Gol tunggal Florian Thauvin di menit ke-32 jadi penentu laga di markas sendiri Lens. Striker berpengalaman itu menyelesaikan umpan silang Matthieu Udol dengan tenang di kotak penalti, membuat keeper Gianluigi Donnarumma tak berdaya. Kemenangan ini tidak hanya menghadirkan gelar juara pertama bagi Les Sang et Or, tapi juga memutus kendali PSG yang merajai ajang ini empat tahun beruntun.
Paris Saint-Germain sebenarnya menguasai laga secara statistik. Para bintang Les Parisiens merebut penguasaan bola 69 persen dan mencatat 22 tembakan — enam di antaranya tepat sasaran. Lens hanya mengumpulkan delapan tembakan dengan dua tepat sasaran. Efektivitas jadi kunci: dari dua peluang emas, Lens mengubah satu jadi gol. PSG tersandung ketidakmampuan mengeksploitasi dominasi, sebuah pola yang kerap menghantui klub ini di panggung besar.
Dinamika laga berubah drastis di menit ke-39. Kyllian Antonio, bek muda Lens, menerima kartu merah langsung usai menghajar Maghnes Akliouche di tengah lapangan. Keputusan wasit Jérôme Brisard memaksa Lens bermain dengan 10 orang selama hampir separuh laga. Pelatih Will Still harus mengorbankan struktur menyerang demi menutupi kekosongan di lini belakang, mengandalkan konter dan ketahanan mental pemain.
PSG gagal memanfaatkan keunggulan numerik. Luis Enrique mencoba mengubah alur dengan masukkan Bradley Barcola dan Marco Asensio, tapi lini depan PSG kekurangan kreativitas di ruang sempit. Ousmane Dembélé dan Khvicha Kvaratskhelia sering terjebak offside atau kehilangan bola di sektor akhir. Kegagalan mengubah dominasi jadi gol jadi cermin masalah klasik PSG: efisiensi di kotak lawan.
Keseimbangan numerik pulih di menit ke-85 saat Nuno Mendes terkena kartu merah usai menyikut Michal Skoras di luar duel bola. Kedua tim kembali bermain 10 lawan 10, tapi waktu sudah terlalu sedikit bagi PSG untuk menyamakan kedudukan. Lens bertahan dengan jantung, memblokir tembakan dan memaksa lawan ke sisi-sisi lapangan hingga wasit meniup peluit panjang.
Bagi Lens, kemenangan ini makna sejarah. Klub berusia 119 tahun ini belum pernah merasakan gelar juara tingkat nasional sejak didirikan 1906. Trofi Trophée des Champions menjadi bukti bahwa proyek Will Still — yang dibawa dari Reims musim lalu — mulai membuahkan hasil. Still memadukan disiplin taktis dengan semangat kolektif, mengubah tim yang musin lalu berakhir di posisi tengah klasemen jadi juara super cup.
Di sisi lawan, kekalahan ini menimbulkan tanda tanya awal musim bagi Luis Enrique. PSG baru saja kehilangan Kylian Mbappé ke Real Madrid, dan meski rekrutmen Dembélé, Kvaratskhelia, dan João Neves terlihat meyakinkan di kertas, kimia tim belum terbentuk. Kehilangan gelar pembuka musim bisa jadi tekanan psikologis sebelum Liga 1 dan Liga Champions bergulir.
Sejarah mencatat PSG tetap jadi raja ajang ini dengan 14 gelar, jauh mengungguli Lyon (8) dan Marseille (3). Tapi rentetan empat tahun beruntun — 2022, 2023, 2024, 2025 — terhenti di tangan tim yang mereka dominasi 90 menit. Ironis, PSG kalah bukan karena main buruk, tapi karena lawan lebih efisien dan berani mengorbankan estetika demi hasil.
Konteks Indonesia: pertemuan ini jadi sorotan bagi penggemar sepak bola tanah air yang mengikuti Liga 1 Prancis lewat platform streaming. Kehadiran pemain Indonesia di liga Prancis — seperti Eliano Reijnders di PEC Zwolle (Eredivisie) atau calon naturalisasi — membuat liga ini semakin dekat. Kemenangan Lens jadi pengingat: di sepak bola modern, efektivitas dan mentalitas juara sering mengalahkan statistik kepemilikan bola.
Will Still setelah laga mengakui keberuntungan berpihak, tapi menegaskan persiapan tim untuk skenario 10 orang sudah dilatih berbulan-bulan. "Kami tidak main untuk draw, kami main untuk menang," ujar pelatih berusia 31 tahun itu. Di sisi lain, Luis Enrique menolak mencari alibi kartu merah, menyerukan tim fokus pada debut Liga 1 kontra Le Havre pekan depan.
Proyeksi ke depan: Lens akan bawa momentum ini ke Liga 1 dengan target masuk zona Eropa. PSG wajib memperbaiki finishing dan transisi pertahanan-serangan sebelum fase liga Liga Champions dimulai September. Duel ini mungkin jadi pramusim yang paling bernilai bagi kedua tim: Lens belajar menang sebagai underdog, PSG belajar bangkit dari kekecewaan awal musim.