Olahraga

Makhachev Hancurkan Rekor Silva, Ukir 17 Kemenangan Beruntun di UFC

Ringkasan

  • Islam Makhachev mengalahkan Ian Machado Garry di UFC 330 dan memecahkan rekor 16 kemenangan beruntun milik Anderson Silva yang bertahan 14 tahun.

Islam Makhachev resmi mengukir namanya di buku sejarah UFC sebagai pejuang dengan kemenangan beruntun terpanjang. Di laga utama UFC 330, pejuang Dagestan itu mengalahkan Ian Machado Garry lewat keputusan juri seragam setelah lima ronde penuh tegangan. Kemenangan itu membawanya ke angka 17, melampaui rekor Anderson Silva yang berdiri sejak 2012.

Lawan Garry terbukti jauh lebih sulit dari yang diperkirakan. Peboxin Ireland itu berhasil menetralisasi grappling khas Makhachev di ronde-ronda awal, memaksa juara kelas welter bertarung di zona nyaman lawan. Namun pengalaman dan kecerdasan tarung Makhachev menentukan jalannya laga di menit-menit kritis. Ia mengendalikan jarak, mencatat takedown penting di ronde keempat, dan mengakhiri pertarungan dengan dominasi posisi di atas.

Torehan 17 kemenangan beruntun ini bermula dari kekalahan tunggal karier Makhachev — tendangan kepala Adriano Martins di UFC 192, Oktober 2015. Setelah itu, ia bangkit dengan menang atas Chris Wade di April 2016. Mulai titik itu, tidak ada satu pun pejuang yang mampu menghentikan roda geraknya. Daftar korban mencakup nama-nama besar: Drew Dober, Arman Tsarukyan, Thiago Moises, Dan Hooker, hingga tiga bekas juara Charles Oliveira, Alexander Volkanovski, dan Dustin Poirier.

Peran Khabib Nurmagomedov tak bisa dipisahkan dari transformasi ini. Setelah menggantung sarung tinju Oktober 2020, Khabib fokus melatih rekan satu timnya. Di bawah bimbingan mantan juara tak terkalahkan itu, Makhachev menyempurnakan transisi striking-ke-grappling yang jadi tanda tangan tim American Kickboxing Academy. Khabib juga mengelola karir protezenya dengan cermat, memilih lawan yang membangun momentum menuju gelar.

Naik kelas ke welterweight menjadi langkah strategis yang berani. Makhachev debut di divisi 170 pon dengan menantang Jack Della Maddalena, striker berbahaya yang belum pernah kalah di UFC. Laga itu berakhir dengan rear-naked choke di ronde kedua, membuktikan kekuatan grappling Makhachev tetap efektif melawan lawan lebih besar. Pertahanan gelar pertama melawan Garry menegaskan dominasinya lintas divisi.

Bagi lanskap MMA global, rekor ini menggeser narasi "Greatest of All Time". Anderson Silva lama dianggap standar keunggulan dengan 16 kemenangan beruntun plus 10 pertahanan gelar kelas menengah. Makhachev kini memegang rekor kemenangan beruntun, dua gelar di dua kelas berat berbeda, dan catatan 27-1. Argumen untuk menempatkan di atas Silva, Georges St-Pierre, atau Jon Jones semakin kuat.

Di Indonesia, perkembangan ini diikuti dekat komunitas MMA yang berkembang pesat sejak era ONE Championship dan Road to UFC. Banyak atlet muda Indonesia — seperti Angelo Bimoadji atau Windri Patilima — yang menjadikan gaya tekanan konstan Makhachev sebagai referensi pelatihan. Popularitas UFC di platform streaming lokal juga melonjak setiap kali Makhachev bertarung, menunjukkan basis penggemar yang solid.

Sisi bisnis pun merasakan dampaknya. Dana White, presiden UFC, sudah menandai Makhachev sebagai bintang global pasca-era Conor McGregor dan Khabib. Pay-per-view UFC 330 dilaporkan melebihi 800.000 pembelian, angka tertinggi tahun ini. Sponsor utama seperti Venum dan Crypto.com memperpanjang kontrak jangka panjang dengan tim Eagle FC, memanfaatkan daya tarik pasar Asia Tengah dan Asia Tenggara.

"Islam bukan hanya pejuang terbaik saat ini, dia mengubah cara orang memandang keunggulan di MMA," ujar Javier Mendez, ketua AKA, usai laga. "Dia tak pernah mencari jalan pintas. Setiap lawan adalah ujian baru, dan dia selalu lulus." Kutipan itu mencerminkan mentalitas yang dibangun sejak era Khabib: disiplin, rendah hati, dan fokus proses.

Masa depan menanti tantangan baru. Belal Muhammad, juara interim welterweight, sudah menantang Makhachev untuk laga penyatuan gelar. Di kelas ringan, Islam Makhachev — tidak, Islam Makhachev sudah meninggalkan divisi 155 pon, membuka peluang bagi Arman Tsarukyan atau Charles Oliveira merebut sabuk kosong. Sementara itu, rumor super fight melawan Alex Pereira di kelas berat tengah terus beredar.

Apapun lawan berikutnya, satu hal pasti: rekor 17 kemenangan beruntun bukan titik akhir. Makhachev baru berusia 33 tahun, masih di puncak fisik dan teknis. Dengan tim pelatih terbaik di dunia dan mentalitas juara yang ditekuni sejak kecil di pegunungan Dagestan, angka itu masih bisa bertambah. Sejarah MMA sedang ditulis ulang, dan Islam Makhachev memegang pena.

Mengapa Ini Penting

Rekor ini mengubah lanskap perdebatan GOAT di MMA karena Makhachev menggabungkan dominasi lintas divisi dengan kemenangan beruntun terpanjang — kombinasi yang tak dimiliki Silva, GSP, atau Jones. Bagi Indonesia, gaya tekanan grappling Makhachev jadi referensi teknis bagi atlet muda di gym-gym MMA Jakarta, Bali, dan Surabaya. Secara komersial, popularitas Makhachev mendorong angka penayangan UFC di platform streaming lokal, menciptakan peluang sponsor baru untuk industri olahraga kontak domestik. Jangka panjang, keberhasilannya membuktikan model pengembangan atlet berbasis tim (AKA/Eagle FC) superior dari pendekatan individual, pelajaran berharga untuk federasi tinju dan bela diri Indonesia.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
16 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit