Kylian Mbappe kini berada di tengah badai krisis reputasi yang serius di Tiongkok setelah sebuah video yang merekam dirinya melontarkan candaan terhadap mendiang pemimpin Tiongkok, Mao Zedong, beredar luas. Insiden ini tidak hanya memojokkan sang bintang Prancis tersebut, tetapi juga menyeret Real Madrid dan otoritas La Liga ke dalam pusaran boikot yang mengancam eksistensi komersial mereka di pasar ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Video yang memicu kemarahan publik Tiongkok ini diketahui direkam pada April lalu. Dalam rekaman tersebut, Mbappe terlihat menertawakan sebuah meme internet yang mengubah wajahnya menjadi sosok yang ia sebut sebagai diktator Tiongkok. Bagi masyarakat Tiongkok, Mao Zedong bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan sosok sakral sebagai pendiri Republik Rakyat Tiongkok yang posisinya tidak bisa diganggu gugat dalam ruang publik.
Respons dari Beijing sangat cepat dan tegas. Berbagai merek besar asal Tiongkok yang sebelumnya menjalin kontrak kerja sama dengan Mbappe langsung memutus hubungan bisnis mereka. Stasiun televisi negara, CCTV, mengambil langkah ekstrem dengan menghapus seluruh jadwal siaran pertandingan La Liga, sebuah langkah yang secara langsung memukul pendapatan hak siar liga Spanyol tersebut.
Ketergantungan finansial Real Madrid dan La Liga terhadap pasar Tiongkok memang sangat besar. Data menunjukkan bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat menjadi penyokong utama hak siar internasional La Liga yang bernilai hingga 748 juta euro atau sekitar Rp12,8 triliun untuk musim 2024-2025. Selain itu, Real Madrid mengandalkan pasar Tiongkok untuk 10 hingga 15 persen pendapatan merchandise mereka.
Krisis ini mengingatkan publik pada insiden serupa yang dialami NBA pada 2019 silam. Saat itu, manajer umum Houston Rockets, Daryl Morey, mencuitkan dukungannya terhadap pengunjuk rasa di Hong Kong. Akibatnya, NBA dihapus dari siaran CCTV selama lebih dari setahun dan mengalami kerugian finansial mencapai ratusan juta dolar. Perbedaannya, La Liga dan Real Madrid saat ini lebih memilih untuk segera melayangkan permintaan maaf terbuka guna meredam ketegangan.
Pengamat olahraga, Yan Qiang, menilai bahwa permintaan maaf tersebut adalah langkah awal yang krusial namun belum cukup untuk memulihkan citra yang telanjur rusak. Dalam era internet yang bergerak cepat, sentimen nasionalisme konsumen di Tiongkok sering kali memicu gelombang kemarahan kolektif yang sulit dibendung. Bagi banyak pihak, hubungan ini telah mencapai titik nadir yang membutuhkan upaya ekstra untuk diperbaiki.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat penting mengenai batasan sensitivitas budaya dan politik dalam olahraga global. Di Indonesia, pasar sepak bola sangat besar, namun iklim industri olahraga kita belum sebergantung pasar Tiongkok terhadap satu entitas liga. Meski demikian, pelajaran dari kasus Mbappe ini menunjukkan betapa krusialnya peran atlet sebagai duta merek global yang harus memahami konteks sosiopolitik tempat mereka beroperasi.
Industri olahraga Indonesia, yang kini mulai banyak berkolaborasi dengan sponsor internasional dan pemain asing, perlu melihat ini sebagai mitigasi risiko. Reputasi seorang atlet atau klub tidak hanya dibangun di atas lapangan hijau, melainkan melalui perilaku mereka di ruang digital. Satu kesalahan narasi bisa menghancurkan kontrak bernilai jutaan dolar dalam hitungan jam.
Adam Zhang, pendiri Key-Solution Sports Consulting, menekankan bahwa masa depan Mbappe di Tiongkok bergantung sepenuhnya pada perilaku dan tindakan konkret di masa depan. Tidak ada jaminan bahwa popularitas sang pemain akan kembali seperti sedia kala, mengingat wajahnya yang selama ini menghiasi berbagai kampanye iklan besar di sana kini justru menjadi simbol ketidaksukaan publik.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian bagi Real Madrid dalam melakukan tur pramusim atau aktivitas komersial di kawasan Asia Timur. Jika larangan siaran tetap diberlakukan, kerugian finansial yang diderita La Liga akan terus membengkak, memicu tekanan dari klub-klub lain yang merasa dirugikan oleh tindakan satu pemain.
Ke depan, tren nasionalisme konsumen di Tiongkok diprediksi akan terus menguat. Perusahaan olahraga global kini dihadapkan pada tantangan berat untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi atlet dan kepentingan bisnis di pasar yang sangat sensitif terhadap isu kedaulatan sejarah.
Pada akhirnya, perjalanan menuju penebusan dosa bagi Mbappe, Real Madrid, dan La Liga akan sangat panjang dan berliku. Mereka tidak hanya berhadapan dengan birokrasi, tetapi dengan sentimen massa yang telah terlanjur terluka. Langkah-langkah diplomasi olahraga yang akan diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu apakah mereka bisa kembali diterima di pasar Tiongkok atau justru akan kehilangan akses secara permanen.