Timnas Indonesia kembali menelan pil pahit di Piala AFF 2026. Di laga penentu kelanjutan Grup B di Stadion Nasional Singapura, Jumat (7/8) malam WIB, Garuda Muda ditahan imbang 1-1 oleh tuan rumah dan gagal lolos ke semifinal. Kemenangan adalah satu-satunya tiket untuk Indonesia, namun keputusan kontroversial wasit Abdullah Salim Khalfan Al Amouri di babak kedua mengubah alur pertandingan secara drastis.
Momen krusial terjadi pada menit ke-55. Saat kiper Singapura Izwan Mahbud bersiap memutar bola, Ivar Jenner dan Ui Young Song terlibat pertikaian di kotak penalti. Jenner terlebih dahulu menjatuhkan pemain naturalisasi Singapura tersebut. Saat bangkit, Song membalas dengan sikutan ke perut Jenner. Wasit Al Amouri langsung mengeluarkan kartu kuning untuk keduanya — kartu kedua bagi Song yang berarti kartu merah dan pengusiran.
Song sempat berjalan menuju garis tepi sambil memprotes kecewa. Namun sebelum ia benar-benar keluar, Al Amouri dipanggil VAR untuk meninjau ulang insiden tersebut melalui monitor di samping lapangan. Pertandingan terhenti sekitar tiga menit. Keputusan akhirnya mengejutkan seluruh penonton: wasit membatalkan kedua kartu kuning. Song bebas bermain, Jenner terhindar dari amonesti, dan numerik pemain tetap 11 lawan 11.
Keputusan itu langsung berdampak. Hanya sebelas menit kemudian, di menit ke-66, Ilhan Fandi — putera mantan legenda Fandi Ahmad — menembakkan gol penyeimbang 1-1 setelah menerima umpan silang dari sisi kiri. Pertahanan Indonesia yang tergesa-gesa mencari gol kemenangan justru terbuka di sisi lain. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang.
Bagi Indonesia, ini adalah kegagalan keenam dalam sejarah Piala AFF untuk lolos fase grup, dan edisi keberuntutan kedua berturut-turut setelah tersingkir di edisi 2022. Di bawah asuhan Patrick Kluivert, Timnas diklaim sebagai generasi emas dengan sejumlah pemain naturalisasi berkualitas. Namun realita di lapangan menunjukkan ketidakmampuan mengelola pertandingan di menit-menit kritis, apalagi saat berhadapan dengan keputusan wasit yang memihak.
Singapura, yang dilatih Tsutomu Ogura, bermain dengan disiplin taktis dan mentalitas juang yang layak diacungi jempol. Mereka memanfaatkan momen keberuntungan dengan penuh percaya diri. Gol Ilhan Fandi bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil tekanan konstan setelah numerik pemain disamakan. Tuan rumah kini melaju ke semifinal sebagai runner-up grup, menunggu lawan dari Grup A.
Kontroversi VAR ini segera memicu perdebatan hangat di media sosial dan kalangan praktisi sepak bola Indonesia. Banyak yang menilai keputusan membatalkan kartu merah Song sebagai keliru, mengingat aksi sikutan jelas terlihat di tayangan ulang dan termasuk kekerasan berlebihan (violent conduct) yang wajib kartu merah langsung menurut Aturan Permainan IFAB. Faktanya, wasit sudah mengambil keputusan awal yang benar, lalu mengubahnya setelah review — langkah yang jarang terjadi dan menimbulkan pertanda tanya besar terhadap konsistensi implementasi VAR di turnamen ini.
Beberapa mantan wasit internasional asal Asia Tenggara yang dihubungi secara terpisah menilai prosedur Al Amouri melanggar protokol standar. "Wasit seharusnya hanya meninjau apakah kartu merah Song pantas, bukan membatalkan kartu kuning Jenner yang tidak direview," ujar salah satu mantan wasit FIFA yang meminta anonimitas. "Ini menciptakan preseden berbahaya: wasit bisa membatalkan keputusan disipliner lawan sekadar untuk 'menyeimbangkan' setelah review."
Dari sisi Timnas Indonesia, kegagalan ini menimbulkan pertanyaan fundamental tentang manajemen emosi pemain. Ivar Jenner, berusia 21 tahun, seharusnya lebih tenang menghadapi provokasi. Kehilangan fokus sesaat itu memicu reaksi berantai yang merugikan tim. Staf pelatih Kluivert perlu mengevaluasi aspek mental, bukan hanya taktis, mengingat banyak pemain muda yang belum terbiasa bermain di tekanan turnamen senior tingkat tinggi.
Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) kini dihadapkan pada tekanan publik yang masif. Setelah investasi besar pada naturalisasi dan gaji pelatih kelas dunia, hasil di Piala AFF — turnamen prioritas ASEAN — justru menurun. PSSI harus menjawab apakah proyek Timnas saat ini benar-benar punya roadmap jangka panjang, atau hanya reagif terhadap tekanan hasil instan. Evaluasi menyeluruh, bukan pembuangan tanggung jawab ke wasit, jadi keharusan.
Ke depan, Indonesia harus mempersiapkan kualifikasi Piala Asia 2027 dan Piala Dunia 2026 dengan lebih matang. Pelajaran dari Singapura jelas: tim dengan sumber daya terbatas tapi disiplin taktis dan mental kuat bisa mengalahkan tim berbintang di hari yang ditentukan. VAR hadir untuk keadilan, tapi implementasinya harus konsisten. Bagi sepak bola Indonesia, saatnya berhenti mencari kambing hitam dan mulai memperbaiki sistem dari akar.