Chef de Mission Kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, menyebut pembagian akomodasi atlet oleh panitia Jepang sebagai tantangan serius yang bisa memengaruhi performa tim. Pernyataan tersebut disampaikan saat meninjau persiapan atlet atletik Maria Natalia Londa di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Kamis (16/7), menjelang keberangkatan ke Nagoya tahun depan.
Todotua tidak menampik bahwa kesiapan fisik dan mental atlet menjadi prioritas. Namun, ia menekankan bahwa sistem penempatan peserta yang terfragmentasi di lokasi penyelenggaraan Aichi-Nagoya 2026 berpotensi mengganggu kekompakan kontingen. Hal ini berbeda dengan pola Asian Games sebelumnya di mana desa atlet berpusat di satu kawasan.
Asian Games 2026 akan berlangsung di Prefektur Aichi dan Kota Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober. Ajang ini mempertandingkan 41 cabang olahraga dengan partisipasi sekitar 15.000 atlet dari seluruh Asia. Indonesia menargetkan keikutsertaan lebih dari 400 atlet yang berlaga di 32 cabang olahraga.
Penyelenggara menyiapkan model akomodasi yang tidak lazim. Atlet tidak lagi menempati satu athlete village utuh, melainkan tersebar di unit kontainer, kapal pesiar sebagai floating village, hingga 25 hotel berbeda. Skema ini diambil panitia lokal karena keterbatasan lahan dan efisiensi biaya infrastruktur permanen.
Bagi Indonesia, fragmentasi akomodasi menciptakan masalah operasional. Koordinasi antarpelatih, manajer, dan atlet terhambat oleh jarak antarlokasi menginap. Waktu istirahat dan pemulihan pascapertandingan rentan terganggu oleh mobilitas yang tinggi di dalam kota penyelenggara.
Todotua sudah memastikan rute penerbangan dan masa istirahat atlet di Jepang diatur sebaik mungkin. Ia berkoordinasi dengan Garuda Indonesia sebagai maskapai resmi agar jadwal kedatangan tidak terlalu jauh dari hari pertandingan. Atlet dijadwalkan tiba dua hingga tiga hari sebelum tampil agar adaptasi zona waktu berjalan optimal.
Kondisi ini membedakan Asian Games 2026 dari pengalaman Indonesia saat menjadi tuan rumah atau saat bertanding di venue terpusat. Di Indonesia, venue olahraga multievent seperti PON biasanya memusatkan atlet demi efisiensi komunikasi. Nagoya justru memaksa kontingen beradaptasi dengan logistik menyebar.
Dampaknya tidak hanya menyentuh aspek teknis. Psikologis atlet andalan seperti Maria Natalia Londa, peraih emas SEA Games 2025, perlu dijaga agar tidak terisolasi dari rekan kontingen lain. Kehadiran pendamping dan sistem komunikasi internal menjadi krusial untuk meminimalkan efek pemecahan lokasi menginap.
"Harapannya kita bisa menyumbangkan medali sebanyak dan sebaik mungkin. Target untuk medali di Asian Games ini memang sudah ada dan ditetapkan oleh Kemenpora," ucap Todotua. Ia menambahkan bahwa strategi mitigasi tengah disusun agar atlet tetap bertanding maksimal meski fasilitas terpecah.
"Persiapan dari panitia dan tuan rumah di Nagoya-nya masih belum maksimal. Khususnya mengenai keberadaan athlete village itu, mereka kalau biasanya ditaruh di satu tempat ini dipecah-pecah," jelasnya. Todotua juga menyoroti penggunaan kapal pesiar dan kontainer yang menurutnya memiliki celah untuk dimaksimalkan.
Ke depan, kontingen Indonesia akan merancang protokol pergerakan antarvenue dan posko komando mobile. Pendekatan ini diharapkan menjawab tantangan geografis akomodasi Jepang. Todotua memandang skema unik Nagoya sebagai bagian dari dinamika multievent yang harus diikuti.
Langkah serupa kemungkinan menjadi referensi bagi Indonesia jika kelak mengajukan diri sebagai tuan rumah Asian Games kembali. Evaluasi atas model terapung dan terdistribusi ini dapat memperkaya strategi logistik nasional. Persiapan 14 bulan ke depan akan menentukan apakah fragmentasi akomodasi menjadi kendala atau justru pelajaran berharga.