Senyum lebar terpancar di wajah Lionel Messi usai wasit meniup peluit panjang di semifinal Piala Dunia 2026. Kapten Argentina itu baru saja menuntun timnasnya mengalahkan Inggris dengan comeback dramatis, memastikan tiket ke laga final yang akan digelar empat hari lagi. Bagi La Pulga, ini akan menjadi final Piala Dunia yang ketiga dalam kariernya setelah 2014 dan 2022.
Kemenangan atas Inggris tak datang dengan mudah. Argentina sempat tertinggal gol terlebih dahulu sebelum membalas di menit-menit krusial, mengulir pola kemenangan yang serupa dengan perjalanan mereka di fase gugur sebelumnya. Pelatih Lionel Scaloni pun mengakui kehabisan kata-kata menggambarkan perjuangan timnya, sementara Harry Kane dan pasukan Three Lions tersisih dengan hati hancur.
Kembali ke 2014, Messi masih berdiri di final Maracana bersama generasi emas Argentina: Angel Di Maria, Javier Mascherano, Sergio Aguero, hingga Gonzalo Higuain. Jerman menghancurkan impian mereka lewat gol Mario Gotze di perpanjangan waktu. Kekecewaan itu menempel delapan tahun sebelum Messi kembali ke panggung tertinggi di Qatar 2022.
Di Doha, skenario berubah. Di Maria tetap ada, tapi generasi baru sudah mengambil alih. Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Lautaro Martinez, dan Emiliano Martinez jadi tulang punggung tim. Argentina menang 4-2 lewat adu penalti atas Prancis usai seri 3-3, menghadiahkan Messi trofi yang paling ditunggu-tunggu.
Kini di 2026, kerangka tim pemenang 2022 masih mendominasi susunan pemain. Transisi generasi berjalan mulus tanpa mengorbankan identitas permainan. Messi, yang kini berusia 39 tahun, tetap menjadi katalisator di tengah lapangan, meski perannya lebih condong ke playmaker dibanding penyerang sayap seperti dulu.
Tantangan di final kali ini datang dari Spanyol, tim yang mengusung filosofi possession football di bawah kendali Rodri di lini tengah. La Roja dikenal dengan kontrol bola yang mematikan dan kemampuan mematikan tempo lawan. Gaya main ini akan menguji ketahanan fisik dan mental Argentina yang baru saja melewati laga semifinal yang sangat menguras tenaga.
Sejauh ini, peluang kedua tim dinilai seimbang 50-50. Argentina memiliki pengalaman final dan mentalitas juara, serta Messi yang tahu persis bagaimana mengelola momen besar. Di sisi lain, Spanyol hadir dengan tim yang segar, taktis, dan tidak memiliki beban sejarah yang menempel pada pundak Messi dan kawan-kawan.
Scaloni setelah laga semifinal terlihat termenung, sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan. "Kami baru saja bermain 120 menit melawan tim hebat, dan sekarang harus siap lagi dalam empat hari," ujar pelatih kelahiran Rosario itu singkat. Di sisi lawan, kekecewaan Harry Kane terlihat jelas usai Inggris gagal mengeksekusi peluang dan kena comeback di menit akhir.
Final Piala Dunia 2026 akan menjawab pertanyaan besar: apakah Messi akan menutup perjalanan internasionalnya dengan gelar kedua beruntun, atau justa Spanyol yang akan merebut tahta dunia? Laga ini bukan hanya soal trofi, tapi juga penutup naratif sepak bola modern yang dibangun Messi selama dua dekade.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final ini hadir di zona waktu yang relatif ramah. Tayangan siaran langsung diperkirakan berlangsung malam hingga dini hari waktu Indonesia Barat, memungkinkan jutaan penggemar menyaksikan sejarah tanpa mengorbankan tidur. Popularitas Messi di Tanah Air tak diragukan lagi — jersey Argentina dengan nomor 10 tetap jadi item paling dicari di toko olahraga hingga platform e-commerce.
Selain aspek emosional, final ini juga menjadi batu uji bagi dominasi sepak bola Eropa vs Amerika Selatan. Sejak 2002, gelar bergantian antara kedua benua. Argentina 2022 mematahkan hegemoni Eropa sesaat, dan kini Spanyol berusaha mengembalikan trofi ke benua biru. Hasil laga ini akan memengaruhi naratif pengembangan sepak bola global untuk empat tahun ke depan.
Empat hari tersisa bagi Scaloni untuk memulihkan kondisi fisik pemain kunci seperti De Paul dan Mac Allister yang bermain penuh di semifinal. Rotasi minimal di fase gugur berarti kelelahan jadi musuh tersembunyi. Sementara Luis de la Fuente, pelatih Spanyol, punya keuntungan skuad lebih segar usai laga semifinal yang relatif lebih ringan. Semuanya akan terjawab di laga puncak — di mana legenda either melengkapi mahakaryanya, atau generasi baru merebut alih-alih.