Roberto Mancini kembali menjadi nahkoda Timnas Italia. Pelatih berusia 62 tahun itu resmi diperkenalkan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada Rabu, 29 Juli 2026, di Roma sebagai pengganti Gennaro Gattuso yang mundur setelah gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2026.
Kontrak berdurasi empat tahun disodorkan kepada Mancini. Ia pun langsung memasang target tinggi. Dalam jumpa pers perdananya, ia menyatakan ingin mempersembahkan setidaknya dua trofi bagi Gli Azzurri selama periode keduanya bekerja.
Ini bukan pertama kalinya Mancini datang pada situasi sulit. Pada 2018, ia menerima tawaran melatih Italia ketika tim itu baru saja gagal lolos ke Piala Dunia 2018 – sebuah kejutan besar bagi raksasa sepak bola Eropa.
Hasilnya di luar dugaan. Mancini mengubah wajah Italia menjadi tim yang atraktif dan solid. Puncaknya, ia membawa Italia juara Piala Eropa 2020 setelah mengalahkan Inggris di final Wembley. Ia juga mencatat rekor 37 pertandingan tak terkalahkan beruntun, sebelum rekor itu dihentikan Spanyol di Piala Dunia 2026.
Namun, kesuksesan itu tak berlanjut. Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Kekalahan memalukan dari Makedonia Utara di babak playoff membuat Mancini memutuskan mundur pada 2023.
Kini, Italia benar-benar berada di titik terendah. Tiga edisi Piala Dunia berturut-turut tanpa kehadiran Italia – 2018, 2022, dan 2026 – menjadi catatan hitam yang sulit dihapus. Gattuso yang didapuk sebagai penyelamat ternyata tak mampu membalikkan keadaan.
FIGC pun kembali memanggil Mancini. Ia dianggap sebagai sosok paling tepat untuk membangkitkan kembali kejayaan Italia. Pengalaman dan rekam jejaknya dinilai sejalan dengan kebutuhan regenerasi tim.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nama Mancini bukanlah asing. Ia adalah salah satu pelatih Eropa yang paling dikagumi, terutama setelah membawa Italia juara Euro 2020. Kisah bangkitnya Italia di bawah Mancini bisa menjadi pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia yang kerap kali berganti pelatih tanpa arah yang jelas.
"Pada periode pertama saya melatih di sini lima tahun. Saya sangat bahagia, dalam peran yang saya sukai. Sekarang kami meneken kontrak empat tahun, semoga saya bisa memenangi 1-2 trofi, dan mudah-mudahan bisa tetap bertahan lebih lama, jika memungkinkan," ujar Mancini dalam konferensi pers, dikutip Football Italia.
Ia juga percaya diri dengan materi pemain yang ada. "Saya yakin para pemain Italia memiliki komposisi untuk bersaing dengan tim-tim kuat lainnya. Kami bisa meraih gelar di ajang mana pun," tegasnya.
Selama empat tahun ke depan, Italia akan menghadapi tiga ajang besar: UEFA Nations League, kualifikasi Piala Eropa 2028, dan kualifikasi Piala Dunia 2030. Semua itu menjadi panggung bagi Mancini untuk membuktikan bahwa periode suksesnya dulu bukan sekadar kebetulan.
Keputusan FIGC memulangkan Mancini juga menjadi isyarat bahwa stabilitas adalah kunci. Indonesia, yang hingga kini masih berkutat dengan masalah konsistensi performa tim nasional, bisa belajar dari pendekatan jangka panjang yang ditawarkan Mancini. Jika Italia berhasil bangkit, kisah ini akan menjadi inspirasi bagi negara-negara yang sedang membangun kembali sepak bolanya.