Lionel Messi harus mencetak minimal tiga gol ke gawang Spanyol di final Piala Dunia 2026 agar bisa merebut Sepatu Emas dari tangan Kylian Mbappe. Kondisi tersebut muncul setelah penyerang Prancis itu menambah dua gol dan satu assist saat Prancis takluk 4-6 dari Inggris di perebutan tempat ketiga, Minggu waktu setempat di Amerika Utara.
Mbappe menutup turnamen dengan 10 gol dan 4 assist dari 769 menit bermain. Messi tertahan di 8 gol dan 4 assist dengan 712 menit penampilan. Selisih dua gol itu memaksa La Pulga memeras tenaga di laga pamungkas yang menjadi Piala Dunia keenam dalam kariernya.
Sepanjang karier internasional yang sarat trofi, Sepatu Emas Piala Dunia menjadi satu dari sedikit penghargaan individu yang belum pernah disentuh Messi. Argentina sudah memastikan tiket final dan berstatus juara bertahan. Namun gelar pencetak gol terbanyak belum menambah koleksi prestasi pribadinya.
Usia 39 tahun tidak menghalangi Messi tampil dominan di edisi yang digelar di Amerika Utara tersebut. Ia mengemas delapan gol dan empat assist, catatan terbaik dalam satu Piala Dunia sepanjang kariernya. Hat-trick ke gawang Aljazair di laga pembuka dan dua assist pada semifinal kontra Inggris menunjukkan ketajamannya yang belum pudar.
FIFA menetapkan urutan penentu Sepatu Emas melalui jumlah gol, lalu assist, kemudian menit bermain paling sedikit. Messi sempat memimpin daftar top skor bersama Mbappe dengan delapan gol, namun unggul assist sehingga berada di posisi teratas. Kekalahan Prancis dari Inggris di perebutan tempat ketiga merusak susunan tersebut karena Mbappe mengamuk dengan brace dan satu umpan.
Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, persaingan dua bintang ini menjadi hiburan tersendiri di tengah minimnya prestasi tim nasional di level dunia. Televisi dan platform streaming Indonesia menayangkan seluruh laga, sehingga masyarakat bisa menyaksikan langsung duel statistik antarlegenda hidup tersebut. Fenomena ini juga mendongkrak engagement media sosial klub suporter lokal yang membandingkan era Messi dan Mbappe.
Dampak komersial turut terasa. Brand olahraga dan sponsor di Indonesia menyiapkan kampanye yang mengaitkan final Piala Dunia dengan produk mereka. Toko ritel menjual jersey Argentina dan Prancis dengan angka cetak gol terbaru. Momen ini menjadi ajang pemasaran yang efektif karena perhatian publik tertuju pada satu pertandingan penentuan.
Jika Messi hanya mencetak dua gol tanpa assist, ia dan Mbappe akan sama-sama mengoleksi 10 gol dan 4 assist. Mbappe dipastikan menang karena indikator kedua yaitu menit bermain. Pemain Real Madrid itu total tampil 769 menit, sedangkan Messi yang sudah melewati dua babak extra time memiliki 712 menit. Tambahan 90 menit atau lebih di final otomatis membuat Messi kalah dalam tiebreaker tersebut.
Skenario kedua yang menguntungkan Messi adalah brace plus satu assist. Jumlah gol seri di 10, tapi Messi unggul assist 5 berbanding 4 sehingga berhak atas Sepatu Emas. Skenario pertama yakni hat-trick langsung membawa koleksinya ke 11 gol dan menyalip Mbappe. Kendati peluang menipis, dua gol di final akan mengembalikan Messi sebagai top skor sepanjang masa dengan 23 gol menggeser Mbappe yang kini punya 22 gol.
Publik meyakini Messi hampir pasti membawa pulang Bola Emas ketiga sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2026 terlepas dari hasil perebutan Sepatu Emas. Penilaian tersebut lahir dari konsistensi performa dan peran kapten yang mengangkat Argentina ke final dua edisi beruntun. Mbappe berpotensi menjadi pemain pertama yang memenangi Sepatu Emas dua kali berturut-turut jika Messi gagal memenuhi syarat berat di atas.
Ke depan, final Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung penutup era Messi di pentas empat tahunan. Hasil laga menentukan apakah ia pulang dengan gelar individu yang melengkapi kariernya atau menyaksikan Mbappe mendominasi catatan sejarah. Tren persaingan antargenerasi seperti ini diprediksi berlanjut seiring munculnya penyerang muda dari benua lain di edisi-edisi mendatang.
Industri siaran olahraga Indonesia diproyeksikan mencatat lonjakan rating tertinggi tahun ini dari partai final nanti. Analis lokal memandang duel statistik Messi-Mbappe sebagai materi edukasi teknik menyerang bagi pelatih akademi usia dini. Warisan pertandingan ini tidak hanya soal trofi, tetapi juga bagaimana dua pemain mempertahankan level elite di usia berbeda.