Lionel Messi membuka hatinya soal keraguan melanjutkan karier profesional usai kehilangan figur paling sentral dalam perjalanan hidupnya. Kapten Argentina itu memposting ucapan duka mendalam di media sosial, mengakui tidak tahu bagaimana melangkah ke depan tanpa kehadiran ayahnya yang telah mendampinginya sejak usia 14 tahun.
Jorge Messi meninggal dunia usia 68 tahun di rumah sakit di kota kelahiran keduanya, Rosario, setelah berjuang melawan penyakit lama. Pemakaman pribadi digelar pada Minggu di pemakaman kota Perez, pinggiran Rosario, dihadiri keluarga dan orang terdekat. Lionel pulang ke tanah air bersama keluarga segera usai menerima kabar duka.
Sang ayah bukan sekadar orang tua. Jorge menjabat sebagai agen Lionel sejak masa muda, mengurus transfer legendaris ke Barcelona, mengelola kontrak, hingga membangun fondasi komersial yang membuat nama Messi jadi brand global. Tanpa Jorge, tidak akan ada Lionel Messi yang dikenal dunia hari ini — setidaknya itu narasi yang dibangun selama dua dekade.
"Aku tidak tahu mau apa tanpamu," tulis Messi dalam unggahan yang disertai foto-foto kenangan. "Aku tidak tahu cara melanjutkan. Dulu aku hanya main bola, dan sekarang aku benar-benar ragu apakah akan melakukannya lebih lama lagi." Kalimat terakhir itu yang memicu spekulasi masif soal kemungkinan pensiun dini, meski Messi belum mengumumkan keputusan resmi.
Konteks ini tak terpisah dari dinamika karier Messi pasca-dunia. Usai mengangkat Piala Dunia 2022 di Qatar — puncak yang lama dinanti — ia pindah ke Inter Miami pada 2023, menutup babak Eropa yang gemilang. Di MLS, peran ia bergeser jadi pelopor liga sekaligus mentor bagi generasi muda. Kontraknya berjalan hingga 2025 dengan opsi perpanjangan, tapi emosional, fondasi mentalnya baru saja goyah.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen ini terasa dekat. Messi punya basis penggemar masif di nusantara, terbukti dari antrean panjang tiket pertemuan timnas Argentina vs Indonesia di Jakarta Juni 2023. Kehadirannya di Miami juga menarik perhatian penonton lokal yang mengikuti MLS lewat streaming. Ketidakpastian masa depannya jadi percikan emosional bagi jutaan mata di Indonesia yang tumbuh mengagumi si Kecil itu.
Di sisi industri, kepergian Messi — kapan pun itu — akan menciptakan kekosongan komersial raksasa. Sponsor utama seperti Adidas, Apple TV+, dan mitra Inter Miami telah membangun narasi pemasaran di sekitar figurnya. Liga MLS sendiri menikmati lonjakan penonton dan langganan Season Pass usai kedatangannya. Jika Messi berhenti lebih awal, dampak finansial akan terasa hingga ke pemegang hak siar dan penjual merch di Asia Tenggara.
Namun, sejarah menunjukkan Messi sering memutuskan berbasis perasaan, bukan kalkulasi bisnis. Ia pernah mundur dari timnas 2016 lalu kembali, dan keputusan pindah ke Miami pun didorong keinginan hidup santai berserta keluarga. Kini, tanpa ayah yang jadi penyeimbang emosional, skala prioritasnya bisa berubah drastis. Beberapa teman sepermainan seperti Luis Suárez dan Sergio Busquets — yang juga bermain di Miami — dikabarkan jadi sistem dukungannya saat ini.
Pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, tak memberikan komentar resmi soal rencana pensiun. Klub mengeluarkan pernyataan singkat menyiratkan dukungan penuh atas keputusan apa pun yang diambil kapten mereka. "Kami menghormati ruang pribadi Lionel dan keluarganya," tulis klub dalam keterangan resmi.
Mengarah ke depan, mata dunia akan menatap langkah Messi di musim MLS 2025. Apakah ia akan menamatkan kontrak, meminta dilepaskan, atau bahkan menggantung sepatu di tengah musim? Jawabannya mungkin tak ada di meja negosiasi, tapi di hati seorang putra yang baru kehilangan kompas hidupnya. Bagi sepak bola Indonesia, ini pengingat bahwa di balik keajaiban di lapangan, ada kisah manusia yang rapuh — dan itu yang membuat olahraga ini begitu menawan.