Jose Mourinho resmi ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid untuk periode keduanya. Kembalinya Special One ke Santiago Bernabeu memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi pemain nomor 10 andalannya musim depan?
Sepak terjang Mourinho di dunia kepelatihan memang lekat dengan kemampuannya mengasah talenta kreatif menjadi mesin serangan utama. Rekam jejak ini sudah terbukti di sejumlah klub raksasa Eropa.
Di Porto, ia sukses membentuk Deco menjadi playmaker kelas dunia. Kepindahan ke Chelsea kemudian menjadi bukti nyata, di mana ia mengubah Frank Lampard menjadi gelandang serang paling produktif sepanjang sejarah Premier League. Kontribusi 211 gol dari lini kedua untuk The Blues adalah warisan taktis Mourinho yang abadi.
Periode Inter Milan menyuguhkan another masterpiece. Wesley Sneijder, yang sebelumnya tidak terlalu konsisten, dipoles menjadi jenderal lapangan tengah yang mengantarkan Nerazzurri meraih treble winners pada 2010. Sneijder menjelma menjadi pemain yang ditakuti seluruh klub Eropa.
Pada masa jabatan pertamanya di Madrid (2010-2013), Mourinho tidak melakukan revolusi total. Ia justru memaksimalkan potensi yang sudah ada. Mesut Oezil dipercaya sebagai kreator utama. Hasilnya? Oezil bertransformasi menjadi raja assist La Liga, mencatatkan 74 umpan gol hanya dalam tiga musim.
Kini, dengan skuad yang berbeda, Mourinho menghadapi tantangan serupa. Pilihan utama untuk peran tersebut mengarah ke satu nama: Jude Bellingham. Pemain internasional Inggris ini memiliki profil yang sangat kompatibel dengan filosofi Mourinho.
Bellingham bukan sekadar gelandang box-to-box. Musim debutnya yang spektakuler di Madrid pada 2023, di mana ia menjadi top skor klub dengan 23 gol dari 42 laga, menunjukkan insting mencetak gol yang tajam. Namun, kedatangan Kylian Mbappe memaksa ia bermain lebih dalam.
Pengalaman di Piala Dunia 2026 memperkuat argumen tersebut. Bellingham mencetak tujuh gol untuk Timnas Inggris, memecahkan rekor pemain Inggris dalam satu edisi turnamen. Perannya di belakang Harry Kane menunjukkan kemampuannya bermain sebagai false nine atau second striker dengan sempurna.
Gaya bermain inilah yang diyakini akan dieksploitasi Mourinho. Seorang pemain dengan kemampuan finishing mematikan, visi bermain luar biasa, dan stamina untuk bertahan dalam struktur taktik yang disiplin. Bellingham memiliki semua itu.
Namun, Mourinho dikenal sebagai taktisi yang pragmatis. Ia akan memiliki alternatif lain di kursi cadangan. Arda Guler, pemain muda Turki yang sensasional, bisa diplot sebagai gelandang serang tradisional atau winger kreatif.
Kedatangan Bernardo Silva dari Manchester City menambah kedalaman opsi. Pemain Portugal itu mahir beroperasi di ruang antar-lini. Brahim Diaz dan talenta muda Argentina, Franco Mastantuono, juga menjadi kandidat yang layak dipertimbangkan.
Keputusan akhir Mourinho akan sangat menarik untuk diikuti. Ia terkenal akan keberaniannya mengambil keputusan taktis yang mengejutkan, meski terkadang kontroversial. Perpaduan antara pemain yang sudah teruji di level tertinggi dengan talenta muda mentah menjadi ciri khas pembangunan timnya.
Buat penggemar La Liga di Indonesia, era kedua Mourinho di Madrid menjanjikan taktik yang lebih terstruktur dan intensitas permainan yang tinggi. Liga Indonesia yang sering mengadopsi pola permainan Eropa bisa belajar banyak dari bagaimana Mourinho mengoptimalkan peran nomor 10 modern.