Keluarga besar Persija Jakarta tengah diselimuti duka mendalam atas berpulangnya mantan asisten pelatih, Isman Jasulmei. Kabar kepergian sosok yang memiliki dedikasi tinggi bagi perjalanan Macan Kemayoran ini dikonfirmasi langsung oleh manajemen klub melalui kanal media sosial resmi pada Senin (28/9).
Isman Jasulmei bukan sekadar staf pelatih biasa bagi Persija. Namanya tercatat dengan tinta emas dalam sejarah klub, terutama saat mengawal tim ibu kota menjuarai kompetisi Liga Indonesia tahun 2001. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu momen paling ikonik dalam perjalanan panjang Persija, di mana Isman bekerja bahu-membahu bersama mendiang pelatih legendaris, Sofyan Hadi.
Dalam narasi yang disampaikan pihak manajemen, kontribusi Isman dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Macan Kemayoran. Ia dikenal sebagai sosok yang memahami filosofi permainan Persija dan mampu menterjemahkan strategi taktis di lapangan secara efektif. Kepergiannya meninggalkan celah emosional bagi para pelaku sepak bola nasional yang pernah bekerja sama dengannya.
Dedikasi Isman tidak berhenti pada satu era saja. Setelah kesuksesan di tahun 2001, ia diketahui kembali mengabdi dalam beberapa periode kepelatihan yang berbeda. Konsistensi ini menunjukkan loyalitas tinggi yang ia berikan bagi klub, sebuah sikap yang jarang ditemukan dalam dinamika sepak bola profesional yang cenderung berubah cepat.
Bagi para pendukung setia Persija atau The Jakmania, nama Isman Jasulmei merupakan simbol dari masa kejayaan awal milenium. Memori tentang racikan taktik yang solid saat itu sering kali menjadi referensi bagi generasi suporter yang lebih muda untuk memahami betapa kuatnya pondasi Persija di masa lalu.
Di luar lapangan hijau, sosok Isman dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan mudah bergaul. Beberapa kenalan dan mantan anak asuhnya mengenang beliau sebagai sosok yang sering terlihat di sekitar kawasan Ragunan, tempat yang menjadi saksi bisu dedikasinya dalam membina talenta-talenta muda serta menjaga kebugaran fisik para pemain.
Kehilangan sosok seperti Isman Jasulmei menjadi pengingat bagi industri sepak bola Indonesia akan pentingnya menghargai jasa para tokoh di balik layar. Sering kali, sorotan publik hanya terfokus pada pemain bintang, namun keberhasilan sebuah tim tidak mungkin tercapai tanpa peran asisten pelatih yang telaten dalam mengolah strategi dan mentalitas.
Sepak bola Indonesia memang tengah berupaya memperbaiki ekosistem kepelatihan secara profesional. Kasus Isman Jasulmei menjadi cerminan bahwa sejarah sebuah klub besar dibangun oleh orang-orang yang bekerja dengan hati. Penghormatan yang diberikan Persija hari ini merupakan bentuk apresiasi yang sangat layak bagi mereka yang telah memberikan hidup untuk olahraga.
Dalam pernyataan resminya, Persija menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi tanpa henti yang telah diberikan almarhum. "Satu nama yang akan selalu menjadi bagian dari cerita Macan Kemayoran," tulis pihak klub dalam unggahan penghormatan terakhir tersebut.
Respons publik di kolom komentar media sosial pun mencerminkan betapa dihormatinya almarhum. Ratusan doa dipanjatkan oleh warganet, mulai dari suporter hingga rekan sejawat di dunia kepelatihan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa warisan Isman bukan sekadar gelar juara, melainkan hubungan baik yang ia bangun selama hidupnya.
Ke depan, memori mengenai figur-figur seperti Isman diharapkan tetap terjaga dalam arsip sejarah klub. Dokumentasi mengenai kontribusi para asisten pelatih dan staf pendukung sangat krusial untuk edukasi bagi pelatih-pelatih muda Indonesia yang ingin meniti karier di liga profesional.
Sepak bola Indonesia kini kehilangan salah satu sosok yang memegang teguh prinsip kerja keras. Meskipun raga telah tiada, nilai-nilai sportivitas dan loyalitas yang ditanamkan Isman Jasulmei akan terus hidup, menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus menjaga marwah sepak bola nasional.