Kylian Mbappe kembali menelan pahit di panggung semifinal Piala Dunia. Pada laga yang digelar di Stadion MetLife, New Jersey, Jumat (14/7/2026) waktu setempat, Prancis tumbang 1-2 dari Spanyol dan terhenti di langkah terakhir menuju final. Penyerang Real Madrid itu menyumbangkan tiga tembakan sepanjang 90 menit — dua melenceng dan satu diblok pertahanan — tanpa berhasil membobol gawang Unai Simon.
Kekalahan ini menandai akhir perjalanan Les Bleus di turnamen bertajuk ke-23 tersebut. Spanyol yang diperkuat penampilan cemerlang Lamine Yamal dan Dani Olmo berhasil meredam kecepatan serta ketajaman Mbappe selama laga berlangsung. Peluang terbaik sang kapten Prancis justru datang di menit ke-67 melalui tendangan bebas di tepi kotak penalti, namun bola melayang ke atas mistar.
Polanya mengkhawatirkan. Sejak debut Piala Dunia 2018 di Rusia, Mbappe belum pernah mencetak gol di babak semifinal. Empat tahun lalu di Qatar, ia juga tersandung kebuntuan serupa saat Prancis mengalahkan Maroko 2-0 tanpa kontribusi gol dari dirinya. Pada edisi 2018, Samuel Umtiti jadi penyelamat lewat gol tunggal yang mengantarkan Prancis ke final. Kini, tanpa gol sang bintang utama, Prancis pulang lebih awal.
Taktik Spanyol layak mendapat apresiasi. Pelatih Luis de la Fuente memasang sistem pressing tinggi yang memaksa Mbappe menerima bola di area berbahaya dengan punggung menghadap gawang. Pedoman pertahanan Robin Le Normand dan Aymeric Laporte bekerja sama mengunci ruang gerak, sementara Rodri mematikan suplai umpan dari tengah. Mbappe terpaksa sering menarik ke sayap kiri, jauh dari zona finishing optimal.
Statistik memperkuat narasi kebuntuan. Tiga tembakan Mbappe seluruhnya berasal dari jarak jauh — rata-rata 22 meter dari gawang. Expected goals (xG) totalnya hanya 0.18, jauh di bawah rata-rata musim ini di La Liga yang mencapai 0.62 per 90 menit. Spanyol membiarkan Prancis menguasai bola 58 persen, namun membatasi Les Bleus hanya pada 4 tembakan ke gawang sepanjang laga.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kegagalan Mbappe di semifinal menjadi topik hangat di media sosial. Komunitas fans klub Eropa di Jakarta, Bandung, dan Surabaya merasa kecewa melihat idola mereka tidak tampil maksimal di momen kritis. Banyak yang membandingkan dengan Lionel Messi yang berhasil membawa Argentina ke gelar 2022 dengan performa konsisten di fase knockout. Debat soal "clutch gene" Mbappe kembali memanas di grup-grup WhatsApp dan forum diskusi lokal.
Kendati demikian, konteks usia Mbappe masih memberikan harapan. Usia 27 tahun berarti ia masih memiliki setidaknya dua kali kesempatan Piala Dunia — 2030 dan 2034 — asalkan kondisi fisik dan motivasi terjaga. Sejarah mencatat Thierry Henry baru mencetak gol semifinal Piala Dunia di usia 29 tahun pada 2006. Mbappe punya waktu untuk menulis ulang narasi ini.
Dari sisi Prancis, kepergian Didier Deschamps setelah Piala Dunia ini — sesuai kabar yang beredar — bisa jadi titik balik. Sistem 4-3-3 yang terlalu bergantung pada brilian individu Mbappe terbukti rapuh lawan tim dengan disiplin taktis tinggi seperti Spanyol. Calon pelatih baru, apakah Zinedine Zidane atau Thierry Henry, harus menemukan cara memaksimalkan Mbappe dalam kerangka kolektif yang lebih seimbang.
Spanyol sendiri layak mendapat pujian penuh. Generasi emas baru mereka — Yamal (18 tahun), Pedri (23), Gavi (20), dan Nico Williams (22) — bermain dengan kematangan melebihi usia. Yamal mencetak gol dan assist, menjadi pemain termuda yang terlibat langsung pada gol di semifinal Piala Dunia sejak Pele 1958. La Roja akan menghadapi Argentina di final, mengulang duel klasik 1978 dan 1986.
Bagi Mbappe, musim panas 2026 akan jadi momen evaluasi kritis. Kontrak baru di Real Madrid, peran kapten timnas, dan tekanan jadi "wajah sepak bola dunia" menuntut respons nyata. Sejarah akan mengingatnya sebagai pencetak gol final Piala Dunia 2018 dan 2022, tapi juga sebagai pemain yang belum pernah bernilai di semifinal. Empat tahun ke depan, dunia akan menunggu jawabannya.