Vietnam resmi menempatkan satu kaki di partai puncak Piala AFF 2026 usai mengalahkan Malaysia 2-0 di Stadion My Dinh, Rabu (19/8) malam. Kemenangan itu menyempurnakan agregat 4-0 atas Harimau Malaya dan mengantarkan Timnas Garuda menuju final untuk musim kedua berturut-turut. Lawan mereka: Thailand, tim yang juga dikalahkan Vietnam di final edisi 2024 dengan agregat 5-3.
Nguyen Xuan Son muncul sebagai tokoh kunci di babak semifinal. Striker kelahiran Brasil itu mencetak dua gol di leg kedua, membawa totalnya menjadi tiga gol di fase perebutan tiket final. Prestasi itu mengikat posisinya di puncak klasemen pencetak gol sementara bersama rekan setim Nguyen Dinh Bac, masing-masing mengoleksi lima gol. Namun, di tengah sorotan, Xuan Son justru menutupi diri dengan sikap yang sengaja ditekan.
"Saya ingat apa yang terjadi dua tahun lalu. Namun sebenarnya, tidak ada pesan khusus di balik itu," ucap Xuan Son saat diwawancarai media Vietnam Bongda pasca laga lawan Malaysia. Pernyataan itu merujuk pada luka parah yang dialaminya di leg dua final 2024, yang memaksa dia keluar lebih awal saat Vietnam sedang mengunggul. Cedera itu menjadi kenangan pahit sekaligus pelajaran berharga bagi penyerang berusia 27 tahun tersebut.
Sikap rendah hati Xuan Son terlihat dari cara menjawab pertanyaan soal ambisi pribadi. Ia menolak mengeluarkan target gol atau prediksi kemenangan mulia. "Yang saya inginkan adalah mempersiapkan diri dalam kondisi fisik terbaik. Saya bermain untuk tim, tak peduli apakah pelatih memberikan waktu bermain selama 30 menit atau 90 menit," tegasnya. Frasa itu mengungkapkan mentalitas pemain tim yang diprioritaskan di atas ego pribadi — ciri khas pemain yang telah mengalami naik turunnya karir di tingkat internasional.
Pelatih Kim Sang Sik memang tidak selalu memainkan Xuan Son penuh 90 menit sepanjang turnamen. Manajemen menit bermain itu justru terbukti efektif: striker Teph Xanh Nam Dih tetap tajam di momen krusial. Lima gol yang dicetaknya tidak hanya angka statistik, tapi gol-gol penentu yang membuka kekunci pertahanan lawan. Di semifinal lawan Malaysia misalnya, dua golnya lahir saat Vietnam butuh jaminan keamanan setelah unggul 2-0 dari leg pertama.
Final kali ini akan berlangsung dalam format home-and-away. Leg pertama digelar Sabtu (22/8) di Stadion Rajamangala, Bangkok, sebelum leg penentu di My Dinh, Hanoi, Rabu (26/8). Thailand hadapi final ini dengan motivasi balas dendam sportif setelah dua kali gagal merebut gelar di hadapan Vietnam (2022 dan 2024). Sementara Vietnam ingin membuktikan dominasi mereka di Asia Tenggara bukan sekadar kebetulan.
Bagi sepak bola Indonesia, final Vietnam-Thailand ini punya makna khusus. Kedua tim ini menjadi tolok ukur kemajuan Garuda di era pelatih Patrick Kluivert. Indonesia pernah kalah dari Vietnam di fase grup Piala AFF 2024, lalu tumbang di tangan Thailand di semifinal edisi yang sama. Perbedaan kualitas manajemen pertandingan, kedalaman skuad, dan efisiensi finishing jadi catatan penting untuk Timnas saat mempersiapkan kualifikasi Piala Dunia 2026.
Xuan Son sendiri mewakili fenomena naturalisasi yang dikelola dengan cermat. Berbeda dengan beberapa kasus naturalisasi di Indonesia yang sering jadi perdebatan publik, Vietnam mengintegrasikan pemain keturunan Brasil itu secara bertahap — dari adaptasi budaya, belajar bahasa, hingga memahami sistem taktik Kim Sang Sik. Hasilnya, Xuan Son bukan sekadar penyerang andalan, tapi pemegang peran vital di ruang ganti.
Kendati demikian, Vietnam tidak bisa mengandalkan satu nama saja. Nguyen Dinh Bac, Nguyen Hai Long, dan Doan Van Hau turut menopang struktur tim. Sisi Thailand pun memiliki senjata tajam seperti Supachok Sarachat dan Patrik Gustavsson yang mampu menciptakan kejutan. Kunci kemenangan kemungkinan besar terletak pada sisi taktis: siapa yang lebih disiplin mengeksekusi rencana permainan 90 menit, dan siapa yang lebih tenang di bawah tekanan.
Kim Sang Sik telah menegaskan staf pelatih akan menyusun taktik khusus untuk final. Tugas Xuan Son dan rekan-rekannya: menjalankan instruksi itu dengan presisi. "Ini akan menjadi laga final yang besar. Tim nasional Thailand adalah tim yang hebat," akui Xuan Son. Kalimat singkat itu mengandung rasa hormat lawan yang dewasa — ciri tim juara yang tidak sombong.
Dua minggu tersisa bagi kedua tim untuk menyempurnakan persiapan. Vietnam punya keuntungan bermain leg kedua di hadapan penonton sendiri, tapi Thailand punya momentum psikologis sebagai tim yang "tidak punya yang rugi". Bagi penonton Indonesia, final ini bukan sekadar tontonan — tapi kelas praktis soal bagaimana membangun tim nasional yang kohesif, disiplin, dan berani tampil di panggung besar.