Lionel Messi kembali menelan pil pahit di titik putih. Kapten Argentina itu gagal mengonversi penalti saat Inter Miami tertinggal 0-1 dari Nashville SC di babak pertama, Minggu (16/8) pagi WIB di Geodis Park. Tembakan kaki kiri Messi yang mendatar ke sudut kanan berhasil diprediksi dan diamankan kiper Brian Schwake. Bola rebond sempat tersentuh Sergio Reguilon ke gawang, namun wasit membatalkan gol karena pelanggaran masuk area sebelum bola dikick.
Kegagalan ini menandai पहली kali Messi melewatkan tiga penalti berturut-turut sejak 2014. Dua kegagalan sebelumnya terjadi di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026, masing-masing melawan Austria di fase grup dan Mesir di babak 16 besar. Di tingkat klub, ini juga penalti pertama yang dilewatkan Messi di MLS sejak 13 September 2025, saat Inter Miami bermain imbang 0-0 melawan Charlotte FC.
Nashville SC memanfaatkan momentum psychological setelah penalti Messi tertolak. Tim asal Tennessee itu bermain percaya diri dan mencetak tiga gol tambahan di babak kedua, mengunci kemenangan 4-1 yang menguatkan posisi mereka di puncak klasemen Eastern Conference. Hany Mukhtar dan Sam Surridge menjadi penumbang gol Nashville, sementara Walker Zimmerman menambah keunggulan melalui bola mati.
Kekalahan telak ini membuat Inter Miami terjebak di peringkat kedua dengan akumulasi 38 poin, tertinggal lima poin dari Nashville yang mengoleksi 43 poin. Jarak tersebut cukup signifikan mengingat musim reguler MLS sudah memasuki fase kritis. Inter Miami kini harus berjuang keras di sisa laga untuk memastikan keuntungan home-field advantage di play-off.
Meskipun gagal di titik putih, kontribusi Messi tidak sepenuhnya hilang. Di menit ke-90+3, bintang berusia 39 tahun itu mengirimkan umpan presisi ke Telasco Segovia yang berhasil mencetak gol kehormatan Inter Miami. Assist itu menjadi bukti bahwa pengaruh Messi terhadap permainan tim tetap besar, meski performa individu di momen kritis menurun.
Analisis teknis menunjukkan pola menarik dari kegagalan penalti Messi terbaru. Kiper lawan kini lebih sering mempelajari kebiasaan eksekusi Messi yang cenderung menembak ke sudut kanan dengan teknik placement. Schwake, kiper pengganti Nashville, tampak sudah mempelajari video analisis dan memilih melompat ke kanan — keputusan yang terbukti tepat. Ini menunjukkan evolusi pendekatan lawan-lawannya.
Dari perspektif psikologis, tiga kegagalan berturut-turut ini bisa menciptakan beban mental yang berat. Messi dikenal sebagai pengeksekusi penalti yang handal dengan persentase keberhasilan di atas 75% sepanjang karir. Namun, tekanan sebagai talisman tim dan ekspektasi penggemar di AS bisa memengaruhi keputusan di detik-detik kritis. Pelatih Javier Mascherano belum memberikan komentar soal apakah Messi akan tetap menjadi pengeksekusi utama.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Messi ini menjadi pelajaran bahwa bahkan pemain terhebat pun memiliki masa-masa sulit. Liga 1 Indonesia sendiri memiliki pengeksekusi penalti andal seperti David da Silva atau Ilija Spasojevic yang juga pernah mengalami fase serupa. Manajemen mental dan rotasi pengeksekusi menjadi kunci bagi klub-k Klub Indonesia menghadapi situasi mirip.
Statistik menarik muncul dari data Opta: Messi kini memiliki 31 kegagalan penalti dari 109 percobaan sepanjang karir senior (klub dan timnas), persentase keberhasilan 71,5%. Angka ini masih di atas rata-rata global, namun tren menurun di 12 bulan terakhir patut diperhatikan. Dua penalti terakhir yang dilewatkan di kualifikasi Piala Dunia 2026 justru terjadi saat Argentina sudah memastikan lolos.
Nashville SC dengan kemenangan ini semakin menguatkan klaim mereka sebagai kandidat serius gelar MLS Cup 2026. Tim yang dilatih B.J. Callaghan menampilkan organisasi defensif yang rapi dan efisiensi finishing tinggi. Inter Miami harus segera bangkit di laga depan melawan FC Cincinnati pekan depan, sebuah ujian karakter bagi tim yang mengandalkan bintang-bintang senior.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah Messi akan terus dipercaya mengeksekusi penalti. Mascherano punya opsi lain seperti Luis Suarez atau Jordi Alba yang memiliki rekam jejak baik di titik putih. Keputusan ini tidak hanya soal teknis, tapi juga manajemen ego dan dinamika tim. Beberapa pakar menyarankan rotasi pengeksekusi untuk mengurangi beban pada Messi.
Kemenangan Nashville juga berdampak pada persaingan Golden Boot dan MVP MLS. Mukhtar dengan dua gol naik ke posisi teratas daftar pencetak gol, menggeser Messi yang tertinggal di urutan ke-4. Perjuangan individual ini akan menambah sengitnya kompetisi di fase akhir musim, di mana setiap poin dan gol menentukan nasib tim dan penghargaan pribadi.