Koroner di Inggris menetapkan bahwa aktivitas heading bola selama karier profesional menjadi penyebab utama penyakit otak yang diderita Nobby Stiles, mantan gelandang bertahan Manchester United dan timnas Inggris. Stiles meninggal pada 30 Oktober 2020 di sebuah panti jompo di Stretford, Greater Manchester, dalam kondisi tak mampu bangun dari tempat tidur akibat demensia.
Putusan tersebut menjadi catatan resmi pertama yang menghubungkan langsung kebiasaan menyundul bola dengan degenerasi neurologis pada pemain era klasik. Stiles memperkuat Inggris sebanyak 28 kali dan tampil hampir 400 laga bersama Manchester United. Ia merupakan bagian dari skuad juara Piala Dunia 1966.
Keluarga Stiles sejak lama mendesak otoritas sepak bola untuk memberikan perlindungan lebih pada mantan pemain yang menderita cedera otak. Anaknya, John Stiles, menyatakan putusan koroner tidak mengherankan, namun industri sepak bola dinilai enggan memberi bantuan nyata. Ia memperingatkan kasus ayahnya bisa menjadi yang pertama dari banyak penyelidikan serupa di masa depan.
Dalam persidangan, John mengungkapkan bahwa latihan menyundul bola sangat dominan pada masa ayahnya berkiprah. Estimasi konservatif menyebut Stiles menyundul bola 40 kali per hari, lima hari seminggu, selama musim kompetisi 10 bulan setiap tahun. Kebiasaan itu berlangsung bertahun-tahun dan jarang diperhatikan risikonya saat itu.
Koroner mencatat penyebab kematian Stiles adalah penyakit Alzheimer dengan chronic traumatic encephalopathy (CTE) stadium tinggi. Faktor lain yang berkontribusi meliputi kondisi stage three limbic predominant age TDP-43 serta penyakit serebrovaskular. Koroner sempat menyoroti anehnya sidang tersebut berlangsung di hari Inggris bertanding di semifinal Piala Dunia melawan Argentina.
Di luar ruang sidang, John menegaskan bahwa saat publik merayakan bintang sepak bola masa kini, ribuan mantan pemain seperti ayahnya justru terabaikan oleh industri yang menghasilkan uang sangat besar. Ia menyebut kegagalan industri dan pemerintah mendukung kelompok rentan ini sebagai aib dan skandal.
Temuan ini relevan dengan studi yang didanai bersama oleh FA dan Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) pada 2019. Studi tersebut menyimpulkan pesepakbola memiliki risiko kematian akibat penyakit neurodegeneratif 3,5 kali lipat lebih tinggi dibanding masyarakat umum pada usia yang sama. Angka itu memperkuat dugaan lama soal bahaya fisik sepak bola era tempo dulu.
FA saat ini sedang menghapus seluruh aktivitas heading untuk sepak bola usia di bawah 11 tahun secara bertahap hingga 2026. PFA membentuk layanan dukungan bagi pemain dengan demensia melalui Football Brain Health Fund dan tim khusus yang mengedukasi pemain aktif soal kesehatan otak. Langkah itu baru permulaan dibanding skala masalah yang ada.
Bagi Indonesia, isu ini menyentuh akar karena sepak bola domestik belum memiliki protokol perlindungan otak yang jelas. Latihan heading masih lazim di semua kelompok umur, termasuk usia dini, tanpa pembatasan resmi dari PSSI. Belum ada penelitian lokal yang memetakan risiko neurodegeneratif pada mantan pemain Liga Indonesia.
Klub-klub di tanah air juga minim fasilitas deteksi dini cedera neurologis. Mantan pemain yang sakit di masa tua umumnya bergantung pada keluarga, bukan sistem industri. Padahal, gaya bermain fisik dan minimnya standar medis lapangan sering kali memperbesar risiko trauma jangka panjang.
John Stiles menuturkan ayahnya adalah pribadi rendah hati yang kebetulan meraih banyak pencapaian di level profesional. Kalimat itu menunjukkan betapa manusiawi dampak di balik statistik seorang legenda. Koroner sendiri menutup sidang dengan catatan resmi yang tak lagi meninggalkan keraguan atas hubungan heading dan penyakit otak.
Ke depan, tekanan publik diperkirakan memaksa FA dan badan sepak bola lain di Eropa memperluas batas usia larangan heading. Industri juga dituntut membuka dana kompensasi bagi mantan pemain penderita demensia. Di Indonesia, momentum ini sebaiknya jadi pintu masuk evaluasi kurikulum latihan usia dini dan perlindungan kesehatan eks-pemain.
Langkah konkret berupa penelitian epidemiologi dan audit fasilitas medis klub perlu segera dijalankan. Tanpa itu, sepak bola Indonesia berisiko mengulang pola abai yang merugikan generasi pemainnya sendiri di masa depan.