Lamine Yamal menolak terjebak dalam perang retorika politik yang dicetuskan Mariano Rajoy. Saat ditanya soal ejekan mantan Kepala Pemerintahan Spanyol itu terhadap timnas Prancis, gelandang sayap Barcelona justru memilih mengembalikan percakapan ke esensi sepak bola: persatuan. "Saya tidak berpikir ada ruang untuk pembicaraan macam itu," ujar Yamal dalam wawancara dengan La Nacion, Minggu (14/7) malam WIB.
Pernyataan Yamal muncul sehari sebelum laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol di Allianz Arena, Munich. Rajoy sempat mengunggah unggahan di media sosial yang menuding Prancis "tidak memiliki pemain Prancis" karena mayoritas skuad Didier Deschamps berbakat keturunan Afrika dan Karibia. Komentar itu seketika memicu pro dan kontra, mengingat Spanyol sendiri mengandalkan bintang keturunan seperti Yamal (keturunan Maroko-Guinea Ekuatorial) dan Nico Williams (keturunan Ghana).
Konteks di balik sindiran Rajoy tak lepas dari narasi identitas yang kerap dihadirkan Politik Spanyol saat menghadapi Prancis. Sejak era Zinedine Zidane hingga Kylian Mbappé, timnas Prancis selalu jadi target retorika soal "ke Prancis-an" pemainnya. Ironisnya, Rajoy melupakan bahwa La Roja versi Luis de la Fuente kini dibangun di atas fondasi keberagaman: Yamal lahir di Esplugues de Llobregat dari orang tua imigran, sedangkan Nico Williams lahir di Pamplona dari pelarian perang Liberia.
Respons Yamal menunjukkan kematangan di luar usianya (17 tahun). Ia tak membantah fakta komposisi timnas Prancis, justru mengakui itu sebagai kekuatan. "Bila sepak bola punya banyak tujuan, salah satunya menyatukan masyarakat. Tak ada contoh lebih baik selain Prancis dan kami," tegasnya. Frasa "kami" di sini merujuk pada Spanyol — negara yang kini memegang rekaman paling muda pencetak gol di sejarah Piala Dunia usai aksi Yamal melawan Prancis di babak 16 besar.
Dampak narasi ini melampaui lapangan hijau. Di Indonesia, di mana isu naturalisasi dan keturunan sering jadi perdebatan hangat saat timnas Garuda berlaga, sikap Yamal jadi teladan: identitas nasional tidak monolitik. Pemain seperti Rafael Struick, Calvin Verdonk, atau Jordi Amat dibawa bukan untuk "menggantikan" pemain lokal, melainkan memperkaya pilihan taktis — persis seperti peran Yamal dan Nico di sistem De la Fuente.
Analisis taktikal pun menarik. Prancis memang tak menyiapkan strategi khusus anti-Yamal sebagaimana diklaim media Prancis, tapi kehadiran William Saliba dan Dayot Upamecano di lini belakang Les Bleus akan menguji kemampuan Yamal berhadapan dengan fisikitas elit. Sebaliknya, Theo Hernandez di sayap kiri Prancis bakal jadi ujian bagi Nico Williams — duel keturunan Afrika yang mempertemukan dua gaya main kontras: kecepatan murni versus kreativitas teknis.
Dari perspektif industri, kisah Yamal-Rajoy memperkuat narasi "sepak bola tanpa batas" yang dijual FIFA dan UEFA ke sponsor global. Adidas, Nike, dan Puma semuanya mengangkat narasi keberagapan dalam kampanye Piala Dunia 2026. Bagi pasar Indonesia, ini berarti konten lokal yang mengusung tema "Bhinneka Tunggal Ika di Lapangan Hijau" punya peluang engagement tinggi, apalagi saat Liga 1 mulai menarik pemain keturunan berkualitas.
Sejarah mencatat Prancis 1998 (Zidane, Henry, Vieira) dan 2018 (Pogba, Mbappé, Kanté) juara dunia dengan skuad multietnis. Spanyol 2010 juara dengan tulang punggung Katalonia-Basque (Xavi, Iniesta, Puyol). Kini kedua negara bertemu di semifinal dengan komposisi yang justru lebih heterogen dari sebelumnya. Rajoy memilih membelah; Yamal memilih menyatukan.
Laga Rabu (15/7) dini hari WIB akan jadi uji nyata: apakah sepak bola benar-benar netral terhadap politik identitas? Yamal sudah menjawab dengan aksi — gol, assist, dan sikap. Sisanya, biarkan lapangan yang bicara.