Luke Littler, pemain berusia 19 tahun, kembali menegaskan dominasinya di World Matchplay dengan penampilan sensasional. Dalam final di Blackpool, ia mengalahkan Gerwyn Price dengan skor 18-9, menjadi hanya pemain ketiga yang sukses mempertahankan gelar tersebut dua tahun beruntun.
Pertandingan tersebut sekaligus menjadi panggung bagi Littler untuk menghancurkan rekor rata-rata yang telah lama dipegang Phil Taylor. Dengan rata-rata 111.04 selama turnamen, ia mengungguli catatan Taylor sebesar 106.31 yang tercipta pada 2010. Penampilan di final yang lebih impresif lagi, rata-rata 111.53, bahkan memecahkan rekor rata-final Taylor (111.23) saat mengalahkan Adrian Lewis pada 2013.
Gelar ini membawa pulang hadiah uang tunai sebesar £225.000, sehingga total penghasilan Littler dalam dua tahun order of merit PDC mencapai £3.143.500. Angka tersebut membuatnya unggul £2.13 juta dari Luke Humphries yang berada di peringkat kedua.
"Ini adalah minggu yang gila, salah satu minggu terbaik dalam hidup saya dengan permainan darts," kata Littler kepada Sky Sports. "Statistik mungkin terlihat mudah, tetapi saat Anda berada di panggung ini dengan kondisi yang hit, itu tidak mudah."
Price juga tampil gemilang di final dengan rata-rata 104.97. Prestasi ini membuatnya naik ke peringkat keempat dalam order of merit dan kembali merebut status pemain nomor satu Wales dari Jonny Clayton.
Kesuksesan Littler mencerminkan kebangkitan darts modern yang semakin populer di tingkat global. Turnamen seperti World Matchplay tidak hanya menarik perhatian penggemar setia, tetapi juga menarik minat penonton baru yang sebelumnya tidak mengenal olahraga ini.
Di Indonesia, darts masih belum menjadi olahraga arus utama. Meskipun ada komunitas pemain amatir di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, infrastruktur dan dukungan sponsor masih terbatas. Turnamen lokal seperti Indonesian Open Darts masih jarang mendapat perhatian media dibandingkan olahraga lain seperti sepak bola atau e-sports.
Namun, prestasi Littler di dunia internasional dapat menjadi katalisator bagi minat terhadap darts di Indonesia. Pemain muda Indonesia yang menyaksikan kebangkitan pemain muda Inggris ini mungkin termotivasi untuk mengejar karir di olahraga yang masih relatif baru di sini.
Selain itu, keberhasilan Littler menunjukkan pentingnya program pembinaan usia muda yang solid. Di Indonesia, banyak talenta darts berbakat yang tidak mendapatkan pelatihan profesional, sehingga potensi mereka tidak berkembang sepenuhnya.
Dari sisi industri, kesuksesan Littler dapat menarik minat sponsor yang sebelumnya mengabaikan darts. Perusahaan-perusahaan yang mencari olahraga alternatif untuk kampanye pemasaran mereka mungkin mulai mempertimbangkan darts sebagai pilihan yang layak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hadiah uang dan infrastruktur di tingkat global, termasuk di pasar potensial seperti Indonesia.
Ke depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak pemain muda seperti Littler yang memasuki kancah profesional. Kalender PDC mendatang menjanjikan lebih banyak pertandingan yang akan menjadi panggung bagi pemain baru untuk menulis cerita mereka sendiri, mungkin termasuk pemain asal Asia pertama yang bersaing di tingkat tertinggi.
Bagi penggemar darts di Indonesia, ini adalah pengingat bahwa olahraga ini sedang mengalami perubahan. Meskipun masih jauh dari popularitas sepak bola, kebangkitan global yang diwakili oleh Littler menawarkan secercah harapan bahwa darts suatu hari nanti bisa menjadi olahraga yang diakui secara luas, bahkan di pasar seperti Indonesia.
Secara keseluruhan, kemenangan Littler bukan hanya tentang rekor baru; ini adalah momen yang memperkuat posisi darts sebagai olahraga yang terus berkembang, yang dapat menginspirasi generasi pemain baru di seluruh dunia, termasuk di kepulauan Nusantara.