Dominasi Joey Pelupessy sebagai jangkar lini tengah Timnas Indonesia selama gelaran FIFA ASEAN Cup 2026 tidak terbantahkan. Pemain berusia 33 tahun yang merumput bersama klub Belgia, SK Lommel, ini menjadi sosok sentral yang tak tergantikan dalam skema permainan Garuda. Bahkan, dalam laga final krusial melawan Thailand, Pelupessy sanggup tampil penuh selama 120 menit, termasuk babak perpanjangan waktu, menunjukkan stamina dan disiplin taktis yang luar biasa.
Namun, ketergantungan tinggi pada sosok Pelupessy memicu alarm bagi pengamat sepak bola nasional, Supriyono Prima. Ia menilai bahwa Timnas Indonesia harus segera mencari pelapis sepadan agar performa tim tidak anjlok saat Pelupessy absen. Risiko cedera, akumulasi kartu kuning, hingga penurunan kondisi fisik pemain veteran menjadi faktor utama yang mendasari kekhawatiran tersebut.
Kondisi ini menuntut pelatih kepala John Herdman untuk lebih jeli dalam melakukan rotasi pemain. Turnamen internasional yang padat menuntut kedalaman skuad yang mumpuni. Tanpa adanya pelapis yang memiliki kualitas setara, keseimbangan permainan Indonesia di lini tengah sangat rentan terganggu, yang pada akhirnya bisa merugikan ambisi besar Merah Putih di kancah internasional.
Supriyono secara spesifik menyoroti gelandang Borneo FC, Rivaldo Pakpahan, sebagai kandidat kuat untuk mengisi peran tersebut. Pemain berusia 23 tahun ini dinilai memiliki karakter permainan yang cocok dengan kebutuhan taktis Timnas Indonesia. Konsistensi Rivaldo dalam mengawal lini tengah di kompetisi domestik menjadi bukti bahwa ia memiliki potensi besar untuk naik kelas ke level tim nasional senior.
Selain sektor gelandang bertahan, lini tengah secara keseluruhan memang memerlukan perhatian khusus. Nama-nama seperti Thom Haye pun dipandang memerlukan pendamping atau pengganti yang mampu menjaga ritme permainan. Kebutuhan akan diversifikasi taktik menjadi kunci agar permainan Indonesia tidak mudah terbaca oleh lawan.
Menyinggung soal opsi lain, Supriyono mengakui bahwa pemain seperti Ricky Kambuaya memiliki kualitas yang mumpuni. Namun, tantangan utama bagi beberapa pemain lokal saat ini terletak pada intensitas pertandingan yang tinggi. Konsistensi stamina selama 90 menit penuh masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pemain yang terbiasa dengan tempo kompetisi domestik yang berbeda dengan level internasional.
Kehadiran pemain seperti Egy Maulana Vikri juga memberikan dimensi berbeda bagi permainan Garuda. Kemampuannya untuk menusuk ke dalam pertahanan lawan dan berperan sebagai pemantik serangan menjadi senjata mematikan. Meski demikian, peran Egy lebih bersifat ofensif, yang artinya Indonesia tetap membutuhkan sosok penyeimbang di area tengah yang lebih defensif dan disiplin seperti Pelupessy.
Analisis ini membawa kita pada pentingnya sinkronisasi antara kebutuhan taktik pelatih dengan ketersediaan pemain di liga domestik. Industri sepak bola Indonesia saat ini sedang berada dalam masa transisi di mana pemain muda dituntut untuk segera beradaptasi dengan standar permainan Eropa yang diterapkan oleh staf pelatih timnas.
"Untuk konsep turnamen tentu butuh karena kita tidak tahu kondisi ke depannya seperti apa. Terus kemudian khawatir kena kartu kuning atau kartu merah," ungkap Supriyono mengenai urgensi kedalaman skuad. Baginya, strategi yang baik harus memperhitungkan segala skenario terburuk di lapangan hijau.
Sebagai mantan pemain timnas, perspektif Supriyono memberikan gambaran realis tentang bagaimana sebuah tim besar dibangun. Kedalaman skuad bukan sekadar tentang jumlah pemain, melainkan tentang kualitas individu yang siap diturunkan kapan saja tanpa menurunkan standar performa tim secara keseluruhan.
Ke depan, agenda Timnas Indonesia yang semakin padat menuntut manajemen tim untuk mulai melakukan pemetaan talenta secara lebih masif. Pencarian bibit pemain dengan profil serupa Pelupessy di kompetisi Liga 1 harus menjadi prioritas agar regenerasi di lini tengah tetap terjaga dengan baik.
Langkah selanjutnya bagi John Herdman adalah memberikan menit bermain yang lebih signifikan kepada para pemain pelapis dalam laga-laga uji coba atau turnamen berskala lebih kecil. Dengan cara ini, mentalitas dan kesiapan pemain baru akan teruji sebelum mereka benar-benar harus memikul tanggung jawab besar di kompetisi resmi FIFA.