Kabar duka menyebar di tengah komunitas basket Indonesia usai dikonfirmasi adiknya, Mayerni, melalui grup media IBL bahwa Tjetjep Firmansyah telah menarik napas terakhir di Rumah Sakit Polri, Jakarta. Almarhum dikenal sebagai sosok pelatih bertangan dingin yang berhasil mengantarkan Aspac ke puncak kejayaan era Kobatama dengan tiga gelar juara berturut-turut pada 2000, 2001, dan 2002.
Prestasi itu tak berhenti di level klub. Kepercayaan pengurus PB Perbasi untuk mempercayakan bendera timnas putra membuahkan hasil manis: medali perunggu di SEA Games Brunei Darussalam, lalu medali perak historis di SEA Games Kuala Lumpur 2001 — pertama kali timnas putra Indonesia meraih posisi runner-up di ajang bergengsi tersebut.
Latar belakang keberhasilan Tjetjep sebagai pelatih justru kontras dengan jejaknya sebagai pemain. Berbeda dengan kakaknya Bambang Hermansyah dan adiknya Ali Budimansyah yang keduanya menjadi legenda basket tanah air, karier bermain Tjetjep hanya berkutat di Mitra Guntur dan Indonesia Muda Jakarta tanpa pernah merajai liga utama.
Kendati demikian, pengalaman bermain di level nasional justru menjadi fondasi pemahaman taktisnya. Beliau dikenal mengedepankan disiplin pertahanan dan manajemen tempo pertandingan — ciri khas yang membedakan Aspac dari lawan-lawan lain pada era emas klub itu.
Aspac yang kemudian berganti nama menjadi Stapac sempat melanjutkan warisan Tjetjep sebelum resmi bubar pada 2021. Kebubaran klub yang pernah jadi markas kekuasaan basket Indonesia meninggalkan kenangan pahit sekaligus pertanyaan tentang regenerasi klub berbasis korporat di era IBL modern.
Meninggalnya Tjetjep menutup babak generasi pelatih "old school" yang lahir dari sistem Kobatama dan bertransisi ke era profesional IBL. Beliau bagian dari kelompok pelatih seperti Octaviarro Romely Tammara, Antonius Ferry Rinaldo, dan Wahyu Widayat Jati yang membentuk fondasi basket Indonesia modern.
Di sisi lain, kepergian beliau mengingatkan betapa rapuhnya dokumentasi sejarah basket nasional. Banyak catatan prestasi era Kobatama yang belum terarsip dengan baik, sementara para pelaku sejarah seperti Tjetjep perlahan pergi tanpa sempat menuliskan memoar atau mengajar secara formal ke generasi muda.
Mayerni, adik almarhum, hanya menyampaikan pesan singkat berharap amal ibadah saudaranya diterima Allah SWT. Tak ada informasi resmi soal penyebab kematian maupun jadwal pemakaman hingga berita ini diterbitkan, mengingat keluarga memilih menjaga kerahasiaan saat berduka.
Komunitas basket Indonesia, dari mantan pemain Aspac seperti Youbel Sondakh, Dimaz Muharri, hingga pelatih muda IBL, menyuarakan belasungkawa lewat media sosial. Banyak yang mengingat Tjetjep sebagai sosok pelatih yang keras di lapangan tapi hangat di luar lapangan — figur ayah yang membimbing anak didiknya bukan hanya soal basket, tapi karakter.
Ke depan, warisan Tjetjep Firmansyah seharusnya jadi bahan evaluasi bagi Perbasi dan IBL: bagaimana menghormati jasa pelaku sejarah sambil membangun sistem regenerasi pelatih yang berkelanjutan. Nama Tjetjep Firmansyah akan selalu terukir sebagai arsitek emas Aspac dan penuntun timnas meraih medali perak pertama di sejarah SEA Games.