Betty Bromage, seorang wanita asal Inggris berusia 97 tahun, kembali mencatatkan namanya di Guinness World Records. Ia memecahkan rekor sebagai wanita tertua yang berjalan di atas sayap pesawat yang sedang terbang, sebuah aksi yang dilakukan untuk menggalang dana bagi unit stroke Rumah Sakit Umum Cheltenham.
Aksi ini bukan yang pertama bagi Bromage. Sebelumnya, pada usia 93 tahun, ia sudah memecahkan rekor yang sama. Kini, di usianya yang semakin senja, ia kembali menantang dirinya dengan berjalan di atas sayap pesawat selama lima menit, terhitung dari lepas landas hingga mendarat.
Stroke yang dideritanya tahun lalu sempat membuat Bromage kesulitan berbicara. Namun, kondisi itu tidak menghentikannya untuk terus melakukan aksi ekstrem. "Jika tidak, saya akan bosan dengan hidup. Saya tidak bisa mengemudi, penglihatan saya kurang baik, dan saya mudah frustrasi. Jadi, saya ingin melakukan hal-hal yang masih bisa saya lakukan," ujarnya kepada People.
Kepada pembawa acara ITV, Bromage juga berbagi nasihat tentang keberanian. "Anda tidak boleh mengatakan kata tidak bisa. Kata itu tidak benar. Anda mengatakan 'Saya akan melakukannya jika saya bisa', tetapi kata tidak bisa tidak ada dalam kosakata saya," tegasnya. Ia mengaku baru memulai hobi ini di usia 87 tahun setelah melihat dan mendengar aksi serupa.
Aksi Bromage di usia senja ini menarik perhatian publik, terutama di Inggris. Keberaniannya menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berkarya dan berkontribusi. Penggalangan dana yang ia lakukan juga menjadi sorotan, menunjukkan bahwa aksi heroik bisa datang dari siapa saja, termasuk seorang nenek berusia 97 tahun.
Di Indonesia, semangat seperti Bromage sebenarnya tercermin dalam berbagai kegiatan sosial yang melibatkan lansia. Namun, aksi berjalan di sayap pesawat tentu bukan hal yang umum. Di sini, para lansia lebih sering terlibat dalam kegiatan seperti senam, pengajian, atau kegiatan sosial lainnya.
Kendati demikian, semangat Bromage bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama lansia di Indonesia, untuk tetap aktif dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Tidak harus dengan aksi ekstrem, tetapi dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat sesuai kemampuan.
Bromage sendiri mengaku belum puas dengan rekor yang baru. Ia masih punya rencana untuk melakukan aksi serupa di masa depan. "Kalau saya masih ada di sini beberapa tahun lagi, mungkin saya akan melakukannya lagi. Di umur 97 tahun, apa lagi yang harus ditakuti?" ujarnya.
Semangat Bromage ini juga menjadi pengingat bahwa kesehatan fisik dan mental lansia perlu terus diperhatikan. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting untuk memungkinkan lansia tetap aktif dan mandiri. Di Indonesia, dukungan ini bisa diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan lansia, serta memastikan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.
Kisah Bromage adalah bukti bahwa dengan tekad kuat dan dukungan yang tepat, hal yang tampaknya mustahil bisa dicapai. Ia telah mengukir sejarah dan menginspirasi banyak orang, tidak hanya di Inggris, tetapi juga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.