Olahraga

Michael Johnson Buka Suara Soal Kebangkrutan Grand Slam Track: Atlet Sudah Dibayar

Ringkasan

  • Empat kali juara Olimpiade Michael Johnson mengklarifikasi pembayaran ke atlet setelah liga Grand Slam Track bangkrut Desember 2025, menanggapi tuduhan pembayaran diam-diam sebesar $500.000 kepada dirinya sendiri.

Michael Johnson akhirnya memutuskan keheningan. Empat kali juara emas Olimpiade itu berbicara publik untuk pertama kalinya sejak Grand Slam Track (GST) mengajukan kepailitan sukarela di pengadilan AS pada Desember 2025. Dalam wawancara eksklusif dengan The Telegraph yang dipublikasikan Sabtu lalu, Johnson menegaskan bahwa seluruh atlet yang terkontrak telah menerima pembayaran mereka — meski prosesnya terlilit kontroversi hukum dan keuangan yang memakan tenaga mentalnya selama berbulan-bulan.

Liga yang dijajakannya sebagai revolusi atletik profesional — menawarkan hadiah dan gaji fantastis bagi 96 pelari terbaik dunia — runtuh sebelum acara final di Los Angeles digelar. Investor menarik dana secara tiba-tiba, menciptakan krisis arus kas yang Johnson sebut "katastrofik". Data dari Association of Athletics Managers pada Januari 2026 mencatat total utang GST melebihi $30 juta (sekitar Rp 480 miliar), dengan nama-nama besar seperti Josh Kerr, juara dunia 1.500 meter, dan Matthew Hudson-Smith, perak Olimpiade Paris 2024 di nomor 400 meter, tertinggal piutang di atas £100.000 masing-masing.

Kritik tajam datang pada Maret 2026. Kreditor GST mengajukan gugatan hukum yang menuduh Johnson "secara diam-diam" menarik $500.000 (Rp 8 miliar) untuk diri sendiri berhari-hari sebelum liga runtuh. Tuduhan itu melanda reputasi mantan pemegang rekor dunia 200 dan 400 meter yang selama dua dekade dikenal sebagai komentar BBC berwibawa. "Itu hal paling menyakitkan dan berlawanan sepenuhnya dengan yang dilaporkan," ujar Johnson, suaranya keras namun terkontrol. "Kartu kredit GST penuh karena kita harus mengurus penerbangan dan akomodasi 96 atlet plus pendamping ke Miami dan Philadelphia, serta 170 orang di hotel. Kartu kredit tidak muat. Saya suruh tim travel charge ke kartu pribadi saya, lalu saya dikembalikan. Itu reimbursement, bukan gaji."

Lebih dari itu, Johnson mengungkapkan ia justru menyuntikkan pinjaman pribadi $2 juta (Rp 32 miliar) ke kas GST demi menyelamatkan pembayaran atlet. Gaji dirinya sendiri? Dikorbankan total. "Saya putuskan tidak ambil gaji," tegasnya. Pada Maret lalu, ia pun menyatakan siap mengembalikan $500.000 itu ke massa kreditor — langkah yang ia sebut sebagai bukti niat baik di tengah badai hukum.

Dampak psikologisnya berat. Johnson mengakui malam-malam tanpa tidur, terganggu oleh headline yang mempertanyakan integritasnya. "Apakah atlet percaya pada berita itu? Apakah saya bodoh? Mengapa saya lakukan ini?" pertanyaan itu berulang di kepalanya. Keluarganya pun ikut tersiksa. Bagi pria yang selama 23 tahun membangun citra sebagai analis atletik BBC — peran yang ia tinggalkan sejak Olimpiade Paris 2024 untuk fokus pada GST — guncangan ini bukan soal uang semata, tapi warisan moral.

Kasus GST mengungkap rawannya model bisnis liga atletik independen yang bergantung pada modal ventura tanpa landasan komersial yang matang. Berbeda dengan Diamond League yang didukung sponsor jangka panjang dan hak siar TV tetap, GST mencoba menciptakan format "Grand Slam" empat event per tahun dengan prize money total $12,6 juta per musim — angka yang menarik atlet tapi terlalu besar bagi investor yang menginginkan return cepat. Ketika investor mundur, seluruh struktur runtuh dalam hitungan minggu.

Bagi lanskap atletik global, kebangkrutan ini jadi pengingat pahit: bintang-bintang Olimpiade butuh keamanan finansial, tidak hanya panggung. Beberapa atlet kini lebih memilih kontrak individu dengan brand atau manajemen tradisional daripada taruhan pada liga baru yang belum terbukti. World Athletics pun terpaksa mengevaluasi kembali bagaimana mereka mengatur dan melindungi kepentingan atlet di era liga privatisasi.

Di Indonesia, meski tidak ada atlet yang terlibat langsung, kasus ini relevan bagi pengelola klub dan liga olahraga domestik. Liga 1 sepak bola maupun Proliga voli sering hadapi isu gaji tertunda karena sponsor mundur. Pelajaran dari GST: diversifikasi pendapatan, cadangan arus kas, dan kontrak jaminan pembayaran atlet harus jadi prasyarat sebelum meluncurkan liga profesional. Jangan biarkan semangat inovasi membutakan manajemen risiko.

Johnson kini bertekad memperbaiki nama baiknya. Ia belum kembali ke siaran BBC, tapi teman-teman dekatnya mengatakan ia mempertimbangkan peran konsultan bagi liga-liga atletik muda — dengan syarat ketat: transparansi buku keuangan dan escrow account untuk gaji atlet. "Saya belajar dengan cara paling keras," ucapnya. "Jika saya kembali, itu akan dengan aturan main yang beda."

Sementara proses kepailitan berlanjut di pengadilan Delaware, atlet-atlet GST sudah bisa bernapas lega. Uang mereka sudah di tangan — meski perjalanan menuju titik ini meninggalkan bekas luka di jiwa salah satu legenda atletik terbesar abad ini. Kisah GST berakhir, tapi pelajarannya akan bergema lama di ruang rapat manajemen olahraga di seluruh dunia.

Mengapa Ini Penting

Kasus Grand Slam Track jadi kasus studi kritis bagi industri olahraga Indonesia: bagaimana liga profesional bisa runtuh dalam hitungan bulan meski dibangun oleh legenda Olimpiade. Ini menyoroti bahaya ketergantungan pada modal ventura tanpa model bisnis berkelanjutan — pelajaran vital untuk Liga 1, Proliga, dan IBL yang sering hadapi krisis gaji tertunda. Lebih jauh, ini memaksa World Athletics dan federasi nasional mengevaluasi perlindungan hukum bagi atlet saat liga privat gagal. Bagi penggemar Indonesia, ini mengingatkan bahwa di balik kilauan medali, atlet butuh jaminan kesejahteraan yang tidak boleh jadi korban eksperimen bisnis.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
8 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit