Pembalap Formula 1 mulai melayangkan kritik tajam terhadap desain Sirkuit Madrid, Spanyol, yang dianggap tidak ramah untuk aksi saling salip. Max Verstappen, juara dunia empat kali, secara terang-terangan menyebut bahwa tata letak trek di area kompleks IFEMA tersebut memiliki masalah mendasar, terutama pada zona pengereman yang dirancang kurang ideal bagi mobil balap modern.
Ketidakpuasan Verstappen berpusat pada geometri tikungan dan zona pengereman yang memaksa pembalap untuk bermanuver sambil mengerem. Menurutnya, desain ini menciptakan jalur tunggal yang kaku, sehingga menyulitkan pembalap untuk menempatkan mobil di samping lawan. Tanpa zona pengereman lurus yang memadai, peluang untuk melakukan manuver overtaking menjadi sangat terbatas dan cenderung membuat balapan menjadi monoton.
Verstappen bahkan menawarkan diri untuk membantu pihak penyelenggara dan FIA dalam merombak desain sirkuit tersebut. Ia menegaskan bahwa masukan dari pembalap seharusnya dilibatkan sejak tahap perencanaan, bukan setelah lintasan selesai dibangun. Baginya, pembalap adalah pihak yang paling memahami dinamika di balik kemudi dan kriteria tikungan yang memungkinkan terjadinya pertarungan sengit.
Selain masalah layout, panjang jalur pit (pitlane) di Madrid juga menjadi sorotan utama. Terbagi menjadi dua bagian akibat terpotong oleh bangunan pameran, pitlane ini dinilai tidak logis dan sangat panjang, yang pada akhirnya membebani strategi tim. Dengan tingkat degradasi ban yang tinggi di Madrid, seharusnya pitstop tambahan menjadi opsi strategis, namun panjangnya pitlane membuat tim cenderung menghindari opsi tersebut demi mempertahankan posisi di lintasan.
Kritik ini mencerminkan tantangan besar dalam membangun sirkuit jalan raya modern. Tren F1 yang kini banyak menyasar pusat kota sering kali terbentur oleh keterbatasan ruang dan infrastruktur yang sudah ada. Berbeda dengan sirkuit permanen seperti Austin yang dipuji karena memiliki tikungan lebar dan area runoff yang mendukung aksi balap, sirkuit jalan raya sering kali terjebak pada desain yang 'memaksa'.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah sirkuit bukan sekadar infrastruktur aspal, melainkan sebuah instrumen teknologi yang harus mendukung performa mesin. Di Indonesia sendiri, pembangunan sirkuit seperti Mandalika telah melalui proses homologasi ketat, namun kritik dari pembalap F1 ini menjadi pelajaran penting bahwa estetika kota tidak boleh mengorbankan kualitas kompetisi balap.
Verstappen juga menyoroti kendala teknis terkait manajemen energi pada mobil F1 generasi saat ini. Di Madrid, ia terpaksa mengangkat kaki dari pedal gas di beberapa tikungan untuk mengisi daya baterai, alih-alih melaju penuh. Hal ini membuktikan bahwa kombinasi antara desain trek yang buruk dan regulasi mesin yang kompleks dapat menghambat potensi kecepatan mobil secara maksimal.
Situasi di Madrid menjadi pengingat bagi para perancang sirkuit di masa depan bahwa keterlibatan atlet dalam fase desain adalah krusial. Meskipun Verstappen mengakui bahwa sirkuit ini tidak seburuk beberapa trek jalan raya lain di kalender, ia tetap menuntut perubahan signifikan pada zona pengereman agar balapan tidak sekadar menjadi parade mobil yang saling membuntuti.
Ke depan, kolaborasi antara FIA, desainer trek, dan pembalap perlu diperkuat. Tanpa adanya dialog yang konstruktif, setiap penambahan kalender sirkuit baru berisiko menghasilkan balapan yang kurang menarik dari sisi kompetisi. Verstappen sendiri menyatakan kesiapannya untuk duduk bersama pihak berwenang guna memetakan ulang area-area yang perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, sebuah sirkuit yang hebat tidak hanya diukur dari kecepatan rata-rata atau kemegahan fasilitasnya. Kualitas sejati terletak pada bagaimana desain tersebut memungkinkan pembalap untuk beradu keterampilan hingga tikungan terakhir. Jika Madrid ingin menjadi ikon baru di dunia F1, mereka harus segera menanggapi masukan dari para pembalap sebelum sirkuit tersebut kehilangan daya tariknya bagi penggemar global.