Buenos Aires — Ribuan warga Argentina menyambut pulangnya timnas ke ibu kota pada Selasa (21/7) lalu, hanya sehari setelah La Albiceleste tumbang 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium. Hujan deras dan udara dingin tidak mengurangi semangat suporter yang berbaris di pinggir jalan menunggu arak-arak bus atap terbuka yang mengangkut para pemain.
Kepala tim Lionel Scaloni dan seluruh skuad tidak bisa menahan air mata saat menerima medali runner-up di lapangan. Namun di Buenos Aires, suasana berubah: sorak-sorai menggantikan ratap tangis. Alexis Mac Allister, gelandang Liverpool yang menjadi salah satu pilar tim, kemudian menuangkan perasaannya melalui unggahan Instagram yang viral.
"Ada momen-momen yang akan selalu terukir dalam hidup dan hati kami," tulis Mac Allister. Ia membandingkan dua gambar tak terlupakan: perayaan kemenangan 2022 di jalanan Buenos Aires, dan sambutan hangat kali ini meski tim pulang tanpa Piala. "Yang pertama adalah ketika, setelah menerima medali runner-up, warga Argentina di stadion bersorak gembira. Keluarga, teman, dan penggemar membuat perayaan lainnya tampak tidak berarti."
Gambar kedua, lanjutnya, adalah sambutan di ibu kota. "Hujan dan dingin, tetapi dengan cinta untuk negara kami dan untuk tim ini yang tidak dapat diremehkan. Maaf jika saya mengatakan ini, tetapi kalian semua benar-benar gila dan kami menyukainya!" ungkap pemain berusia 25 tahun itu dengan nada hangat.
Kekalahan di final menjadi pukulan berat bagi Argentina yang berusaha mempertahankan gelar juara dunia pertama sejak 1986. Spanyol, dibimbing oleh generasi emas baru mereka, mencatatkan sejarah dengan gelar dunia pertamanya. Gol tunggal yang menentukan pertandingan tercipta di menit ke-67 melalui penalti yang dieksekusi sempurna oleh Lamine Yamal.
Meski kalah, performa Argentina sepanjang turnamen tetap patut dihargai. Tim tango menundukkan Prancis di perempat final lewat adu penalti dramatis, lalu mengalahkan Brasil di semifinal dengan skor tipis 2-1. Mac Allister sendiri mencetak tiga gol dan memberikan dua assist dalam tujuh pertandingan, menegaskan posisinya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.
Pesan Mac Allister mengandung nuansa kepemimpinan yang langka pada pemain muda. "Mari kita menangis, karena kita orang Argentina dan kita selalu ingin menang. Namun setelah menangis, mari kita bangkit, bersatu, dan maju, karena ini belum berakhir," tulisnya. Frasa penutup — kutipan dari ibunya soal tidak takut pada pertandingan ulang — menjadi sorotan media internasional.
Kendati demikian, masa depan timnas Argentina penuh tanda tanya. Lionel Messi, berusia 39 saat Piala Dunia 2026 berlangsung, belum memastikan apakah akan melanjutkan perjalanan internasionalnya. Angel Di Maria dan Nicolas Otamendi juga sudah melangkah ke usia 38 dan 37 tahun. Transisi generasi menjadi tugas berat bagi Scaloni di empat tahun mendatang.
Di sisi lain, Spanyol tampil sebagai kekuatan baru yang menakutkan. Rata-rata usia skuad mereka di bawah 25 tahun, dengan Yamal (19), Pedri (23), dan Gavi (21) membentuk tulang punggung tim untuk dekade ke depan. Keberhasilan La Roja mematahkan dominasi Argentina-Prancis-Brazil di panggung dunia menandai pergantian era.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Argentina menawarkan pelajaran tentang mentalitas juara. Meskipun gagal mempertahankan gelar, kemampuan tim untuk bangkit dari kekecewaan 2018, menang di Copa America 2021 dan 2024, lalu Piala Dunia 2022, membuktikan bahwa konsistensi membutuhkan proses panjang. Mac Allister dan generasinya — Julian Alvarez, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister — sudah siap memikul beban.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) telah menandatangani kontrak baru dengan Scaloni hingga 2028, sinyal jelas bahwa proyek jangka panjang tetap dijaga. Kualifikasi Piala Dunia 2026 akan dimulai September mendatang, dan La Albiceleste akan berlaga tanpa tekanan sebagai juara bertahan — tapi dengan rasa ingin tahu dunia: apakah mereka bisa bangkit seperti janji Mac Allister?