Kekalahan Conor McGregor di Oktagon UFC baru-baru ini memicu gelombang spekulasi masif soal masa depan sang superstar Irlandia. Saat Paddy Pimblett berteriak "He's finished, the new boy is in town" dari backstage, komentar itu bukan sekadar sindiran sesama petarung—ia mencerminkan pergeseran naratif yang sudah lama membayangi karir The Notorious. McGregor, yang belum bertarung sejak patah kaki di tangan Dustin Poirier Juli 2021, kembali ke media headline bukan karena performa di kandang, melainkan deretan kontroversi hukum yang mengikis fondasi citranya.
Kasus sivil yang melibatkan Nikita Hand menjadi titik balik krusial. Pada November 2024, juri Pengadilan Tinggi Dublin memutuskan McGregor bersalah melakukan pelecekan seksual terhadap Hand di hotel Dublin Desember 2018, memerintahkan bayaran kompensasi £206.000 plus ganti rugi. Keputusan banding yang digugurkan Juli 2025 semakin memperparah posisi McGregor: ia kini tercatat resmi sebagai pelaku pelecekan seksual menurut hukum sipil Irlandia, meskipun sang petarung terus mengklaim keberadaannya dan menuding Hand beserta tim hukumnya berbohong.
Di sisi olahragaan, performa McGregor di laga rematch melawan Max Holloway—13 tahun setelah kemenangan pertamanya di kelas bulu—menunjukkan erosi kemampuan yang drastis. Keduanya bertemu di kelas welter, dua divisi di atas pertemuan pertama, namun McGregor tampak kehilangan kecepatan, timing, dan daya ledak yang pernah menjadikannya champion ganda UFC. Dana White dan manajemen UFC kini menghadapi dilema: apakah tetap memasarkan nama terbesar sejarah MMA untuk satu laga tersisa di kontrak, atau mengarahkan spotlight ke generasi baru seperti Pimblett yang baru saja menyelesaikan Benoit Saint-Denis dalam 52 detik?
Komentar Islam Makhachev, raja kelas ringan UFC, yang menulis "Conor beat Conor, congrats Max" di X, merangkum ironi karir McGregor saat ini: musuh terbesarnya bukan lawan di depan mata, melainkan ego, kontroversi, dan ketidakmampuan beradaptasi. McGregor sendiri menafikan adanya cedera sebelum laga, mengklaim ia "melempar tendangan, menapak, dan melompat sepanjang kamp hingga backstage." Pernyataan itu justru menimbulkan pertanyaan lebih lanjut: jika fisik prima, mengapa performa begitu suram?
Bagi industri MMA global, kehadiran McGregor tetap adalah mesin uang. Pay-per-view berbintang dia menjamin penjualan jutaan unit, dan sponsor tetap mengincar jangkauan media sosialnya yang ratusan juta pengikut. Namun, risiko reputasional kini melebihi imbalan finansial. Beberapa merek besar sudah mulai menarik diri atau menunda kolaborasi pasca keputusan pengadilan, sinyal bahwa toleransi dunia bisnis terhadap kontroversi seksual semakin tipis—meski di MMA, di mana drama sering dijual sebagai bagian produk.
Di Indonesia, di mana basis penggemar MMA tumbuh pesat lewat streaming dan komunitas latihan, kisah McGregor jadi studi kasus menarik: bagaimana seorang atlet melewati puncak keagungan, lalu terjun ke jurang kontroversi non-olahrgaaan. Penggemar lokal yang pernah mengidolakan gaya bertarung dan kepribadian flamboyan McGregor kini terbagi: ada yang tetap setia menunggu "comeback story", ada yang merasa dikhianati nilai-nilai sportivitas. Perdebatan di media sosial Indonesia memicu diskusi lebih luas soal akuntabilitas atlet, peran media dalam membangun naratif pahlawan, dan batas etis komersialisasi olahraga.
Kontrak tersisa satu laga jadi bargaining chip terakhir UFC. White bisa memasangkan McGregor dengan lawan "aman" untuk memastikan penutup karir yang layak tontonan, atau mempertaruhkan dia melawan kontender muda berbahaya—risiko tinggi, imbalan tinggi. Pimblett, dengan karisma alami dan gaya bertarung menarik, siap mengisi kekosongan bintang. Ia tidak hanya menargetkan gelar, tapi posisi "wajah organisasi" yang selama ini dimonopoli McGregor. Transisi kekuasaan ini mirip era post-Anderson Silva atau post-Georges St-Pierre, tapi dengan tambahan beban hukum yang tidak pernah dialami pendahulunya.
Analis olahraga menggarisbawahi bahwa legacy McGregor tak akan dihapus: ia pionir globalisasi MMA, pelopor gaji besar petarung, dan ikon kultur pop. Namun, babak akhir karirnya mengajarkan pelajaran keras bagi atlet generasi depan: kehebatan di Oktagon tak menjamin kekebalan di pengadilan opini publik. Bagi UFC, era pasca-McGregor bukan soal mencari replika, tapi membangun ekosistem bintang yang berkelanjutan—tanpa bergantung pada satu nama yang terlalu besar untuk gagal, tapi terlalu berbahaya untuk dipertahankan.