Kabaran tidak masuknya nama Rizky Ridho dalam daftar calon skuad Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026 memicu perdebatan hangat di kalangan pecinta sepak bola tanah air. Isu itu pertama kali dibocorkan pengamat senior Rony Pangemanan pada Senin (17/8), yang mengaku mendapat informasi dari sumber terpercaya di lingkungan PSSI. Nama Ridho hilang di tengah deretan bek sentral yang didominasi pemain keturunan, menandakan pergeseran peta kekuatan di lini belakang Garuda.
Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI sekaligus Manajer Timnas, Sumardji, segera menanggapi rumor tersebut. Ia menegaskan daftar 26 pemain yang disiapkan pelatih kepala John Herdman belum final dan belum dirilis resmi. Saat ini, Herdman beserta staf pelatih masih menimbang-nimbang komposisi tim untuk panggilan September mendatang. Sikap hati-hati PSSI wajar mengingat turnamen ini menjadi uji coba pertama Herdman di pentas senior setelah mengawali karier di level U-20.
Di balik kontroversi ini tersembunyi realitas persaingan yang semakin ketat di posisi bek sentral. Ridho harus bersaing dengan Jay Idzes, Justin Hubner, Mees Hilgers, Elkan Baggott, hingga Kevin Diks yang fleksibel mengisi posisi itu. Kelima nama tersebut memiliki pengalaman bermain di liga-liga Eropa tingkat atas — Eredivisie, Serie A, Bundesliga, hingga Premier League — sedangkan Ridho masih bertahan di Liga 1 bersama Persija Jakarta. Kesenjangan level kompetisi jadi variabel utama dalam pertimbangan tim pelatih.
Performa Ridho di Piala AFF 2024 (yang diselenggarakan akhir 2024/awal 2025) menjadi titik kritis penilaian. Saat dipasang sebagai bek kanan dalam sistem back three, penampilan pemain berusia 24 tahun itu jauh dari ekspektasi. Ia terlihat gugup, ragu dalam pengambilan keputusan, dan kehilangan kecepatan reaksi yang dulunya jadi andalannya. Kontras nyata terlihat jika dibandingkan periode sebelum turnamen, di mana Ridho tampil stabil dan justru dinobatkan sebagai kapten timnas di beberapa laga persahabatan.
Turunnya performa mendadak ini mengingatkan pada kasus Hansamu Yama beberapa tahun lalu. Bek kelahiran 1995 itu mulai kehilangan ritme permainan menjelang usia 25 tahun, meski sempat menjadi tulang punggung timnas di era sebelumnya. Pola serupa kerap dialami pemain lokal yang tidak mendapatkan eksposur kompetisi tinggi secara berkelanjutan. Ridho sendiri belum pernah mencoba nasib ke liga Eropa meski sempat dikaitkan dengan beberapa klub.
Namun, terlalu cepat memutuskan Ridho sudah tidak layak membela merah putih. Usia 24 tahun masih termasuk masa emas untuk seorang bek sentral. Banyak pemain dunia justru meledak di usia paruh dua 20-an setelah mendapat dorongan atau schok yang tepat. Ketiga laga awal Persija di Super League 2026/2027 — melawan Borneo FC (5/9), Persib Bandung (12/9), dan Java United (19/9) — akan jadi momentum penentu. Tampil apik di sana adalah satu-satunya tiket Ridho untuk merebut perhatian Herdman.
Di sisi lain, kebijakan tidak memanggil pemain inti justru bisa berfungsi sebagai "terapi kejut" yang diperlukan. Kenyamanan posisi main tetap di klub dan timnas tanpa tekanan persaingan nyata berpotensi membuat pemain terjebak zona nyaman. Sejumlah pelatih senior di Indonesia sepakat bahwa jeda dari timnas kadang justru memicu motivasi balik lebih keras. Ridho butuh getaran itu untuk membuktikan dia masih punya kualitas level internasional.
Sumardji menegaskan proses seleksi berjalan objektif berbasis data dan observasi langsung. Tim pelatih tidak hanya melihat nama besar, tapi juga kecocokan sistem taktis yang ingin dibangun Herdman. Pelatih asal Skotlandia itu dikenal menganut gaya bermain proaktif dengan tekanan tinggi, membutuhkan bek yang nyaman bermain satu lawan satu dan cepat membaca permainan. Kriteria ini jadi tolok ukur netral di atas popularitas.
Bagi PSSI, keputusan soal Ridho bukan sekadar soal satu nama pemain. Ini jadi indikator arah kebijakan regenerasi dan standar kualitas yang ingin diterapkan era Herdman. Jika Ridho benar dicoret, sinyal jelas dikirim ke seluruh pemain lokal: performa di Liga 1 saja tidak cukup, konsistensi level tinggi jadi mutlak. Sebaliknya, jika dipanggil meski forma menurun, pesan yang tersampaikan justru berlawanan.
Pecinta bola Indonesia kini menunggu rilis resmi daftar skuad yang dijadwalkan keluar September mendatang. Apapun keputusannya, kasus Ridho sudah jadi pelajaran berharga: di era naturalisasi masif, pemain lokal wajib mengejar standar performa yang tak tertandingi. Bukan soal siapa lebih pantas, tapi siapa yang siap bersaing di level yang sama.