Sepakbola

Nico Paz Berjanji Bawa Piala Dunia Kembali ke Argentina Usai Kekalahan di Final 2026

Ringkasan

  • Gelandang Argentina Nico Paz menjanjikan akan memberikan segalanya untuk merebut gelar Piala Dunia 2030 usai La Albiceleste tumbang 0-1 dari Spanyol di final 2026 di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB.

Argentina harus menyerah di hadapan Spanyol di laga puncak Piala Dunia 2026 yang berlangsung di New York New Jersey Stadium. Gol tunggal memisahkan kedua tim dan mengakhiri pemerintahan Lionel Scaloni selaku juara bertahan. Bagi Nico Paz, kekalahan itu bukan titik akhir, melainkan bahan bakar baru.

Beberapa jam usai final, pemain berusia 21 tahun itu membuka suara lewat media sosial. Ia tidak memilih diam atau mencari alasan. Pesan yang ia tulis justru mengandung tegasnya komitmen jangka panjang terhadap timnas Argentina, meskipun peran di turnamen ini terbatas pada dua penampilan di fase grup.

Latar belakang Nico Paz menambah lapisan kompleksitas pada narasi ini. Lahir di Madrid dan melewati akademi Real Madrid, ia sebenarnya memiliki hak mewakili Spanyol. Namun, ia memilih Argentina — negara asal orang tuanya — dan debut internasional pada 2024. Di final ini, ia harus menyaksikan negara kelahirannya mengangkat piala di hadapan negara yang ia wakili.

Kendati demikian, tidak ada rasa dendam dalam kata-katanya. "Selamat kepada Spanyol dan semua warga Spanyol," tulisnya, sebelum menegaskan: "Maju Argentina, selalu, dalam suka dan duka!" Sikap sportivitas itu mendapat pujian dari penggemar kedua negara yang menyaksikan pertarungan emosional di media sosial.

Perjalanan Paz di Piala Dunia 2026 memang tidak mulus. Scaloni hanya mempercayakannya sebagai pengganti dalam laga lawan Aljazair, lalu memberinya kesempatan starter melawan Yordania di fase grup. Di fase knockout hingga final, nama Paz tidak pernah tercatat di susunan pemain. Keputusan pelatih itu memicu perdebatan di kalangan penggemar Argentina yang menilai kreativitas Paz dibutuhkan di tengah kesulitan tim mencetak gol.

Di sisi lain, musim pertamanya di Serie A bersama Como justru menunjukkan kematangan. Di bawah arahan Cesc Fàbregas, Paz mencatat 6 gol dan 5 assist dalam 34 penampilan liga. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu gelandang muda paling produktif di Italia. Performa klub itu justru memperkuat argumen bahwa ia layak peran lebih besar di timnas.

Bagi Argentina, kekalahan di final 2026 menandai akhir era emas generasi Lionel Messi, Ángel Di María, dan Nicolás Otamendi yang kemungkinan besar tidak akan melangkah ke Piala Dunia 2030. Transisi generasi menjadi keharusan, dan Paz — bersama rekan-sejawat seperti Alejandro Garnacho dan Valentín Carboni — diposisikan sebagai tulang punggung tim baru.

Janji Paz untuk "mengembalikan piala ke Argentina" bukan sekadar retorika. Kontraknya dengan Como berjalan hingga 2028, dan klausul rilis yang dikabarkan ada di kontraknya membuat masa depannya terbuka. Jika perkembangan berlanjut, ia bisa menjadi salah satu pemain paling dicari transfer musim panas mendatang, yang akan mempengaruhi dinamik timnas Argentina.

Dari perspektif Indonesia, kisah Paz relevan bagi penggemar sepak bola yang mengikuti perkembangan pemain keturunan ganda. Fenomena pemain yang lahir di Eropa tapi memilih mewakili negara asal orang tua — seperti yang dialami Eliano Reijnders atau Justin Hubner — semakin umum. Sikap Paz yang menghormati kedua identitas tanpa kehilangan loyalitas sportif jadi teladan.

Lebih jauh, final 2026 juga menegaskan dominasi sepak bola Eropa di panggung dunia. Spanyol menjadi juara keempat Eropa berturut-turut setelah Italia (2022), Prancis (2018), dan Jerman (2014). Argentina sebagai wakil Amerika Selatan terakhir di final gagal memutus rantai itu. Bagi Konfederasi Asia termasuk Indonesia, ini pengingat bahwa kesenjangan kualitas dengan Eropa masih jauh dan membutuhkan investasi jangka panjang di pengembangan pemain muda.

Masa depan Nico Paz dan Argentina sekarang bergantung pada evaluasi Scaloni atau pelatih baru yang akan memimpin tim menuju kualifikasi 2030. Satu hal pasti: janji seorang pemain muda yang baru merasakan pahitnya final dunia barusan menjadi narasi paling menarik untuk diikuti empat tahun mendatang.

Mengapa Ini Penting

Janji Nico Paz menjadi simbol transisi generasi Argentina pasca-era Messi. Bagi penggemar Indonesia, kisahnya relevan sebagai contoh pemain keturunan ganda yang memilih loyalitas sportif tanpa menghapus akar kelahiran. Kekalahan Argentina juga mempertegas dominasi Eropa yang jadi PR jangka panjang bagi sepak bola Asia. Performa Paz di Como menjadikannya aset transfer bernilai tinggi yang akan memengaruhi dinamik timnas Argentina ke depan.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit