Pekan kedua Nations Championship akan menjadi ujian krusial bagi tiga raksasa rugbi dunia: Argentina, Australia, dan Inggris. Setelah menelan kekalahan pahit pada laga pembuka akhir pekan lalu, ketiga tim ini dipaksa melakukan evaluasi mendalam untuk mengamankan kemenangan perdana mereka. Turnamen yang kini menerapkan sistem poin ketat ini memuncak pada babak final di Twickenham pada November mendatang, di mana hanya tim-tim terbaik dari belahan bumi utara dan selatan yang akan bertarung memperebutkan supremasi.
Argentina, yang secara mengejutkan takluk di tangan Skotlandia di Cordoba, kini tengah bersiap menghadapi Wales di San Juan. Kegagalan Los Pumas pekan lalu banyak dikaitkan dengan kurangnya ritme permainan karena para pemain mereka yang tersebar di berbagai klub Eropa tidak memiliki waktu persiapan yang cukup. Pelatih Argentina berharap waktu latihan tambahan selama sepekan terakhir dapat memperbaiki koordinasi tim yang sempat terlihat berantakan di lapangan.
Sementara itu, Australia berada dalam situasi yang lebih pelik. Setelah kekalahan tipis dua poin dari Irlandia di Sydney, Wallabies kini harus menghadapi tantangan berat melawan juara Six Nations, Prancis, di Brisbane. Krisis cedera kembali menghantui skuad Australia, terutama di posisi flyhalf. Dengan cederanya Carter Gordon dan Ben Donaldson, Declan Meredith kini diproyeksikan menjadi flyhalf ketujuh yang digunakan Australia dalam 17 pertandingan terakhir, sebuah catatan yang menunjukkan ketidakstabilan posisi kunci dalam tim.
Pelatih Prancis, Fabien Galthie, menyoroti inkonsistensi Australia sebagai titik lemah yang akan dimanfaatkan timnya. Galthie mencatat bahwa Wallabies memiliki kapabilitas untuk mengalahkan tim mana pun saat berada dalam performa terbaiknya, namun seringkali kehilangan fokus dan menjadi rapuh di tengah pertandingan. Prancis, yang tampil impresif saat melawan Selandia Baru, datang dengan kepercayaan diri tinggi untuk mengeksploitasi kerapuhan struktural yang sering ditunjukkan oleh Australia.
Di sisi lain, Inggris menatap laga melawan Fiji di Liverpool sebagai kesempatan emas untuk memutus tren negatif. Setelah kekalahan telak 45-21 dari Afrika Selatan di Johannesburg, tekanan kini berada di pundak pelatih Steve Borthwick. Kegagalan meraih kemenangan dalam lima pertandingan terakhir membuat posisi Borthwick mulai dipertanyakan oleh publik. Pertandingan melawan Fiji ini dianggap sebagai laga wajib menang bagi Inggris untuk mengembalikan moral tim sebelum kompetisi semakin memanas.
Skotlandia, yang tampil memukau pekan lalu, kini menghadapi tantangan berat berupa sejarah. Mereka akan berhadapan dengan juara dunia, Afrika Selatan, di kandang lawan—sebuah tempat di mana Skotlandia belum pernah mencatatkan kemenangan. Namun, kembalinya Finn Russell ke dalam skuad memberikan harapan baru bagi tim tamu untuk menciptakan kejutan besar terhadap Springboks yang hingga kini masih terus bereksperimen dengan komposisi pemain mereka.
Selain laga-laga tersebut, perhatian juga tertuju pada pertandingan Selandia Baru yang menjamu Italia di Wellington, serta duel antara Jepang melawan Irlandia di Newcastle. Setiap poin dalam Nations Championship kini sangat berharga. Mengingat format turnamen yang menuntut konsistensi tinggi, setiap kekalahan di awal babak kualifikasi akan mempersempit peluang tim untuk melaju ke partai puncak di London akhir tahun nanti.
Para pengamat rugbi dunia sepakat bahwa Nations Championship ini bukan sekadar ajang uji coba, melainkan barometer bagi persiapan tim menuju Piala Dunia tahun depan. Bagi tim seperti Australia, turnamen ini menjadi cermin sejauh mana mereka telah berbenah sebelum menjadi tuan rumah turnamen akbar tersebut. Konsistensi, manajemen cedera, dan kedalaman skuad akan menjadi penentu utama siapa yang layak berdiri di podium juara Twickenham pada bulan November mendatang.