Olahraga

McGregor Tumbang di Ronde Pertama Usai Hiatus Lima Tahun, 'The Notorious' Tetap Bertekad Kembali ke Oktagon

Ringkasan

  • Conor McGregor kalah TKO di ronde pertama hanya 1 menit 9 detik dari Max Holloway di UFC 329 usai hiatus lima tahun.
  • Cedera kaki kanan tiba-tiba menghentikan aksi 'The Notorious' yang berusia 37 tahun, namun ia tetap bertekad kembali ke Oktagon.

Las Vegas, CNN Indonesia -- Kembalinya Conor McGregor ke Oktagon UFC usai vakum lima tahun berakhir dengan cara yang paling menyakitkan bagi sang superstar Irlandia. Di UFC 329 yang digelar di T-Mobile Arena, Las Vegas, Minggu (12/7) waktu setempat, McGregor harus menyerah TKO di tangan Max Holloway hanya dalam waktu 1 menit 9 detik ronde pertama. Kekalahan itu bukan hanya soal angka di kolom kalah, melainkan cara dia tumbang: cedera kaki kanan yang tiba-tiba menyerang saat ia mencoba menendang, membuatnya tak mampu bertahan dan wasit terpaksa menghentikan pertarungan.

Pertarungan ini sebenarnya dijadikan magnet utama kartu UFC 329. Dua mantan juara lintas divisi, McGregor dan Holloway, bertemu dalam duel yang diproyeksikan sebagai pertemuan gaya: presisi boks McGregor versus volume dan tekanan konstan Holloway. Namun, skenario yang terjalin di arena jauh berbeda dari prediksi para analis. McGregor terlihat agresif di detik-detik pembukaan, melemparkan jab dan tendangan kalibrasi ke kaki kiri Holloway. Di menit pertama, sang 'Notorious' justru menunjukkan kecepatan tangan yang masih tajam, mendaratkan kombinasi bersih yang membuat wajah Holloway merah.

Kemudian datang momen krusial. McGregor melemparkan tendangan rendah keras ke kaki kiri Holloway, namun saat mendarat, kaki kanannya yang menjadi tumpu terlihat melengkung aneh. Ekspresi wajahnya berubah instan dari fokus ke kesakitan. Ia mencoba mundur, namun keseimbangannya hilang. Holloway, dengan instan killer yang dimilikinya, melesat ke depan dan menghujani McGregor dengan pukulan ground-and-pound hingga wasit Marc Goddard menarik lengan Holloway menandakan TKO pada tanda 1:09 ronde pertama.

Usai pertarungan, McGregor yang berusia 37 tahun tampak tersenyum kecut sambil menahan rasa sakit di sudut kandang. Wawancara pasca-pertarungan justru menjadi momen yang paling mengungkapkan mentalitas juara ganda UFC itu. "Saya tenang, siap, dan percaya diri. Tapi saya terkejut dengan kenyataan ini. Iblis benar-benar memelototi saya di depan wajah," ujar McGregor, merujuk pada cedera yang menurutnya muncul tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya. Ia dengan tegas membantah spekulasi bahwa ia turun ke arena dengan kondisi kurang fit atau cedera lama yang kambuh. "Saya merasa begitu prima dan siap untuk pertarungan ini. Ucapan tentang saya tidak prima ketika datang ke pertarungan itu tidak masuk akal," tandasnya melalui akun X-nya.

Kekalahan ini menandai babak kelam baru dalam karier McGregor yang sudah penuh kontroversi belakangan ini. Sejak mengalahkan Eddie Alvarez di UFC 205 November 2016 untuk menjadi juara simultan dua divisi pertama dalam sejarah UFC, McGregor hanya sekali bertarung di MMA: kalah submission dari Khabib Nurmagomedov di UFC 229 Oktober 2018. Di antara itu, ia menyandang tinju profesional melawan Floyd Mayweather (2017), menghadapi berbagai masalah hukum, dan sempat mengumumkan pensiun tiga kali yang semuanya ditarik kembali. Hiatus lima tahun ini adalah yang terlama dalam karier profesionalnya.

Bagi Max Holloway, kemenangan ini memperkuat posisinya sebagai salah satu petarung paling konsisten dan berbahaya di divisi bulu (featherweight) maupun ringan (lightweight). 'Blessed' kini mencatatkan kemenangan ke-26 dalam karier MMA-nya dengan hanya 8 kekalahan. Holloway, yang dikenal dengan output volume pukulan tertinggi dalam sejarah UFC, justru tidak butuh volume besar kali ini. Ia cukup menunggu kesalahan kecil lawan dan memanfaatkan keberuntungan — atau malapetaka — yang menghantui McGregor. "Saya sedih untuk Conor dan timnya. Tidak ada yang ingin menang dengan cara seperti ini. Tapi ini bagian dari olahraga kita," ujar Holloway dengan sportivitas tinggi di konferensi pers pasca-pertarungan.

Dana White, Presiden UFC, dalam konferensi pers mengakui kekhawatiran soal masa depan McGregor. "Dia adalah bintang terbesar yang pernah dimiliki olahraga ini. Tapi dia sudah 37 tahun, baru pulih dari patah tulang kaki (di UFC 264 vs Dustin Poirier 2021), dan kini cedera kaki lagi. Kita akan duduk dan bicara. Kesehatan Conor adalah prioritas," kata White. Industri pertarungan kini berdebat: apakah McGregor masih layak mendapat pertarungan besar berikutnya, atau apakah UFC harus melindunginya dari dirinya sendiri dengan menawarkan lawan yang lebih 'aman' — atau bahkan mendorong pensiun yang bermartabat?

Di sisi lain, komunitas penggemar MMA di Indonesia — yang dikenal sangat fanatik mengikuti UFC — bereaksi campur aduk. Media sosial ramai dengan tagar #McGregor dan #UFC329. Banyak yang mengecam cara McGregor berbicara besar pasca-kalah, menyebutnya 'tidak sportif' dan 'mencari alasan'. Namun, segmen lain justru memuji keteguhan hati sang 'Notorious' yang menolak menyerah pada usia yang sudah tidak muda bagi petarung MMA. "Dia tetap ikon, meskipun kalah. Mentalitas juara itu tidak hilang," tulis salah satu penggemar di platform X. Debat ini mencerminkan posisi unik McGregor: ia bukan lagi sekadar atlet, melainkan fenomena budaya pop yang menarik perhatian jauh di luar lingkaran keras MMA.

Masa depan McGregor kini berada di persimpangan jalan yang kritis. Secara medis, cedera kaki kanan ini — yang diduga patah tulang atau cedera ligamen serius — akan memerlukan rehabilitasi 6-12 bulan, mirip dengan cedera kaki kirinya di 2021. Pada usia 37 tahun, setiap bulan vakum berarti penurunan atletisitas yang drastis. Secara komersial, McGregor tetap menjadi 'money fight' nomor satu UFC. Pertarungan melawan nama besar seperti Nate Diaz (trilogi), Jorge Masvidal, atau bahkan rematch dengan Dustin Poirier masih akan menjual jutaan PPV. Namun, pertanyaan etis dan sportif menganga: apakah UFC akan mempertaruhkan kesehatan jangka panjang aset terbesarnya demi keuntungan jangka pendek? Jawabannya akan menentukan apakah kita akan melihat 'The Notorious' kembali berdiri di pusat Oktagon, atau apakah UFC 329 menjadi chapter penutup legenda hidup yang tak terlupakan.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan McGregor di UFC 329 bukan sekadar hasil pertarungan, melainkan momen definisi bagi industri MMA global dan basis penggemar masif di Indonesia. Keputusannya untuk tetap bertarung usia 37 tahun pasca-cedera berulang menguji batas etika perlindungan atlet versus eksploitasi komersial. Bagi penggemar Indonesia, ini memicu diskusi mendalam tentang warisan atlet, manajemen karier, dan kapan saatnya 'ikon' harus mundur dengan hormat — narasi yang relevan di era di mana olahraga semakin berinterseksi dengan hiburan dan bisnis besar.

Sumber Asli
CNN Indonesia
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit