Lionel Messi mengukir enam rekor sepanjang masa setelah dua assistnya memastikan Argentina menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026, Selasa waktu setempat, di Atlanta. Kemenangan dramatis pada menit akhir itu mengantar La Albiceleste ke partai puncak dan sekaligus menobatkan megabintang 39 tahun tersebut sebagai pemain paling dominan dalam sejarah turnamen empat tahunan tersebut.
Dalam laga di Stadion Atlanta, Messi mengirim umpan matang kepada Enzo Fernandez untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-85. Ia kemudian mengkreasi gol kemenangan Lautaro Martinez di masa injury time, tepatnya menit ke-90+2. Hasil ini membuat Argentina membalikkan keadaan dari tertinggal menjadi unggul 2-1 atas The Three Lions.
Rentetan rekor tersebut lahir dari konsistensi Messi sepanjang edisi 2026 di Amerika Utara. Ia sudah mengoleksi delapan gol dan empat assist, sekaligus memuncaki daftar pencetak gol sementara. Jika Kylian Mbappe gagal menambah catatan di perebutan tempat ketiga, Messi dipastikan meraih Sepatu Emas perdananya di level Piala Dunia.
Kontribusi Messi di pentas dunia kini mencapai 33 gol, terdiri dari 21 gol dan 12 assist. Angka itu menempatkannya di urutan pertama sebagai pemain paling berandil dalam sejarah Piala Dunia. Mbappe berada di posisi berikutnya dengan 25 keterlibatan gol, selisih delapan dari pemain berjuluk La Pulga.
Catatan lain yang dipecahkan adalah rekor turnamen berupa kontribusi gol dalam 11 laga Piala Dunia berturut-turut. Messi melakukannya dengan selalu mencetak gol atau assist di setiap pertandingan edisi kali ini. Selain itu, penghargaan Pemain Terbaik (POTM) melawan Inggris menjadi yang kelima baginya di 2026, menyamai rekor lima POTM di edisi 2022. Total ia mengoleksi 16 POTM sepanjang karier Piala Dunia.
Dua assist ke gawang Inggris juga mempertegas dominasi Messi di fase gugur. Ia kini punya 12 assist Piala Dunia, dengan 10 di antaranya lahir di babak eliminasi. Sejak pencatatan data pada 1966, belum ada pemain lain yang melewati batas 8 assist di putaran final. Statistik ini menunjukkan ketajaman visi bermain yang tidak surut meski usianya menginjak 39 tahun.
Pada semifinal tersebut, Messi juga mencatat sembilan dribel sukses sekaligus dua assist. Ia menjadi pemain pertama sejak 1966 yang menggabungkan angka tersebut dalam satu laga fase gugur Piala Dunia. Di level klub maupun timnas, Messi sudah terlibat gol dalam 13 pertandingan beruntun terakhir. Rentetan ini merupakan yang terpanjang kedua dalam kariernya, hanya kalah dari 14 laga berturut-turut pada 2011.
Bagi penggemar di Indonesia, performa Messi menjadi pembicaraan utama di berbagai platform digital. Komunitas pecinta sepak bola lokal kerap mengadakan nobar setiap laga Argentina, mencerminkan betapa besar pengaruh ikon asal Rosario itu terhadap budaya olahraga Tanah Air. Televisi dan layanan streaming domestik mencatat lonjakan penonton saat La Pulga bermain.
Pelatih Lionel Scaloni kehabisan kata-kata usai laga. Ia menilai Messi bukan sekadar pencetak statistik, melainkan penggerak utama mentalitas tim. “Kami tahu apa yang ia berikan, tetapi menyaksikannya langsung tetap luar biasa,” ucap Scaloni dalam sesi wawancara pascapertandingan.
Argentina akan menghadapi Spanyol di final setelah tim Matador menundukkan Prancis 2-0 di semifinal lainnya. Laga puncak diprediksi menjadi panggung terakhir Messi di Piala Dunia, mengingat usianya yang tidak lagi muda. Publik sepak bola global menanti apakah ia akan menambah rekor sebelum pensiun dari pentas tertinggi negara.
Tren pemain senior yang tetap kompetitif di level dunia mulai terlihat dari kasus Messi. Hal ini memicu diskusi tentang manajemen umur dan pemulihan atlet di Indonesia, di mana banyak pemain di atas 30 tahun kerap dianggap menurun. Data dari Piala Dunia 2026 dapat menjadi rujukan bagi pelatih lokal untuk merancang program kebugaran jangka panjang.
Kehadiran Messi di final nanti dipastikan mendongkrak rating siaran dan engagement media sosial di seluruh Asia Tenggara. Industri olahraga Indonesia berpeluang menangkap momentum dengan kolaborasi merek lokal di sektor apparel dan telekomunikasi. Lebih dari sekadar olahraga, fenomena ini menegaskan bahwa narasi besar sepak bola tidak mengenal batas usia.