Inter Milan menghadapi tantangan berat pada laga pembuka Liga Champions 2026/27. Skuad asuhan Cristian Chivu harus melawat ke markas Real Madrid, Stadion Santiago Bernabeu, pada Rabu (9/9/2026) pukul 02.00 WIB, dengan membawa beban sejarah yang cukup kelam.
Catatan statistik menunjukkan bahwa Nerazzurri memiliki rekor tandang yang sangat buruk saat bermain di tanah Spanyol. Bahkan, dalam tujuh kunjungan terakhir ke markas Real Madrid, Inter Milan selalu menelan kekalahan dan ironisnya, mereka gagal mencetak satu gol pun ke gawang Los Blancos di stadion tersebut.
Kemenangan terakhir Inter Milan di kandang Real Madrid terjadi enam dekade silam. Rentang waktu yang sangat panjang ini menjadi bukti betapa dominannya raksasa Spanyol tersebut setiap kali menjamu perwakilan Italia di hadapan pendukung mereka sendiri.
Tidak hanya saat bertandang ke Bernabeu, Inter juga kesulitan ketika menghadapi tim-tim LaLiga lainnya. Sejak kemenangan terakhir mereka di markas Valencia pada musim 2004/05, Inter tercatat tanpa kemenangan dalam 13 pertandingan tandang ke Spanyol dengan rincian empat kali imbang dan sembilan kali menelan kekalahan.
Tren negatif ini berlanjut hingga musim lalu, di mana Lautaro Martinez dan rekan-rekannya harus mengakui keunggulan Atletico Madrid dengan skor 1-2 pada matchday kelima Liga Champions. Rentetan hasil minor ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar bagi staf kepelatihan untuk meracik strategi yang lebih efektif.
Secara keseluruhan, statistik Inter melawan tim-tim Spanyol dalam 27 pertandingan terakhir cukup mengkhawatirkan. Mereka hanya mampu mengamankan lima kemenangan, sementara 14 laga berakhir dengan kekalahan dan delapan pertandingan sisanya berakhir imbang.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, laga ini menjadi tolok ukur perkembangan taktik sepak bola Italia di kancah Eropa. Ketangguhan tim-tim LaLiga dalam menjaga penguasaan bola dan transisi cepat sering kali menjadi momok bagi klub Serie A yang cenderung bermain lebih terstruktur dan defensif.
Di Indonesia, antusiasme terhadap Liga Champions tetap menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Fenomena kesulitan klub besar seperti Inter saat menghadapi tim Spanyol sering menjadi bahan diskusi hangat di berbagai komunitas sepak bola lokal, yang menyoroti pentingnya adaptasi gaya bermain di level kompetisi tertinggi.
Cristian Chivu menyadari betul beratnya tantangan yang ada di depan mata. Ia mengakui bahwa bermain di Bernabeu merupakan ujian mental bagi pemain mana pun di dunia. Kendati demikian, sang pelatih enggan menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain bertahan total.
Chivu menegaskan bahwa timnya akan tetap mempertahankan identitas permainan mereka. Ia menginginkan Inter tampil dominan dan menunjukkan progres signifikan yang telah dicapai tim selama masa persiapan pramusim, alih-alih hanya sekadar berusaha memarkir bus di depan gawang.
Langkah selanjutnya bagi Inter adalah membuktikan bahwa statistik hanyalah angka di atas kertas. Kunci keberhasilan mereka akan bergantung pada efisiensi di lini depan dan keberanian untuk keluar dari tekanan tinggi yang pasti akan diterapkan oleh Real Madrid sejak menit awal.
Jika Inter mampu mencuri poin di Madrid, hal ini akan menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi mereka untuk mengarungi fase grup. Sebaliknya, kekalahan akan semakin mempertebal narasi bahwa tanah Spanyol memang menjadi tempat yang angker bagi Nerazzurri.