Megawati Hangestri Pertiwi membeberkan jurang pengalaman antara Timnas Voli Indonesia dan Korea Selatan saat mengikuti sesi latihan klub barunya, Hillstate. Pebolat putri yang akrab disapa Megatron itu menilai jam terbang internasional menjadi pembeda utama kedua negara di pentas voli global.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati melalui kanal Youtube resmi Hillstate di tengah adaptasinya bersama klub anyar asal Negeri Ginseng tersebut. Ia menegaskan bahwa skuad Korea Selatan memiliki catatan mentas di berbagai turnamen dunia yang jauh lebih panjang dibandingkan Indonesia.
Menurut Megawati, perbedaan paling mendasar terletak pada jam terbang. Korea Selatan telah berulang kali tampil di Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Piala Dunia, World Grand Prix, hingga Volleyball Nations League (VNL). Pengalaman tersebut menempa kematangan teknis dan mental pemainnya.
Indonesia berada di posisi berbeda. Tim Merah Putih baru sekali berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia, yakni pada 1982. Setelahnya, panggung utama voli Indonesia berkutat di kawasan Asia dengan pencapaian medali perunggu Asian Games 1962 dan status finalis AVC Cup 2023.
Kondisi ini menunjukkan ketimpangan eksposur kompetisi. Voli Indonesia kehilangan ritme bertanding di level elite dunia selama puluhan tahun. Padahal, frekuensi menghadapi lawan kelas atas menjadi kunci peningkatan kualitas permainan.
Megawati menilai situasi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi ekosistem voli tanah air. Tanpa pemetaan jalur menuju turnamen global yang konsisten, jarak dengan negara seperti Korea Selatan akan terus melebar.
Bagi pembaca Indonesia, fakta ini menyoroti urgensi pembinaan berjenjang. Federasi perlu merancang program uji tanding internasional secara rutin sekadar turnamen regional. Klub domestik juga dituntut menyiapkan atlet yang siap ekspor.
Dampaknya melampaui prestasi. Minimnya jam terbang mengerem nilai komersial atlet dan liga lokal di mata sponsor global. Sebaliknya, pengalaman Megawati di Korea memberi contoh nyata bagaimana kompetisi luar negeri mengasah standar profesionalisme.
"Timnas Korea lebih berpengalaman," ucap Megawati dalam sesi yang dipublikasikan Hillstate. Ia tidak sekadar membandingkan, tetapi menyiratkan perlunya lompatan sistemik agar Indonesia bisa melesat lebih cepat.
Sisi personal Megawati turut menyertai fase kariernya kali ini. Ia menikah dengan Dio pada Juli 2025, menyusul kepindahannya dari Red Sparks pada April 2025. Hillstate menjadi klub pertamanya berstatus sebagai istri.
"Senang karena ada teman. Saya sangat cinta dengannya. Bisa ditemani ke mana-mana, liburan bersama, dan satu rumah," tutur atlet 26 tahun tersebut. Dukungan pasangan dinilainya sebagai bekal menghadapi tekanan liga Korea.
Ke depan, kehadiran Megawati di Hillstate dapat menjadi jembatan transfer ilmu bagi voli Indonesia. Pengalaman bermain dan hidup di ekosistem profesional Korea Selatan perlu diadopsi pelatih serta pengurus saat ia kembali ke timnas. Tanpa langkah konkret, jarak pengalaman yang ia ungkap akan tetap menjadi tembok bagi prestasi Merah Putih.
Proyeksi positifnya, jika PBVSI mulai menyusun road map VNL atau kualifikasi Olimpiade sejak dini, generasi Megawati dapat mengejar ketertinggalan. Kombinasi atlet ekspor dan kompetisi lokal yang terbuka menjadi prasyarat agar Indonesia tidak lagi sekadar penonton di pentas dunia.