Lionel Messi berpeluang menyamai rekor langka Cafu sebagai pemain dengan tiga penampilan di final Piala Dunia apabila Argentina tampil melawan Spanyol pada partai puncak edisi 2026. La Albiceleste memastikan tiket final usai menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal yang berlangsung Kamis (16/7) dini hari WIB.
Kemenangan atas Inggris didapat melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez, sementara Anthony Gordon sempat membawa tim Three Lions unggul lebih dulu. Dua assist yang dicatat Messi dalam laga tersebut mempertegas peran sentralnya meski usianya kini menginjak 39 tahun. Pelatih Lionel Scaloni dipastikan kembali mengandalkan kapten timnas Argentina itu di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB.
Rekor yang hendak dikejar Messi merupakan pencapaian yang selama dua dekade hanya milik Cafu. Bek legendaris Brasil tersebut menjadi satu-satunya manusia yang bermain di final Piala Dunia pada tiga edisi berbeda, yakni 1994, 1998, dan 2002. Dari tiga kesempatan tersebut, Cafu mengangkat trofi pada 1994 dan 2002, sedangkan 1998 berakhir dengan kekalahan dari Prancis.
Messi sebelumnya sudah merasakan atmosfer final Piala Dunia sebanyak dua kali. Pertama pada edisi 2014 di Brasil saat Argentina takluk dari Jerman, lalu edisi 2022 di Qatar ketika dirinya membawa pulang trofi usai mengalahkan Prancis. Kehadiran La Pulga di final ketiga akan menempatkannya sejajar dengan bek Persebaya-era timnas Brasil itu dalam catatan sejarah sepak bola dunia.
Torehan delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen menjadikan Messi bukan sekadar penghuni bangku cadangan kehormatan. Ia tetap menjadi top skor Argentina dan menjadi poros serangan yang sulit diganti. Fakta tersebut menepis keraguan banyak pihak yang menyangka pemain berusia senja tak lagi kompetitif di level tertinggi.
Bagi pecinta sepak bola di Indonesia, momentum ini mengingatkan pada betapa langkanya konsistensi pemain di pentas empat tahunan. Liga domestik Tanah Air kerap kehilangan bintang saat memasuki usia 30-an, sementara Messi dan Cafu menunjukkan bahwa penyusunan program kebugaran dan manajemen karier bisa memperpanjang usia kompetitif. Klub-klub Indonesia yang mulai mengadopsi analitik olahraga dapat mengambil pelajaran dari pola persiapan timnas Argentina.
Dampaknya juga terasa pada industri siaran dan platform digital olahraga lokal. Final Piala Dunia 2026 diprediksi memecahkan rekor tayangan di layanan streaming Indonesia, mengingat basis suporter Messi yang sangat besar di Asia Tenggara. Operator telekomunikasi Tanah Air biasanya menyiapkan paket data khusus saat ajang besar, sehingga lonjakan trafik dipastikan terjadi pada pekan depan.
Skaloni nyaris tak memiliki alasan untuk tidak menurunkan Messi sejak menit awal. Kapten tersebut masih menjadi figur yang mengatur ritme serangan dan memberi ketenangan bagi pemain muda seperti Fernandez. Di sisi lain, Spanyol datang dengan generasi baru yang cepat dan agresif, sehingga pengalaman Messi di final sebelumnya menjadi nilai tambah tersendiri.
“Messi tetap menjadi tokoh utama meski usianya memasuki masa senja,” demikian catatan jurnalis yang meliput langsung perkembangan timnas Argentina di Amerika Serikat. Pernyataan tersebut sejalan dengan fakta bahwa pelatih tidak mengubah skema utama meski lawan berubah dari Inggris ke Spanyol.
Laga melawan Spanyol bukan sekadar perebutan trofi bagi Messi. Kemenangan akan menjadikannya pemain pertama yang memenangi dua Piala Dunia sekaligus menyamai rekor tiga final Cafu. Kegagalan pun tidak mengurangi nilai historis pencapaian tersebut karena ia sudah melampaui ekspektasi usia normal pesepak bola profesional.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa rekor tiga final mungkin akan lebih sering disamai di era modern. Jadwal Piala Dunia yang mulai digelar tiap dua tahun dalam wacana FIFA dapat memperpendek jarak edisi, sehingga pemain top punya kans lebih besar tampil di banyak final. Namun, untuk menyamai level dominasi Messi dan Cafu, butuh keberlanjutan performa yang jarang dimiliki pesepak bola kontemporer.
Industri sepak bola Indonesia perlu mencatat momen ini sebagai referensi pembinaan usia lanjut. Program legenda hidup di klub elite Eropa dan Amerika Selatan membuktikan bahwa ilmu taktik bisa menggantikan kecepatan fisik yang menurun. Langkah tersebut relevan bagi mantan pemain Timnas Indonesia yang ingin berkontribusi sebagai mentor tanpa harus langsung pensiun dari lapangan.