Dunia botani baru saja memberikan penghormatan istimewa bagi megabintang sepak bola Argentina, Lionel Messi. Sekelompok ilmuwan lintas negara resmi menamai spesies tumbuhan baru yang ditemukan di pegunungan Andes, Peru, sebagai Salvia messii. Penamaan ini bukan sekadar apresiasi terhadap karier gemilang sang pemain, melainkan bentuk pengakuan atas sosok fenomenal yang telah menjadi ikon global.
Penemuan ini dipublikasikan melalui studi akademis yang melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk Museum Sejarah Alam Universitas Nasional San Marco. Peneliti utama Paul Gonzalez, bersama ahli biologi Jean Capcha-Ramos dan peneliti Argentina Rolando Uria, memutuskan untuk menggunakan nama 'Messi' dengan mengikuti kaidah nomenklatur botani internasional. Penambahan akhiran 'i' pada nama tersebut secara teknis menunjukkan kepemilikan atau penghormatan dalam bahasa Latin.
Salvia messii merupakan bagian dari famili Lamiaceae atau yang lebih dikenal sebagai keluarga mint. Tumbuhan ini memiliki karakteristik unik, yakni mampu bertahan hidup di medan ekstrem lereng berbatu pegunungan Andes pada ketinggian antara 2.000 hingga 2.400 meter di atas permukaan laut. Kemampuan adaptasi tumbuhan ini sering kali dianalogikan oleh para peneliti sebagai cerminan ketangguhan Messi di lapangan hijau.
Secara visual, Salvia messii memiliki bunga dengan kombinasi warna biru muda dan putih. Warna ini secara kebetulan sangat menyerupai seragam kebanggaan Timnas Argentina yang dikenakan Messi selama hampir dua dekade. Detail kecil inilah yang menambah nilai emosional di balik penemuan ilmiah tersebut, menghubungkan dunia sains dengan euforia olahraga.
Namun, di balik kabar menggembirakan ini, terdapat catatan konservasi yang cukup serius. Salvia messii kini diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah. Lingkungan tempat tumbuhnya yang keras dan keterbatasan populasi menjadikannya subjek penelitian penting bagi para ahli botani untuk memastikan kelestarian flora endemik Andes tersebut di masa depan.
Fenomena pengabadian nama atlet dalam dunia taksonomi sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, beberapa tokoh olahraga dunia juga pernah mendapatkan kehormatan serupa. Kiper Tanjung Verde, Vozinha, namanya disematkan pada spesies moluska laut, sementara mantan kiper Real Madrid, Keylor Navas, diabadikan melalui nama spesies siput laut kecil pada 2019 silam. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh atlet melampaui batas stadion.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, tren penamaan spesies menggunakan nama tokoh populer bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi sains. Di Indonesia, kekayaan hayati yang melimpah sering kali belum dieksplorasi secara maksimal. Kolaborasi antara dunia olahraga dan sains seperti ini bisa memicu ketertarikan generasi muda untuk lebih peduli pada pelestarian keanekaragaman hayati lokal.
Indonesia sendiri memiliki ribuan spesies endemik yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Jika kita melihat pola yang dilakukan peneliti di Peru, ada potensi besar bagi ilmuwan lokal untuk melakukan branding terhadap penemuan spesies baru dengan melibatkan tokoh inspiratif nasional. Langkah ini efektif dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga ekosistem yang rentan.
Secara industri, keterlibatan nama besar dalam dunia sains juga dapat membuka akses pendanaan riset. Ketika sebuah spesies memiliki 'daya jual' melalui nama yang dikenal dunia, perhatian publik terhadap isu lingkungan biasanya akan meningkat tajam. Ini adalah strategi komunikasi sains yang cerdas untuk menjangkau audiens yang sebelumnya tidak peduli pada isu taksonomi.
Para peneliti yang terlibat dalam proyek Salvia messii berharap bahwa popularitas nama Messi akan membantu kampanye konservasi tanaman tersebut. Dengan statusnya yang terancam punah, perhatian global sangat dibutuhkan untuk melindungi habitat asli mereka dari dampak perubahan iklim dan gangguan aktivitas manusia yang tidak terkontrol.
Ke depan, proyek penamaan seperti ini diprediksi akan semakin sering dilakukan. Penggunaan nama tokoh ikonik terbukti ampuh sebagai alat promosi dalam dunia akademis untuk mendapatkan atensi masyarakat luas. Hal ini menjadi bukti bahwa sepak bola dan sains dapat berjalan beriringan untuk tujuan yang lebih besar, yakni pelestarian alam bagi generasi mendatang.
Sebagai langkah lanjutan, tim riset berencana melakukan pemantauan berkala terhadap populasi Salvia messii di pegunungan Andes. Fokus mereka adalah mengidentifikasi metode pembiakan yang tepat agar spesies ini tidak hilang dari muka bumi. Messi mungkin tidak pernah membayangkan namanya akan terus hidup di lereng berbatu Andes, namun warisan nama tersebut kini menjadi simbol baru dalam perjuangan menjaga keanekaragaman hayati dunia.