di tur Eropa kali ini adalah pelajaran berharga untuk membenahi kekurangan teknis sebelum turnamen besar berikutnya.
Harapan Nova untuk melihat anak asuhnya menembus babak final di Hylo Open memang belum terwujud, namun ia tetap optimistis. Ia menilai bahwa kekalahan demi kekalahan yang dialami saat ini adalah bagian dari proses pendewasaan atlet. Fokus utama saat ini adalah mematangkan persiapan agar saat kualifikasi Olimpiade dimulai, para pemain sudah berada pada level performa yang diinginkan.
Ke depan, tim pelatih akan lebih banyak memberikan simulasi pertandingan yang menuntut pemain untuk mengambil keputusan cepat di bawah tekanan. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri pemain sekaligus memperkuat mentalitas bertanding mereka. Jika target top 8 dapat dicapai lebih cepat, peluang Indonesia untuk mengirimkan wakil ganda campuran yang kompetitif di Olimpiade akan semakin terbuka lebar.
Industri bulu tangkis Indonesia saat ini memang sedang dalam fase regenerasi yang menantang. Dengan kepemimpinan Nova Widianto, diharapkan sektor ganda campuran dapat kembali menjadi lumbung prestasi bagi Indonesia di kancah internasional. Konsistensi, ketahanan mental, dan kemampuan adaptasi yang mumpuni menjadi kunci utama untuk mengembalikan kejayaan sektor ini.