Sepakbola

Krisis FIFA Memuncak, Tiga Konfederasi Wacanakan Kompetisi Tandingan Piala Dunia

Ringkasan

  • UEFA, AFC, dan CONCACAF mulai mewacanakan kompetisi tandingan Piala Dunia sebagai bentuk perlawanan terhadap presiden FIFA Gianni Infantino.
  • Wacana ini muncul setelah langkah sepihak Infantino menjual saham Piala Dunia menuai kecaman.

Jakarta, CNN Indonesia -- Gelombang perlawanan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA semakin nyata. Tiga konfederasi sepak bola terbesar, UEFA, AFC, dan CONCACAF, dikabarkan mulai menggodok wacana pembentukan kompetisi tandingan Piala Dunia. Rencana ini muncul di tengah desakan kuat agar presiden FIFA itu segera mundur dari jabatannya.

Media asal Inggris, The Telegraph, melaporkan bahwa diskusi tentang kompetisi alternatif tersebut masih berada di tahap awal. Kendati demikian, sejumlah pihak menilai tidak ada opsi yang boleh dikesampingkan untuk menyelamatkan masa depan sepak bola dunia. Wacana ini menjadi eskalasi terbaru dari konflik panjang antara Infantino dan konfederasi regional.

Ketegangan ini berakar pada langkah kontroversial Infantino yang secara sepihak mengajukan proposal penjualan sebagian saham Piala Dunia melalui skema FIFA Forward Enterprise. Dana abadi tersebut dirancang untuk menjadi mesin finansial baru FIFA, tetapi dinilai melampaui batas kewenangan presiden. Tiga konfederasi menilai Infantino tidak lagi dapat dipercaya mengelola organisasi.

Pada Senin (10/8), UEFA, AFC, dan CONCACAF mengeluarkan pernyataan bersama yang sekali lagi meminta Infantino mundur secara baik-baik. Mereka sebelumnya juga menyatakan akan memboikot agenda FIFA, termasuk Piala Dunia, jika tuntutan itu tidak dipenuhi. Hingga saat ini, ancaman tersebut belum dicabut.

Tokoh yang disebut menjadi motor penggerak wacana kompetisi tandingan adalah Aleksander Caferin (Presiden UEFA), Salman bin Ebrahim Al Khalifa (Presiden AFC), dan Vittorio Montagliani (Presiden CONCACAF). Ketiganya merupakan wakil presiden FIFA yang kini berseberangan dengan ketua mereka sendiri. Langkah ini menjadi preseden yang belum pernah terjadi dalam sejarah FIFA.

Kontroversi kian memuncak setelah terungkap dugaan Infantino membayar selingkuhannya di UEFA saat masih menjabat Sekretaris Jenderal organisasi tersebut. Pembayaran itu diduga dilakukan agar perempuan tersebut keluar dari organisasi, demi memuluskan karier Infantino menuju kursi presiden FIFA. Kasus ini menambah daftar panjang persoalan etik yang membelit pria asal Swiss itu.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, wacana ini bukan sekadar drama politik di level tertinggi. AFC sebagai konfederasi yang menaungi Timnas Indonesia terlibat langsung dalam perlawanan terhadap Infantino. Jika kompetisi tandingan benar-benar terwujud, konsekuensinya bisa dirasakan hingga ke kalender pertandingan timnas dan kompetisi klub di Asia.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, posisi Indonesia di bawah AFC membuat keputusan konfederasi tersebut akan berdampak langsung pada jadwal tim nasional. Indonesia yang saat ini tengah menikmati peningkatan performa di kancah Asia tentu waspada terhadap gejolak politik FIFA.

Persaingan menuju Piala Dunia 2026 menjadi taruhan utama. Jika UEFA, AFC, dan CONCACAF benar-benar memboikot, turnamen paling bergengsi di dunia itu bisa kehilangan tim-tim unggulan seperti Brasil, Jerman, Argentina, dan Prancis. PSSI pun harus mulai menyiapkan skenario jika kualifikasi mengalami perubahan drastis.

Wacana kompetisi tandingan sendiri bukan hal baru dalam sepak bola Eropa. Upaya pembentukan European Super League sempat mengguncang tatanan pada 2021, meski akhirnya gagal karena penolakan suporter. Namun, kali ini skalanya lebih besar karena melibatkan konfederasi dari tiga benua sekaligus, bukan sekadar klub-klub elite.

The Telegraph menyebut pembicaraan di kalangan pelawan Infantino kini mengarah pada skenario pembentukan turnamen global rival Piala Dunia. Diskusi masih terus berlangsung dan belum ada keputusan final. Yang jelas, kepercayaan terhadap Infantino telah runtuh di mata konfederasi-konfederasi utama.

Di sisi lain, Infantino masih memiliki dukungan dari sejumlah federasi kecil yang bergantung pada dana pembangunan FIFA. Skema FIFA Forward yang ia canangkan memang banyak mengucurkan dana ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini membuat kedudukannya tidak mudah digoyahkan melalui voting di Kongres FIFA.

Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung tahun depan akan menjadi panggung penentu. UEFA, AFC, dan CONCACAF diperkirakan akan terus menekan Infantino hingga saat pemilihan. Jika upaya hukum dan politik gagal, kompetisi tandingan menjadi senjata terakhir untuk melawan dominasi presiden FIFA.

Skenario tersebut tentu berisiko besar bagi ekosistem sepak bola global. FIFA dan kompetisi tandingan yang saling bersaing dapat memecah belah federasi-federasi nasional. Bagi Indonesia, stabilitas organisasi sepak bola dunia adalah syarat mutlak agar talenta muda terus berkembang dan timnas mampu bersaing di level tertinggi.

Mengapa Ini Penting

Wacana kompetisi tandingan ini membawa implikasi besar bagi sepak bola Indonesia. AFC yang menaungi Indonesia adalah salah satu penggerak utama perlawanan terhadap Infantino. Jika kompetisi tandingan terwujud, bisa terjadi perpecahan kalender internasional yang memengaruhi jadwal timnas, kompetisi klub, dan bahkan peluang Indonesia tampil di Piala Dunia. PSSI harus cermat memilih posisi agar tidak terjebak dalam pusaran konflik politik FIFA yang dapat merugikan perkembangan sepak bola nasional.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
11 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit