Sepakbola

Moriyasu Mundur Pasca Piala Asia 2027, Oiwa Siap Warisi Kapten Samurai Biru

Ringkasan

  • Pelatih Timnas Jepang Hajime Moriyasu akan mengakhiri masa jabatannya setelah Piala Asia 2027, dengan Go Oiwa pelatih U-23 menjadi calon pengganti terkuat.

Hajime Moriyasu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya sebagai pelatih kepala Timnas Jepang usai Piala Asia 2027. Keputusan ini menutup era sembilan tahun ia memimpin Samurai Biru sejak ditunjuk menggantikan Akira Nishino pasca Piala Dunia 2018. Selama menjabat, Moriyasu mengarungi 108 laga internasional dan membawa Jepang hadir di dua edisi Piala Dunia berturut-turut.

Di Rusia 2018, Jepang terhenti di babak 16 besar usai kalah dramatis 2-3 dari Belgia usai sempat unggul 2-0. Empat tahun kemudian di Qatar, nasib serupa menanti: Croatia mengalahkan mereka lewat adu penalti usai imbang 1-1. Meski belum tembus babak 8 besar, konsistensi lolos ke pesta besar dunia menjadi pencapaian yang tak bisa diremehkan.

Perjalanan Moriyasu di Piala Asia justru menyimpan rasa 'belum puas'. Di edisi 2019 di Uni Emirat Arab, Jepang gagal merebut gelar usai tumbang 1-3 di tangan Qatar di final. Lima tahun kemudian di Qatar, perjalanan berhenti di perempatfinal usai dikalahkan Iran 1-2. Dua kali gagal di babak kritis ini jadi noda di karir internasional sang pelatih.

Namun, rekor Moriyasu melawan tim-tim Eropa sepak bola modern patut diacungi jempol. Sejak 2022, Jepang tak pernah kalah dari wakil benua biru. Kemenangan atas Jerman dan Spanyol di fase grup Piala Dunia 2022 jadi bukti nyata. Tak lama kemudian, mereka menundukkan Inggris 1-0 di Wembley dan Brasil 1-0 di Tokyo dalam laga uji coba — dua hasil yang mengesankan bagi negara Asia.

Keputusan mundur ini didorong keinginan federasi Jepang (JFA) untuk memulai regenerasi lebih dini. Piala Asia 2027 yang akan digelar di Arab Saudi dijadikan titik akhir yang logis: Jepang akan bertanding di Grup F bersama Indonesia, Qatar, dan Thailand. Turnamen ini menjadi kesempatan terakhir Moriyasu mengejar gelar kontinental yang selama ini terlewat.

Nama Go Oiwa muncul sebagai penerus paling masuk akal. Mantan bek Timnas Jepang ini memimpin tim U-23 sejak 2021 dan berhasil membawa Japan ke final Piala Asia U-23 2024, meski harus puas jadi runner-up usai kalah dari Uzbekistan. Oiwa dikenal menganut filosofi permainan berbasis posse dan transisi cepat — selaras dengan identitas Sepak Bola Jepang modern.

Transisi ke Oiwa bukan tanpa risiko. Lompatan dari level usia ke tim senior menuntut manajemen ruang tamu yang lebih kompleks, tekanan media masif, dan kemampuan mengelola bintang-bintang Eropa seperti Takefusa Kubo, Kaoru Mitoma, atau Takehiro Tomiyasu. Pengalaman Oiwa di Piala Asia U-23 dan Olimpiade Paris 2024 menjadi modal, tapi ujian nyata baru dimulai.

Bagi Indonesia, kehadiran Jepang di Grup F Piala Asia 2027 jadi narasi tersendiri. Garuda akan menghadapi lawan yang dalam masa transisi kepemimpinan. Jika Moriyasu tetap duduk di bangku cadangan hingga turnamen berlangsung, Indonesia akan menghadapi tim yang sistem taktiknya sudah matang tapi mungkin motivation-nya berkurang. Sebaliknya, jika Oiwa dipromosikan lebih cepat, ketidakpastian taktis bisa jadi peluang.

Shinji Okazaki, mantan striker Timnas Jepang, pernah menilai era Moriyasu sebagai "periode paling stabil tapi paling tidak berani" dalam sejarah modern Samurai Biru. Kritik itu merujuk pada kecenderungan Moriyasu bermain aman di babak knockout. Oiwa diharapkan membawa nuansa lebih agresif — ciri khas generasi pelatih muda Jepang yang terbiasa berkompetisi di liga Eropa.

JFA belum mengumumkan resmi jadwal transisi, tapi sumber dekat federasi mengindikasikan Oiwa bisa diikutkan ke staf pelatih senior jauh-jauh hari Piala Asia 2027 sebagai periode adaptasi. Pola serupa pernah diterapkan saat Moriyasu sendiri dipromosikan dari U-23 ke senior pada 2018. Kebijakan promosi internal ini jadi ciri khas manajemen sepak bola Jepang yang konsisten.

Piala Asia 2027 akan menjadi ujian emas bagi dua generasi pelatih sekaligus: Moriyasu mengejar legitimasi gelar yang terlewat, dan Oiwa membuktikan kesiapan mewarisi warisan taktis Jepang. Bagi Indonesia, pertemuan di Grup F bukan sekadar laga fase grup — tapi cerminan pergeseran kekuatan dan filosofi sepak bola Asia yang sedang berlangsung.

Mengapa Ini Penting

Mundurnya Moriyasu menandai akhir era stabilitas taktis Jepang dan pembukaan babak baru di bawah Oiwa yang lebih berani. Bagi Indonesia, ini berarti lawan di Grup F Piala Asia 2027 akan dalam fase transisi — peluang emas Garuda untuk mengejar poin penuh jika manajemen PSSI mempersiapkan tim dengan matang. Lebih jauh, promosi Oiwa memperkuat tren regenerasi pelatih internal di Asia, model yang layak ditiru PSSI dibanding andalkan pelatih asing bergilir-gilir.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit