Sepakbola

Messi Ucap Terima Kasih ke Argentina Usai Kehilangan Final Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Lionel Messi menyampaikan rasa syukur kepada pendukung Argentina usai timnasnya kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 di New Jersey, Minggu (19/7) waktu setempat.

Kapten Argentina Lionel Messi memilih mengucapkan terima kasih daripada menyalahkan nasib usai Albiceleste gagal mempertahankan gelar juara dunia. Lewat unggahan Instagram pribadinya pada Senin (20/7) waktu setempat, penyerang Inter Miami itu mengakui kekalahan 0-1 dari Spanyol di Stadion MetLife, New Jersey, meninggalkan luka dalam yang butuh waktu untuk sembuh.

Meski hati terluka, Messi justru memilih mengenang perjalanan mulia Argentina sepanjang turnamen. Ia menyoroti kemampuan tim membalikkan situasi di beberapa laga, pengorbanan seluruh pemain, serta dukungan tak terbatas dari seluruh negeri. "Dukungan seluruh negeri, bersama kerja keras dan pengorbanan tim ini, membuat kami sekali lagi menjadi salah satu tim terbaik di dunia," tulisnya.

Kekalahan di final ke-3 karier Messi di Piala Dunia — setelah 2014 dan 2022 — menutup babak emosional bagi sang kapten yang kini berusia 39 tahun. Kamera menangkap air mata mengalir di pipinya saat peluit panjang berbunyi, gambaran visual yang menjadi simbol akhir era dominasi Argentina yang dimulai dari kemenangan Copa America 2021 hingga trofi dunia di Qatar 2022.

Secara statistik, penampilan Messi di Piala Dunia 2026 tetap mengesankan. Ia mencetak delapan gol dan mencatat empat assist, menjadikannya top scorer turnamen sekaligus playmaker utama. Pencapaian ini juga memperkuat rekornya sebagai pemain pertama dalam sejarah yang menjadi starter di tiga final Piala Dunia berturut-turut — 2014, 2022, dan 2026.

Koleksi gol internasional Messi kini menyentang angka 125, menempatkannya di posisi kedua terbanyak sepanjang masa, hanya di bawah Cristiano Ronaldo yang mengoleksi 146 gol. Jarak 21 gol itu realistis untuk dikejar mengingat Messi masih tampil rutin dengan Inter Miami di MLS, meski pertanyaan tentang pensiun timnas semakin keras terdengar.

Final itu sendiri berlangsung dramatis. Spanyol mencetak gol kemenangan melalui Ferran Torres pada menit ke-106, memanfaatkan kelebihan numerik usai Enzo Fernández menerima kartu merah di menit ke-93. Argentina yang bermain dengan 10 orang baru sempat mengancam pada menit ke-117 lewat tembakan Messi, namun upayanya diblok pertahanan La Roja.

Kehadiran 10 pemain di lapangan selama hampir separuh babak tambahan mengubah dinamika laga total. Pelatih Lionel Scaloni tak punya opsi substitusi ofensif yang signifikan usai kehabisan slot ganti, memaksa Argentina bertahan sambil menunggu konter yang tak kunjung datang. Keputusan wasit memberikan kartu merah langsung ke Fernández tetap jadi perdebatan hangat di media Argentina pasca laga.

Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei — yang tidak hadir di New Jersey — mengumumkan hari libur nasional untuk merayakan perjalanan timnas meski gagal juara. Kebijakan ini diapresiasi sebagai gestur hormat terhadap pencapaian Albiceleste yang tetap menyatukan bangsa. Tanggal libur akan disesuaikan dengan keputusan pemain dan staf pelatih mengenai jadwal perayaan di Buenos Aires.

Presiden AFA Claudio Tapia turut memberikan penghormatan khusus atas kontribusi Messi bagi sepak bola Argentina. Tapia menegaskan bahwa warisan Messi melampaui trofi, merujuk pada identitas bermain dan mentalitas juang yang ditanamkannya ke generasi muda. Beberapa pemain senior seperti Ángel Di María dan Nicolás Otamendi diperkirakan akan mengikuti jejak Messi menggantung sepatu timnas pasca turnamen ini.

Delegasi Argentina dijadwalkan tiba di Buenos Aires pada Senin sore pukul 17.00 waktu setempat. Namun, sejumlah pemain langsung terbang dari AS menuju klub masing-masing di Eropa untuk persiapan musim baru. Pisahnya tim saat pulang mencerminkan realitas sepak bola modern di mana jadwal klub sering kali mengalahkan momentum timnas.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Messi di Piala Dunia 2026 menawarkan pelajaran tentang sportivitas dan ketahanan mental. Di tengah budaya yang sering mengecam kegagalan, sikap Messi menerima kekalahan sambil menghargai proses menjadi contoh nyata. Indonesia yang sedang membangun fondasi sepak bola melalui Liga 1 dan timnas U-23 butuh naratif semacam ini: bahwa kebanggaan tidak selalu bergantung pada medali emas.

Masa depan Messi dengan Albiceleste tetap kabur. Kontraknya dengan Inter Miami berjalan hingga 2025, dan Copa America 2024 di AS bisa jadi panggung penutup internasionalnya. Apapun keputusannya, sepak bola dunia sudah menyaksikan bagaimana seorang legenda berdiri tegak di saat tergelincir — sebuah warisan yang lebih abadi dari trofi apapun.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan Argentina di final Piala Dunia 2026 menutup era dominasi Albiceleste yang berlangsung lima tahun. Bagi industri sepak bola Indonesia, naratif Messi menerima kekalahan dengan sportivitas tinggi menjadi materi pendidikan karakter bagi pemain muda. Juga menegaskan bahwa transisi generasi di timnas — seperti yang akan hadapi Indonesia pasca era Evan Dimas — butuh manajemen emosional, bukan sekadar ganti nama di susunan pemain.

Sumber Asli
Tempo Bola
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit