Olahraga

Mac Allister Liverpool: Gemilang di Piala Dunia, Diragukan Jelang Era Iraola

Ringkasan

  • Alexis Mac Allister menghadapi fase transisi di Liverpool bersama pelatih Andoni Iraola usai tampil gemilang di Piala Dunia 2026 meski kebugarannya diragukan jelang Premier League.

Alexis Mac Allister memasuki fase transisi di Liverpool bersama pelatih anyar Andoni Iraola, menyusul penampilan mengecewakan pada musim 2025-26 yang terganggu cedera sejak awal. Meski demikian, perannya yang gemilang bersama Argentina di Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa gelandang asal Argentina tersebut masih menjadi aset berkelas dunia, kendati kebugarannya di awal musim depan Premier League diragukan.

Pemain yang akrab disapa "Macca" itu menjadi sorotan setelah Argentina melaju ke semifinal Piala Dunia. Ia tampil sebagai pilar utama tim Tango, hanya absen pada laga pamungkas fase grup yang sudah tidak menentukan hasil. Mac Allister mencatatkan 539 menit bermain, memenangkan 31 duel, melakukan 10 tekel, sembilan intersep, dan 208 kali tekanan tinggi. Statistik tersebut menempatkannya di papan atas performa turnamen, hanya kalah dari kiper Emiliano Martinez dalam hal total menit bermain.

Musim lalu merupakan titik terendah bagi Mac Allister sejak bergabung dengan Liverpool dari Brighton dengan mahar 35 juta poundsterling pada 2023. Ia mengakui kampanye 2025-26 berada di bawah standar yang biasa ia tetapkan, terutama karena masalah cedera di awal musim. Padahal, pada 2025, ia menjadi bagian integral dari tim peraih gelar Premier League di bawah arahan Arne Slot. Momen haru terjadi saat peluit panjang berbunyi dan Mac Allister menangis di bangku cadangan, sementara perayaan di Anfield akibat golnya mencatatkan getaran 1,74 pada skala Richter.

Kini, era baru dimulai dengan hadirnya Andoni Iraola sebagai pelatih kepala Liverpool. Keberhasilan Mac Allister tampil impresif di Piala Dunia melegakan Iraola, meski sang pelatih harus menunggu lebih lama untuk berlatih langsung dengannya. Regulasi FIFA memberikan minimal tiga pekan libur bagi pemain Piala Dunia. Siapa pun yang bermain pada akhir pekan ini baru akan kembali ke klub pada 10 Agustus, kurang dari dua pekan sebelum Premier League bergulir.

Situasi ini memunculkan tanda tanya mengenai masa depan Mac Allister di Anfield. Kontraknya masih menyisakan dua musim dari kesepakatan lima tahun yang diteken pada 2023. Hingga saat ini belum ada pembicaraan perpanjangan kontrak, berbeda dengan Dominik Szoboszlai yang sedang negosiasi, atau Ryan Gravenberch yang sudah meneken kontrak baru pada Mei. Jika tidak ada rencana ekstensi, Liverpool diprediksi mempertimbangkan tawaran klub lain, mirip dengan keputusan melepas Luis Diaz ke Bayern Munich musim panas lalu.

Bagi penggemar Liverpool di Indonesia, dinamika ini menjadi bahan diskusi hangat di komunitas suporter. Fenomena pemain Amerika Selatan yang langsung menghadapi tekanan Premier League usai turnamen panjang merupakan dilema tersendiri. Di Tanah Air, di mana Liga 1 kerap mengeluhkan padatnya jadwal, ketangguhan mental Mac Allister menjadi pelajaran berharga. Ia tercatat sebagai satu-satunya pemain dengan 12 penampilan Piala Dunia dan memenangkan seluruh laga tersebut, rekor yang menunjukkan level konsistensi jarang dimiliki pemain lokal.

Tren meroketnya valuasi gelandang di pasar transfer global turut diamati pengamat olahraga Indonesia. Melepas pemain sekaliber Mac Allister bukan keputusan mudah mengingat harga pemain tengah terus naik. Bagi industri sepak bola Indonesia yang mulai mencanangkan profesionalisme, strategi Liverpool dalam mengelola aset kontrak dan masa pakai pemain menjadi studi kasus menarik tentang menjaga keseimbangan antara performa dan bisnis.

Mac Allister pernah menyebut posisi nomor delapan atau dua gelandang bertahan sebagai posisi terbaiknya, meski mengklaim bisa bermain di mana saja. Pernyataan tersebut disampaikan kepada ESPN bulan lalu. Fleksibilitas ini menjadi pertimbangan bagi Iraola, yang menginginkan gelandang serba bisa untuk mendukung sistem pressing tinggi dan permainan langsung. "Intinya selalu tentang kemenangan," tegas Mac Allister usai Argentina mengalahkan Swiss di perempat final, di mana ia turut mencetak gol.

Ikatan emosional Mac Allister dengan Liverpool sangat kuat. Ia begitu dekat dengan mantan pelatih Juergen Klopp, hingga rekan setimnya kerap bercanda bahwa Klopp seperti ayahnya. Ia menyebut Arne Slot sebagai "jembatan sempurna" setelah Klopp pergi, serta memuji dukungan pelatih asal Belanda itu di luar lapangan. Dalam esai di The Players Tribune pada Agustus 2025, Mac Allister menulis, "Ini bukan sekadar sepak bola. Ini bukan sekadar klub, ini keluarga kami, kenangan kami, warisan kami... dan kita harus menjaganya."

Langkah selanjutnya bagi Mac Allister adalah menghadapi semifinal Piala Dunia melawan Inggris, negara yang menjadi rumahnya sejak 2020 saat membela Brighton. Hasil laga tersebut akan menentukan kapan ia kembali ke Liverpool. Iraola memiliki tugas krusial membangun kembali kepercayaan diri Mac Allister dan mengembalikan performanya seperti saat merebut gelar liga dua tahun lalu.

Musim depan menjadi ujian nyata apakah kampanye 2025-26 hanyalah anomali atau awal penurunan. Mengingat usianya yang menginjak 27 tahun, Mac Allister masih berada di fase prima kariernya. Hubungan harmonis dengan Iraola diprediksi menjadi kunci, mengingat kedua belah pihak berharap catatan buruk musim lalu tidak terulang dan lebih banyak memori indah diciptakan di Anfield.

Menatap ke depan, Mac Allister tetap menjadi bagian dari proyek jangka panjang Liverpool jika manajemen memutuskan untuk tidak melepasnya. Namun, dengan tekanan tinggi dari sistem Iraola dan jadwal padat usai Piala Dunia, adaptasi cepat wajib dilakukan. Bagi pendukung setia, kehadiran "Macca" di lini tengah masih menjadi jaminan kualitas dan pengalaman di atas lapangan.

Mengapa Ini Penting

Penggemar sepak bola Indonesia, khususnya pendukung Liverpool, kerap menjadi barometer tren taktik Eropa, sehingga transisi Mac Allister ke sistem Iraola menawarkan studi kasus nyata tentang adaptasi pemain terhadap pelatih baru. Valuasi pemain tengah yang meroket di pasar global juga memberikan pelajaran bagi klub lokal mengenai manajemen aset kontrak jangka panjang di tengah jadwal internasional yang padat. Ketangguhan mental Mac Allister usai cedera dan turnamen panjang dapat menginspirasi pengembangan psikologi olahraga di akademi sepak bola Tanah Air. Terlebih lagi, fenomena kelelahan pemain pasca-Piala Dunia mempertegas urgensi reformasi kalender kompetisi FIFA yang kerap merugikan persiapan klub menjelang musim baru.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit