Luke Littler melangkah ke final World Matchplay untuk kedua kalinya secara beruntun setelah menaklukkan semifinal dengan rata-rata skor di atas 109 di setiap pertandingannya sepanjang turnamen tahun ini. Pemain berusia belasan tahun itu kini berpeluang menyamai rekor legenda Phil Taylor dan Michael van Gerwen sebagai satu-satunya juara bertahan yang berhasil mempertahankan gelar Matchplay.
Kemenangan terbarunya bukan sekadar meloloskan diri ke babak pamungkas. Catatan itu sekaligus memperpanjang rekor kemenangan beruntun Littler dalam pertandingan format panjang menjadi 28 laga beruntun untuk pertandingan dengan 20 leg atau lebih. Kekalahan terakhirnya dalam durasi pertandingan seperti itu terjadi saat ia menggebrak dunia dalam Kejuaraan Dunia 2024 dan harus puas sebagai runner-up setelah kalah dari Luke Humphries di final.
Rekor yang mengesankan itu menjadi penanda betapa konsistennya talenta muda ini dalam format pertandingan yang panjang dan melelahkan. Di World Matchplay, yang merupakan salah satu turnamen paling prestisius dalam kalender dart profesional, konsistensi semacam ini adalah aset tak ternilai. Littler tidak hanya unggul dalam satu atau dua momen krusial, tetapi mempertahankan level permainan elite dari awal hingga akhir turnamen.
Tantangan terberat kini datang dari finalis kedua, Gerwyn Price. Pemain Wales itu dikenal dengan sorakan dan atraksi panggungnya yang sering memancing reaksi serupa dari Littler. Namun, Littler menepis anggapan bahwa Price bisa "mengganggu konsentrasi" atau mempengaruhi emosinya di atas panggung.
Sepekan sebelum final, Price sempat melontarkan pernyataan bahwa beberapa pemain terlalu mudah memberikan keuntungan bagi Littler. Meski demikian, rekor pertemuan langsung berbicara sebaliknya. Littler telah memenangkan sembilan pertemuan terakhir melawan Price. Kekalahan terakhir Price dari Littler terjadi pada pertemuan pertama mereka di tahun 2026. Lebih kritis lagi, Price belum pernah sekali pun mengalahkan Littler dalam pertandingan yang berlangsung lebih dari 15 leg.
Fakta itu menjadi masalah besar bagi Price menjelang final best-of-35 yang panjang. Ia harus menemukan performa jauh di atas rata-rata untuk bisa mematahkan dominasi Littler dalam format pertandingan panjang. Sebaliknya, Littler tampak tenang dan fokus. "Saya dan Gez selalu menghasilkan pertandingan yang bagus. Gez akan mencoba memancing saya ke dalam pertarungan sorakan-sorakan," ujar Littler kepada Sky Sports. "Selama saya bisa mengambil keunggulan lebih dulu, itulah kuncinya."
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, kisah Littler menawarkan inspirasi tersendiri. Prestasinya menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai puncak dalam olahraga profesional. Di tanah air, komunitas penggemar dan pemain darts memang belum sebesar di Eropa, namun terus bertumbuh. Adanya figur seperti Littler, yang menjadi bintang di usia sangat muda, berpotensi memicu minat lebih luas, terutama di kalangan generasi muda.
Olahraga darts juga menunjukkan potensi sebagai produk hiburan olahraga yang kompetitif. Sifat pertandingannya yang dramatis, penuh momen krusial, dan bisa disaksikan secara langsung atau melalui streaming menjadikannya kandidat kuat untuk menarik perhatian penonton baru. Jika ada platform media olahraga Indonesia yang berani menayangkan turnamen-turnemen besar seperti World Matchplay, pasar penonton baru bisa terbuka.
Final yang akan berlangsung pada hari Minggu nanti bukan sekadar perebutan gelar. Ini adalah pertarungan antara generasi baru yang mendominasi dan mantan juara yang mencari kembali kejayaan. Bagi Littler, kemenangan akan mengukuhkan statusnya bukan sekadar sensasi sesaat, melainkan kekuatan jangka panjang dalam olahraga tersebut. Bagi Price, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia masih mampu mengalahkan lawan terberatnya di panggung terbesar.
Ke depannya, jalur karier Littler akan terus menjadi sorotan. Dengan rekor kemenangan beruntun yang ia bina, setiap turnamen yang ia ikuti akan membawa beban ekspektasi baru. Kemampuannya mengelola tekanan dan mempertahankan konsistensi dalam jangka panjang akan menentukan apakah ia benar-benar bisa menyamai atau bahkan melampaui pencapaian para legenda seperti Taylor dan Van Gerwen.
Apa pun hasil final nanti, satu hal sudah pasti: nama Luke Littler telah tertanam kuat dalam peta persaingan darts elite dunia. Final World Matchplay ini hanyalah salah satu babak dalam karier yang berpotensi panjang dan penuh gelar.