Olahraga

Mate dan Kebebasan: Bagaimana Argentina Maksimalkan Messi di Usia 39

Ringkasan

  • Timnas Argentina membangun skuad berbasis kebersamaan dan ritual mate untuk mengeluarkan performa terbaik Lionel Messi, 39, di Piala Dunia 2026.

Di balik tangis Lionel Messi usai Argentina memastikan tiket perempat final Piala Dunia 2026, tersimpan kisah tentang kelegaan dan beban yang akhirnya terlepas. La Pulga sempat menghapus penalti krusial yang nyaris mengakhiri langkah tim Tango, namun rekan-rekannya berhasil membalikkan keadaan dari tertinggal 2-0.

Emosi itu bukan sekadar euforia sesaat. Bagi pemain berusia 39 tahun tersebut, turnamen di Amerika Utara mungkin menjadi penampilan terakhir di pentas akbar, sehingga setiap momen membawa bobot luar biasa. Skuad asuhan Lionel Scaloni sengaja dirancang untuk memeluk Messi dalam suasana kekeluargaan yang langka di level internasional.

Pelatih yang menjabat sejak 2018 itu mewarisi tim penuh bintang lelah yang tertekan sorotan publik. Scaloni mulai menepikan nama besar dan memanggil pemain yang saat itu tak diperhitungkan, lalu membangun harmoni di luar lapangan serta logika di atas rumput: lindungi Messi. Pendekatan sabar dan kolektif menjadi fondasi.

Sang kapten tidak lagi mencari solusi di tengah kepadatan lawan sendirian; ia menemukannya berkat kemampuan membaca permainan yang luar biasa. Scaloni bahkan memberikan kebebasan kepada Messi untuk memilih posisi dan ritme, sesuatu yang mustahil terjadi di era pelatih sebelumnya.

Persahabatan dengan Rodrigo de Paul memperkuat ikatan tersebut. Gelandang tersebut mendatangi kamar Messi yang murung usai latihan, mengajak minum mate dan bermain truco. Sejak saat itu, ritual minuman tradisional Amerika Selatan tiap pagi di kamar De Paul wajib diikuti semua pemain dengan urutan tertentu: Leo lebih dulu, sisanya menyusul.

De Paul kerap menyapa Messi dengan julukan "El Pequeno" meski sang idolanya adalah yang tertua di ruangan. Sentuhan manusiawi itu yang dibutuhkan Messi: diperlakukan sebagai Leo, bukan patung. Saat berjalan ke lapangan, skuad membentuk formasi seperti geng yang melindungi pemimpinnya.

Bagi pembaca di Indonesia, model Argentina ini menyajikan cermin bagi sepak bola lokal. Timnas maupun klub Tanah Air kerap mengandalkan bintang asing atau pemain naturalisasi tanpa membangun ikatan budaya serupa. Teknologi sports science mulai masuk, namun belum menyentuh aspek kebersamaan yang menjadi kunci Tango.

Data menjadi bagian tak terpisahkan dari keberhasilan tersebut. Messi menjalani sesi latihan ganda berbulan-bulan dan obsesi pada nutrisi membuat kecepatan puncaknya 5% lebih tinggi ketimbang saat di Qatar. Ia berlari maksimal hanya 631 meter sepanjang turnamen, namun efisiensi itu melahirkan 10 gol atau assist, menyamai torehan 2022.

Scaloni pernah berkata sebelum laga perempat final melawan Swiss: "Momen terbaik adalah perayaan grup. Saya melatih untuk itu, bukan karena suka formasi 4-3-3. Saya suka minum mate dengan teman, bakar barbekyu, main truco." Kalimat yang bisa keluar dari mulut Messi sendiri.

Hubungan pelatih dan pemain juga bersifat personal. Messi mengenang Scaloni yang dulu sering menggoda pemain muda di Piala Dunia 2006. "Saya masih menggodanya, dia bilang tidak pernah menendang saya keras, tapi saya ingat," ujar Messi. Keduanya menikmati siklus empat trofi dalam tiga semifinal beruntun.

Argentina kini bersiap menghadapi Inggris di semifinal 15 Juli mendatang. Jika ini akhir bagi Messi, warisan yang ditinggalkan berupa sistem pendekatan manusiawi berbasis data akan tetap relevan. Generasi berikutnya di negara tersebut sudah terbiasa melihat idolanya sebagai rekan bermain, bukan dewa jauh di awan.

Di Indonesia, langkah konkret dapat dimulai dari klub elite yang mulai meniru protokol nutrisi dan pemantauan GPS, dipadukan dengan kegiatan bonding antarpemain. Tanpa mate dan truco, setidaknya melalui kopi pagi dan diskusi taktik yang setara, potensi bintang lokal dapat dimaksimalkan layaknya Messi di usia 39.

Mengapa Ini Penting

Keberhasilan Argentina menunjukkan bahwa investasi pada teknologi pemantauan atlet seperti GPS dan nutrisi harus diimbangi oleh arsitektur emosional tim, aspek yang sering diabaikan klub Indonesia. Industri olahraga Tanah Air berpotensi menyerap solusi lokal berupa aplikasi komunitas atlet untuk meniru ritual mate secara digital. Tanpa perubahan budaya, skema naturalisasi maupun pelatih asing tidak akan pernah menghasilkan kejayaan sepadan di pentas internasional. Penggemar di Indonesia juga mendapat pelajaran bahwa usia 39 bukan batas jika manajemen beban dilakukan presisi.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit