Olahraga

Konflik FIFA Memanas, Pelawan Infantino Siapkan Kompetisi Tandingan Piala Dunia

Ringkasan

  • Tiga wakil presiden FIFA dari UEFA, AFC, dan CONCACAF mulai mewacanakan kompetisi tandingan Piala Dunia sebagai tekanan agar Gianni Infantino mundur setelah proposal kontroversialnya memicu kemarahan federasi anggota.

Konflik internal FIFA semakin memanas. Sejumlah anggota federasi yang menentang kepemimpinan Gianni Infantino dikabarkan mulai mewacanakan pembentukan kompetisi tandingan sebagai tandingan Piala Dunia. Kabar ini pertama kali diungkap oleh media asal Inggris, The Telegraph, yang menyebut diskusi awal mengenai liga pembangkang atau breakaway league telah mengemuka di internal anggota FIFA.

Wacana ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi antara kubu oposisi dan Infantino. Sebelumnya, tiga konfederasi besar yakni UEFA, AFC, dan CONCACAF telah menyatakan akan memboikot seluruh agenda FIFA, termasuk Piala Dunia, jika Infantino tidak segera mundur. Hingga saat ini, ancaman boikot tersebut belum juga dicabut, dan kini arah perjuangan mereka tampaknya bergerak lebih jauh dari sekadar boikot.

Akar persoalan berawal dari langkah Infantino yang dinilai sepihak. Ia mengajukan proposal penjualan sebagian saham Piala Dunia melalui skema bernama FIFA Forward Enterprise. Keputusan ini dianggap melampaui batas kewenangan dan merusak kepercayaan federasi-federasi anggotanya. Bagaimana mungkin sebuah turnamen yang siklusnya sudah ditetapkan dirombak lewat kebijakan yang tidak transparan? Pertanyaan itu terus bergulir di internal FIFA.

Situasi diperkeruh dengan munculnya dugaan kuat bahwa Infantino pernah membayar selingkuhannya di UEFA saat masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Tujuannya jelas, agar perempuan tersebut keluar dari organisasi dan karier Infantino di UEFA berjalan mulus. Meski dugaan ini belum menjadi vonis, publikasi The Telegraph memberi dimensi baru pada kredibilitas kepemimpinan pria asal Swiss tersebut.

The Telegraph menulis bahwa diskusi tentang sifat kompetisi alternatif masih dalam tahap awal. Namun, sudah ada pandangan kuat bahwa tidak ada opsi yang boleh dikesampingkan. Artinya, pembentukan turnamen tandingan bukan lagi sekadar isapan jempol, melainkan skenario yang mulai dipertimbangkan serius oleh lawan-lawan politik Infantino.

Menariknya, wacana ini tidak melibatkan orang sembarangan. Tiga dari delapan wakil presiden FIFA yang kini mendampingi Infantino disebut-sebut mulai melakukan pembicaraan internal. Mereka adalah Aleksander Caferin (UEFA), Salman bin Ebrahim Al Khalifa (AFC), dan Vittorio Montagliani (CONCACAF). Pada Senin (10/8), ketiganya bahkan mengeluarkan pernyataan bersama yang kembali meminta Infantino mundur secara baik-baik.

Langkah ketiga tokoh tersebut patut disorot. Caferin, Al Khalifa, dan Montagliani mewakili tiga kekuatan terbesar dalam struktur FIFA. Ketika tiga konfederasi dengan basis anggota terbanyak bersatu, dampaknya langsung terasa. Piala Dunia tanpa tiket dari UEFA, AFC, dan CONCACAF praktis kehilangan legitimasi sebagai turnamen global paling akbar.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan tanpa konsekuensi. PSSI adalah bagian dari AFC, sehingga kebijakan Konfederasi Sepak Bola Asia akan langsung berimbas pada Timnas Garuda. Jika AFC benar-benar memboikot Piala Dunia di bawah Infantino, peluang Indonesia untuk lolos ke putaran final lewat jalur kualifikasi zona Asia bisa berubah total atau bahkan ditunda tanpa kejelasan.

Di sisi lain, publik Indonesia yang sempat antusias menantikan peluang Timnas menghadapi tim-tim peserta Piala Dunia harus bersiap menghadapi kekecewaan. Rencana laga uji coba melawan negara-negara kuat Eropa atau Amerika bisa batal seketika jika peta kekuatan sepak bola global terbelah. Kepentingan sepak bola Indonesia berada di tengah pusaran politik FIFA yang tidak pernah kita undang.

Belum ada pernyataan resmi dari PSSI menyikapi wacana kompetisi tandingan ini. Namun dalam sejarah, Indonesia selalu menjadi pengikut setia keputusan AFC. Jika konfederasi Asia mengambil sikap tegas terhadap Infantino, kemungkinan besar PSSI akan sejalan, atau setidaknya menunggu arahan lebih lanjut dari AFC.

Yang tak kalah penting, keberadaan kompetisi tandingan akan memaksa semua pihak menghitung ulang nilai ekonomi turnamen internasional. Piala Dunia saat ini adalah mesin uang terbesar FIFA. Jika kompetisi tandingan benar-benar terbentuk, lini bisnis itu bisa runtuh dalam semalam. Banyak pihak ingin melihat apakah Infantino akan bertahan atau justru berkompromi sebelum jatuh.

Langkah berikutnya kini ditunggu semua pihak. Apakah ketiga konfederasi akan segera mengumumkan rencana kompetisi baru secara resmi? Atau apakah ini sekadar tekanan politik untuk memaksa Infantino lengser sebelum kontraknya berakhir? Yang jelas, bola panas kini ada di lapangan Infantino. Keputusan sepihak yang dulu dianggap cerdik kini berbalik menjadi bumerang yang siap meruntuhkan singgasananya.

Mengapa Ini Penting

Pecahnya FIFA menjadi dua kubu berarti peta sepak bola dunia akan berubah permanen. Bagi Indonesia, AFC adalah gerbang utama menuju Piala Dunia. Jika AFC bergabung dalam kompetisi tandingan, Indonesia harus memilih antara mengikuti turnamen resmi FIFA atau bersama konfederasi Asia. Keputusan ini berpotensi menghambat regenerasi timnas dan membuat Indonesia kehilangan kesempatan bertanding di ajang internasional. Selain itu, konflik politik di FIFA berdampak langsung pada distribusi dana pembangunan sepak bola yang selama ini dinikmati PSSI.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
11 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit