Michael Olise memahat namanya dalam buku sejarah Piala Dunia. Winger timnas Prancis itu mencatatkan rekor assist terbanyak dalam satu edisi turnamen, melewati legenda seperti Pele dan Diego Maradona, meskipun langkah Prancis terhenti di peringkat keempat usai kalah dramatis 6-4 dari Inggris dalam perebutan peringkat ketiga di Stadion Miami, Minggu (19/7) dini hari WIB.
Olise, yang bermain sebagai starter, memberikan dua assist untuk gol Kylian Mbappe. Tambahan tersebut membuat total koleksinya menjadi tujuh assist sepanjang Piala Dunia 2026, angka yang belum pernah dicapai pemain mana pun sebelumnya dalam satu turnamen.
Rekor sebelumnya dipegang oleh Pele dengan enam assist pada Piala Dunia 1970, diikuti oleh Diego Maradona dengan lima assist pada edisi 1990. Olise kini menjadi standar baru bagi kreativitas dan produktivitas pemain sayap di panggung paling bergengsi sepak bola.
Pertandingan itu sendiri menyajikan drama sepuluh gol. Inggris mendominasi babak pertama dengan skor 4-0, memanfaatkan perombakan besar yang dilakukan pelatih Didier Deschamps. Prancis baru memasukkan pemain inti di babak kedua, namun tiga gol tambahan dari Inggris membuat keunggulan mereka tak terkejar.
Di kubu Inggris, Bukayo Saka mencetak hattrick, sementara gol-gol lain disumbang Declan Rice, Ezri Konsa, dan Jude Bellingham. Prancis membalas lewat dua gol Mbappe, serta Bradley Barcola dan Ousmane Dembele. Namun catatan individu Olise tetap menjadi sorotan utama.
Olise, yang bermain untuk Bayern Munchen, menunjukkan peran vitalnya sebagai pencipta peluang. Ia tidak hanya mencetak assist, tetapi juga sering menjadi pengatur serangan Prancis. Statistik mencatat bahwa ia menjadi pemain dengan kontribusi gol langsung tertinggi di turnamen selain Mbappe.
Rekor Olise ini menarik untuk dianalisis dalam konteks evolusi sepak bola. Dahulu, assist tidak dihitung secara resmi oleh FIFA hingga beberapa dekade terakhir. Namun dengan sistem pencatatan modern, kontribusi pemain dalam menciptakan gol menjadi lebih transparan. Pele dan Maradona mungkin memiliki assist lebih banyak yang tidak tercatat, tapi secara resmi catatan Olise kini yang tertinggi.
Bagi Indonesia, pencapaian Olise bisa menjadi inspirasi. Sepak bola Indonesia sedang dalam proses pengembangan, khususnya dalam hal melahirkan pemain-pemain kreatif di posisi sayap. Pemain seperti Olise membuktikan bahwa dengan bakat dan kerja keras, seorang winger bisa menjadi pembeda di level tertinggi.
Tidak hanya itu, rekor ini juga menyoroti pentingnya data dan statistik dalam sepak bola modern. Tim nasional Indonesia bisa memanfaatkan analisis data untuk menemukan dan mengembangkan pemain dengan potensi assist tinggi, yang mungkin terlewatkan oleh penilaian konvensional.
Dari segi komposisi tim, Prancis sebenarnya tampil impresif sepanjang turnamen, namun kegagalan di laga penentuan peringkat ketiga menjadi catatan tersendiri. Deschamps melakukan rotasi yang justru merugikan, tapi Olise tetap menunjukkan konsistensi.
Ke depan, catatan Olise akan menjadi target bagi pemain-pemain lain di Piala Dunia mendatang. Apalagi jika turnamen tetap menggunakan format 32 tim atau bahkan bertambah, maka kesempatan untuk mencatatkan assist lebih banyak terbuka lebar. Namun jelas, namanya sudah terukir dalam sejarah.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nama Michael Olise mungkin tidak sepopuler Mbappe, namun perannya krusial. Jika Indonesia ingin bersaing di level dunia, pengembangan pemain dengan visi bermain seperti Olise harus menjadi prioritas, mulai dari pembinaan usia dini.