Sepakbola

Conor McGregor Kehilangan Rp1,8 Miliar di Final Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Conor McGregor rugi Rp1,8 M taruhan final Piala Dunia 2026 karena Argentina kalah 1-0 dari Spanyol dini hari tadi.

Conor McGregor kehilangan taruhan senilai Rp1,8 miliar setelah memasang prediksi kemenangan Argentina atas Spanyol di final Piala Dunia 2026 yang berlangsung Senin (20/7) dini hari WIB. Petarung UFC asal Irlandia itu gagal mendapatkan potensi hadiah US$3,6 juta karena La Furia Roja justru keluar sebagai juara.

Spanyol mengunci gelar juara dunia melalui gol tunggal Ferran Torres pada masa perpanjangan waktu. Skor 1-0 di luar waktu normal cukup untuk mengubur mimpi Argentina mempertahankan gelar empat tahunan. McGregor, yang dikenal vokal di media sosial, sebelumnya memprediksi pertandingan berakhir 3-2 untuk Argentina.

Prediksi tersebut ia sampaikan lewat cuitan viral yang merujuk pada ucapan anonim di dunia maya sejak 2021. Dalam unggahannya, McGregor menulis dukungan penuh kepada 'seseorang di internet' yang menebak skor tersebut lima tahun lalu. Video penjelasan ikut menyertai taruhan psikologis ala selebritas itu.

Bloodyelbow melaporkan bahwa McGregor memasang taruhan resmi senilai US$100.000 atau setara Rp1,8 miliar. Jika prediksinya tepat, ia berpeluang mengantongi US$3,6 juta. Nominal itu mencerminkan betapa longgarnya regulasi taruhan olahraga di beberapa negara Barat bagi figur publik.

Laga final sendiri berjalan lambat dan defensif. Lionel Messi dan kolega hanya mencatatkan tiga percobaan tepat sasaran, yang semuanya melenceng dari gawang Spanyol. Kegagalan Argentina mencetak gol membuat taruhan McGregor hangus begitu saja.

Di Indonesia, fenomena taruhan oleh figur olahraga internasional menyoroti celah edukasi literasi keuangan bagi penggemar. Meski perjudian dilarang undang-undang, banyak suporter meniru gaya konsumsi konten prediksi dari influencer luar negeri. McGregor menjadi contoh ekstrem bagaimana celebrity betting berisiko merugikan secara material.

Industri hiburan olahraga global memang mengomodifikasi prediksi skor sebagai konten. Di Tanah Air, akun-akun media sosial sering mengutip odds luar negeri tanpa konteks regulasi. Kejadian McGregor sepatutnya menjadi pengingat bahwa taruhan besar bukan sekadar hiburan, melainkan keputusan finansial berisiko tinggi.

Dampaknya meluas ke perilaku konsumsi penggemar muda. Ketika atlet level dunia bisa rugi miliaran, narasi 'prediksi jitu' di ruang digital menjadi relatif. Hal ini relevan dengan tren fantasi liga dan tebak skor yang marak di komunitas sepak bola Indonesia secara nonformal.

'Prediksi dan taruhan Final Piala Dunia Saya! Argentina menang 3-2,' tulis McGregor sebelum laga dimulai. Ia menambahkan, 'Lima tahun lalu ada seseorang di dunia maya mengatakan demikian dan itu saja yang perlu saya dengar! Saya akan mendukungnya!'

Cuitan itu kini menjadi arsip ironi mengingat Spanyol menang 1-0. Nahuel Molina sempat memicu kerusuhan di akhir laga, namun wasit tetap mengesahkan kemenangan La Furia Roja. Pelatih Spanyol menyebut aksi Martinez membuat timnya tak menang dalam 90 menit.

Ke depan, kasus ini diproyeksikan memicu diskusi soal batas promosi taruhan oleh atlet. Federasi olahraga mungkin meninjau kode etik influencer olahraga. Sementara itu, penggemar di Indonesia perlu memisahkan hiburan prediksi dari praktik perjudian ilegal yang diancam pidana.

Tren celebrity betting diprediksi bertahan seiring integrasi platform taruhan ke konten media sosial. Namun, kekalahan McGregor bisa meredam euforia taruhan buta ala selebritas. Edukasi regulasi dan batas risiko akan makin krusial di era siaran bola global yang terdemokratisasi.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan taruhan McGregor menyoroti bahaya literasi keuangan rendah di kalangan penggemar Indonesia yang kerap meniru tren prediksi selebritas. Regulasi judi ketat di Tanah Air belum sepenuhnya menghentikan konsumsi konten odds luar negeri secara pasif. Kasus ini mengingatkan industri olahraga lokal akan pentingnya edukasi batas risiko finansial dalam ekosistem hiburan bola digital. Ke depan, federasi perlu mempertimbangkan panduan etik bagi publik figur agar tidak normalisasi taruhan di ruang publik.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit