Michael Olise pecah suara menangis di ruang ganti timnas Prancis setelah Les Bleus takluk 4-6 dari Inggris pada perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026 di Stadion Miami, Sabtu (19/7). Winger Bayern Munich itu menyalahkan diri sendiri karena gagal mengonversi sejumlah peluang emas menjadi gol.
Kekalahan dramatis tersebut meninggalkan luka dalam bagi skuad asuhan Didier Deschamps. Olise tercatat membuat dua assist untuk Kylian Mbappe, namun ia menyia-nyiakan kesempatan di menit 61, 75', dan 81'. Tembakan kaki kanannya pada menit 81' yang memanfaatkan umpan Ousmane Dembele masih melenceng dari sisi kiri gawang Inggris, padahal kiper Dean Henderson sudah terkecoh.
Laga berlangsung di bawah tekanan tinggi sejak awal. Prancis yang diunggulkan justru tertinggal 0-4 di babak pertama. Deschamps merespons dengan merombak formasi dan memasukkan Dembele pada paruh kedua, yang membuat permainan Prancis membaik drastis dan mampu mencetak empat gol balasan.
Performa babak kedua menunjukkan bahwa Prancis sebenarnya punya kualitas untuk membalikkan keadaan. Olise menjadi poros serangan bersama Mbappe. Namun efektivitas penyelesaian akhir menjadi masalah utama, bukan kreasinya di sisi sayap.
Tangis Olise di ruang ganti menjadi simbol kegagalan tim yang secara statistik mendominasi namun kalah dalam ketajaman. Fabrizio Romano melaporkan berdasarkan investigasi L'Equipe bahwa pemain 24 tahun itu hancur karena kehilangan dua peluang sangat jelas. Deschamps secara pribadi mendatangi dan menghiburnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen ini relevan dengan kondisi teknis Timnas Garuda. Sering kali skuad lokal juga mengalami nasib serupa: menguasai penguasaan bola dan menciptakan peluang, tapi gagal mencetak gol. Mental pemain muda Indonesia yang kerap goyah usai kegagalan individu menjadi catatan penting untuk dibenahi.
Klub-klub di Liga 1 mulai menyadari pentingnya analisis video dan pelatihan finishing. Namun infrastruktur psikologi olahraga di Indonesia masih tertinggal. Kasus Olise menunjukkan bahwa pemain level dunia pun butuh pendampingan emosional, apalagi pemain muda di tanah air yang minim dukungan sports science.
Di sisi lain, rekor 7 assist yang dicetak Olise dalam satu turnamen Piala Dunia patut jadi acuan. Ia memecahkan rekor assist terbanyak dalam sejarah kompetisi tersebut. Pencapaian ini membuktikan bahwa peran winger modern bukan sekadar mencetak gol, melainkan menyuplai peluang secara konsisten.
Deschamps menunjukkan kepemimpinan yang tenang di momen krusial. Ia tidak memarahi Olise, melainkan menguatkan mental pemainnya. "Olise terlihat menangis di ruang ganti, menyalahkan diri sendiri karena kehilangan dua kesempatan yang jelas," tulis L'Equipe. "Didier Deschamps berbicara dengan pemain dan menghibur dia saat Olise hancur karena kehilangan peluang lagi."
Ke depan, Prancis harus mengevaluasi lini depan mereka jelang siklus Piala Eropa 2028. Olise diprediksi tetap jadi andalan, namun ketajaman harus diasah. Sementara itu, Inggris keluar sebagai juara ketiga dan membangun kepercayaan diri jelang regenerasi.
Bagi Indonesia, turnamen besar seperti Piala Dunia 2026 menjadi guru tidak langsung. Kegagalan bintang Eropa semacam Olise mengajarkan bahwa mental dan efisiensi di kotak penalti menentukan nasib, bukan sekadar gaya bermain. PSSI dan pelatih timnas perlu mencontoh pendekatan Deschamps dalam menjaga psikologi pemain muda.
Tren sepak bola modern menempatkan assist sebagai metrik prestisius. Olise dengan 7 assist membuktikan bahwa statistik kreatif bisa setara dengan gol. Klub dan asosiasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mulai mencatat data serupa untuk mengukur kualitas winger lokal secara objektif.