Tim nasional Prancis kembali menjadi sorotan dunia setelah menunjukkan performa dominan dalam perjalanan mereka di ajang Piala Dunia kali ini. Dengan kolaborasi lini depan yang mematikan antara Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele, yang sejauh ini telah mengoleksi total 13 gol, Les Bleus kerap dibandingkan dengan generasi emas sepak bola masa lalu. Namun, kapten tim, Kylian Mbappe, justru mengambil sikap dingin terhadap pujian tersebut.
Dalam sebuah pernyataan tegas pasca-kemenangan 2-0 atas Maroko di babak perempat final, Mbappe menekankan bahwa timnya belum meraih prestasi apa pun yang layak dibanggakan secara historis. Meskipun skuad asuhan Didier Deschamps ini menunjukkan kedisiplinan taktis yang luar biasa, Mbappe merasa bahwa potensi besar yang dimiliki tim harus dibuktikan melalui trofi juara, bukan sekadar statistik individu.
Mbappe, yang saat ini memimpin daftar pencetak gol terbanyak turnamen bersama Lionel Messi dengan delapan gol, menegaskan bahwa status sebagai tim terkuat hanya bisa disematkan kepada mereka yang berhasil menjadi juara. Bagi sang bintang, rekam jejaknya sebagai juara tahun 2018 dan finalis 2022 adalah pengingat bahwa sepak bola adalah tentang hasil akhir di partai puncak, bukan tentang performa impresif di babak-babak awal.
Secara historis, Prancis telah mencapai empat dari tujuh final Piala Dunia terakhir, sebuah pencapaian yang menyejajarkan mereka dengan Jerman Barat di era 1974 hingga 1990. Jika Prancis berhasil menembus final di New York pada 19 Juli mendatang, mereka akan memperkokoh posisi sebagai salah satu kekuatan sepak bola paling konsisten di dunia selama lima dekade terakhir.
Kunci keberhasilan Prancis di fase gugur kali ini adalah soliditas pertahanan yang meningkat drastis. Setelah sempat menunjukkan kerentanan di babak grup, tim asuhan Deschamps tidak kebobolan satu gol pun di fase gugur. Penampilan apik Manu Kone, yang menggantikan peran Aurelien Tchouameni yang cedera, menjadi bukti kedalaman skuad yang dimiliki Prancis saat ini.
Di sektor penyerangan, catatan Mbappe dan Dembele mengingatkan publik pada duet maut Brasil di tahun 2002, yakni Ronaldo dan Rivaldo. Keberhasilan dua pemain mencetak minimal lima gol dalam satu edisi turnamen adalah indikator kualitas serangan yang sangat langka. Namun, Mbappe sadar bahwa tanpa gelar juara, catatan statistik tersebut akan kehilangan maknanya dalam buku sejarah sepak bola.
Pelatih Didier Deschamps terus menjaga fokus para pemainnya agar tidak terlena dengan narasi kehebatan tim. Pendekatan pragmatis yang diterapkan sang pelatih terbukti ampuh dalam meredam agresivitas lawan, termasuk Maroko yang sebelumnya tampil mengejutkan. Kesabaran dan dominasi yang ditunjukkan Prancis menjadi ciri khas tim yang siap untuk mempertahankan gelar.
Menatap laga semifinal, Mbappe menegaskan bahwa tim harus tetap membumi. Ia mengakui adanya potensi besar dalam skuad saat ini, namun menekankan bahwa untuk dianggap sebagai tim yang 'hampir tak terkalahkan', mereka masih harus membuktikan diri di lapangan hijau. Prancis kini berada di persimpangan jalan antara sekadar tim berbakat dan tim legendaris yang mendominasi sejarah sepak bola dunia.