Kapten Argentina Lionel Messi menolak keras tuduhan bahwa La Albiceleste mendapat perlakuan istimewa dari FIFA di Piala Dunia 2026. Setelah mengalahkan Inggris 2-1 di semifinal, Messi menegaskan timnya hanya fokus pada performa terbaik.
Kemenangan itu dicatat lewat gol telat Enzo Fernández pada menit ke-78 dan Lautaro Martínez di menit ke-84, membalik keunggulan Inggris yang dibuka Anthony Gordon menit ke-55. Argentina dengan itu melangkah ke final ketiga berturut-turut.
Tuduhan soal favoritisme muncul sejak fase gugur, di mana sejumlah keputusan wasit dinilai menguntungkan Argentina. Media Eropa dan penggemar lawan sering menyoroti kontak fisik yang tidak dihukum serta penalti yang diberikan.
Messi, berusia 39 tahun, menjawab dengan tenang: 'Apa yang telah dicapai tim ini sungguh luar biasa. Kami mencapai final lainnya, kami kembali untuk menjadi juara dunia, kami adalah yang terbaik di dunia setelah empat tahun ini, terlepas dari apakah orang menyukainya atau tidak, saya tidak peduli apa yang mereka katakan.'
Ia menambahkan bahwa kekuatan Argentina terletak pada kekompakan, bukan bantuan eksternal. 'Ini membuktikan bahwa apa yang kami lakukan bukanlah kebetulan dan tidak ada yang memberi kami apa pun. Mencapai dua final Piala Dunia adalah sesuatu yang jarang dicapai, dan tim ini melakukannya,' ujarnya.
Ini akan menjadi final ketiga Messi di Piala Dunia, setelah 2014 kalah dari Jerman dan 2022 menang di Qatar. Pencapaian ini menempatkannya sejajar dengan legenda seperti Diego Maradona dan Pelé dalam sejarah turnamen.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final ini menarik perhatian besar karena tayang live di stasiun televisi nasional dan platform streaming populer. Banyak komunitas suporter mengadakan nonton bareng, memanfaatkan momen untuk mempererat komunitas lokal.
Sponsor utama liga domestik Indonesia juga memanfaatkan momentum, meluncurkan kampanye promosi sepatu dan pakaian olahraga bergambar Messi. Hal ini menunjukkan daya tarik komersial bintang Inter Miami di pasar Asia Tenggara.
Narasi favoritisme FIFA sebenarnya sering muncul saat tim besar mendominasi. Data statistik menunjukkan Argentina memang memiliki persentase bola dan peluang gol tertinggi di turnamen ini, yang lebih menjelaskan kemenangan dibandingkan teori konspirasi.
Final akan mempertemukan Argentina dengan Spanyol pada 19 atau 20 Juli. Jika Messi dan rekan-rakan mempertahankan intensitas semifinal, peluang merebut gelar kedua beruntun sangat terbuka, sekaligus menutup perdebatan soal keadilan wasit.
Terlepas dari hasil akhir, respons Messi mengajarkan bahwa konsistensi dan mentalitas tim tetap menjadi kunci, bukan narasi eksternal yang sulit dikontrol.