Perjalanan Maroko di Piala Dunia edisi terkini harus berakhir di babak delapan besar setelah menelan kekalahan 0-2 dari Prancis di Boston. Meski gagal mengulang memori manis menembus semifinal seperti edisi sebelumnya di Qatar, skuad Singa Atlas tetap menunjukkan taji sebagai kekuatan sepak bola yang disegani di kancah global. Kekalahan ini menjadi pengingat bahwa tantangan di level tertinggi memang memerlukan konsistensi dan kematangan taktis yang lebih mendalam.
Secara statistik, pencapaian tim asuhan Mohamed Ouahbi tetap layak diapresiasi. Maroko mencatatkan sejarah baru sebagai negara Afrika pertama yang berhasil mencapai perempat final secara berturut-turut dalam dua edisi Piala Dunia. Performa impresif mereka, termasuk keberhasilan menyingkirkan Belanda dan memberikan perlawanan sengit kepada Brasil di babak grup, membuktikan bahwa evolusi sepak bola Afrika kini sejajar dengan raksasa Eropa dan Amerika Latin.
Transisi kepelatihan yang dilakukan hanya tiga bulan sebelum turnamen sempat memicu keraguan publik. Namun, Mohamed Ouahbi, yang sebelumnya sukses membawa tim U-20 Maroko menjuarai Piala Dunia kategori usia tersebut, mampu melakukan adaptasi mulus. Stabilitas ini menjadi kunci bagi federasi untuk mulai menatap masa depan, terutama dengan status Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Portugal dan Spanyol.
Status sebagai tuan rumah otomatis memberikan tiket bagi Maroko untuk tampil di Piala Dunia 2030. Ini adalah peluang emas sekaligus beban ekspektasi yang besar bagi tim. Ouahbi menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah membangun fondasi tim muda yang berbakat dan memiliki mentalitas pemenang. Ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanan menuju 2030 tidak bisa hanya mengandalkan bakat individu, melainkan integrasi sistematis dari berbagai jenjang usia.
Namun, tantangan bagi Ouahbi tidaklah mudah. Dinamika kepelatihan di benua Afrika sering kali tidak menentu, di mana kegagalan dalam turnamen regional seperti Piala Afrika (AFCON) bisa berujung pada pemecatan. Pendahulunya, Walid Regragui, menjadi bukti betapa cepatnya dukungan publik berubah menjadi tekanan setelah gagal menjuarai Piala Afrika di kandang sendiri. Oleh karena itu, Ouahbi harus mampu menyeimbangkan ambisi jangka panjang dengan tuntutan instan di ajang kontinental.
Maroko saat ini memegang peringkat teratas di Afrika, namun catatan mereka di Piala Afrika justru sering dianggap kurang maksimal. Selain gelar juara tahun 1976, status mereka sebagai juara tahun 2025 masih menjadi polemik hukum setelah insiden walk-out Senegal di babak final. Ketidakpastian ini menuntut fokus ekstra bagi tim untuk membuktikan kualitas mereka di lapangan tanpa bergantung pada keputusan administratif.
Menjelang kualifikasi Piala Afrika yang akan dimulai September mendatang, Maroko berada di grup yang relatif ringan bersama Gabon, Lesotho, dan Niger. Meski di atas kertas dapat dilewati dengan mudah, Ouahbi mengakui bahwa tantangan sesungguhnya adalah mencari lawan tanding dengan gaya permainan yang lebih beragam. Baginya, terbiasa menghadapi berbagai skema taktik global adalah syarat mutlak agar tidak lagi tersingkir cepat di Piala Dunia masa depan.
Ke depan, Maroko harus menginvestasikan sumber daya pada pengembangan strategi yang lebih adaptif. Mengingat mereka akan menjadi wajah sepak bola Afrika di panggung dunia pada 2030, kegagalan bukanlah opsi. Dengan dukungan infrastruktur yang masif dan regenerasi pemain yang sedang berjalan, Maroko kini berada di jalur yang tepat untuk tidak hanya menjadi partisipan, tetapi juga penantang serius bagi supremasi sepak bola dunia.