Maria Natalia Londa memastikan Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya menjadi panggung terakhirnya membela Indonesia. Atlet atletik berusia 36 tahun itu menatap ajang multievent Asia pada 19 September hingga 3 Oktober mendatang sebagai kesempatan terakhir merebut medali sebelum pensiun dari kejuaraan internasional.
Persiapan menjelang keberangkatan ke Jepang sudah menyentuh angka 80 persen. Maria mengungkapkan dirinya telah masuk fase khusus latihan sejak pertengahan Juli lalu saat ditemui di Pantai Sanur, Bali. Fokus utamanya kali ini tertuju pada nomor lompat jangkit, meski ia juga akan turun di lompat jauh.
Prestasi Maria di level Asia Tenggara tergolong gemilang. Ia mengoleksi enam medali emas dari ajang SEA Games, termasuk emas yang diraih di Suphachalasai Stadium, Thailand, pada 2025. Namun, Asian Games memiliki tingkat persaingan jauh lebih berat karena dihuni atlet-atlet elite benua Asia.
Pengalaman emas lompat jauh di Asian Games 2014 menjadi bekal mental tersendiri bagi Maria. Saat itu, ia membuktikan atlet Indonesia mampu bersaing di level tertinggi Asia. Kegagalan di Asian Games 2023 Hangzhou kemudian menjadi pelajaran berharga yang ia jadikan evaluasi teknis.
Pada 2023, lompatan ketiga Maria sempat dianulir juri meski ia meyakini posisi kaki masih di papan tumpu. Ia hanya finis peringkat ke-10 dengan catatan sah 5,98 meter di lompat jauh, sementara nomor lompat jangkit tidak ia ikuti. Kejadian itu mempertegas betapa detail teknis dan stabilitas mental menentukan hasil di kejuaraan besar.
Bagi ekosistem atletik Indonesia, rencana pensiun Maria menyoroti lubang regenerasi yang belum tertutup. Batas usia maksimal atlet atletik nasional berkompetisi di Indonesia adalah 35 tahun, sehingga Maria sudah melewatinya. Regulasi ini membuat pelatih harus menyiapkan penerus jauh lebih awal agar rekor yang ia pegang tidak mengendap tanpa penantang.
Maria masih memegang rekor nasional untuk lompat jauh dan lompat jangkit. Catatan terbaiknya di lompat jangkit mencapai 14,17 meter. Angka tersebut belum terkejar atlet muda Tanah Air yang rata-rata berada di kisaran 13–14 meter, sedangkan lompat jauh belum ada yang konsisten di atas 6 meter.
Perbandingan regional menunjukkan tantangan nyata di Jepang nanti. Sharifa Davnorova dari Uzbekistan mencatat lompatan 14,27 meter saat meraih emas Asian Games 2024. Selisih 10 sentimeter dari rekor Maria cukup tipis, namun di level Asia, detail tersebut kerap menentukan emas atau tanpa medali.
"Senang, sekaligus kurang senang juga ini. Secara prestasi kan, rekor tersebut sudah lama diciptakan. Rekor kan dibuat untuk dipecahkan," ujar Maria mengenai statusnya sebagai pemegang rekor. Ia berharap atlet muda Indonesia kelak memiliki semangat memecahkan catatan yang ia tinggalkan.
Maria menegaskan Asian Games 2026 menjadi pertandingan terakhir di kejuaraan internasional. Setelahnya, ia tidak lagi turun di event resmi karena batasan usia domestik. Pernyataan itu sekaligus menutup spekulasi kemungkinan comeback di SEA Games maupun kejuaraan lainnya.
Ke depan, PB PASI perlu merumuskan skema pembinaan terukur agar nomor lompat jangkit dan lompat jauh tidak kehilangan taji. Maria sudah memberikan kerangka standar performa, tinggal bagaimana sistem pelatihan nasional mengejar jarak 1 meter dari ambang kompetitif Asia. Tanpa regenerasi cepat, Indonesia berisiko kehilangan dominasi di ASEAN.
Proyeksi terdekat adalah penampilan Maria di Aichi-Nagoya yang akan menjadi ujian pamungkas. Jika emas terwujud, ia menutup karier dengan sempurna dan meninggalkan warisan prestasi bagi atletik Indonesia. Jika tidak, catatan 14,17 meter dan enam emas SEA Games tetap menjadi referensi penting bagi generasi berikutnya.