Dunia sepak bola Palestina kembali berduka setelah Saleem Khader al-Ashqar, seorang kiper berbakat berusia 32 tahun, tewas akibat serangan militer Israel. Kejadian tragis ini bermula ketika al-Ashqar sedang berusaha mencari gas untuk memasak demi memenuhi kebutuhan istri tercintanya yang sedang hamil. Saat berada di al-Qarara, timur laut Khan Younis, Gaza selatan, ia menjadi sasaran tembakan yang mengakhiri perjalanan hidupnya yang penuh dedikasi bagi keluarga dan olahraga.
Kematian al-Ashqar menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di Gaza. Menurut data resmi Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), lebih dari 1.000 atlet telah kehilangan nyawa sejak eskalasi konflik dimulai. Khusus di sektor sepak bola, al-Ashqar merupakan satu dari 567 individu yang gugur. Bagi keluarga dan rekan setimnya, ia bukan sekadar angka statistik, melainkan sosok pria yang penuh mimpi dan tanggung jawab.
Farid Al-Ashqar, paman sekaligus anggota komite wasit PFA, mengenang keponakannya sebagai pribadi yang sangat mencintai sepak bola sejak kecil. Sepanjang kariernya, al-Ashqar pernah memperkuat sejumlah klub lokal ternama seperti Al-Aqsa, Shabab Khan Younis, Al-Masdar, dan Khadamat Khan Younis. Ia dikenal karena loyalitasnya yang tinggi, bahkan sering menolak bayaran besar dengan alasan bahwa baginya, membela Palestina adalah kehormatan tertinggi.
Kehilangan ini memberikan pukulan hebat bagi manajemen dan pendukung klub Khadamat Khan Younis. Abdulghani al-Sheikh, presiden klub tersebut, menyatakan bahwa al-Ashqar adalah sosok panutan dan sumber energi positif bagi rekan-rekannya di tengah situasi perang yang mencekam. Baginya, setiap atlet yang gugur membawa kisah kemanusiaan yang mendalam di balik kehancuran infrastruktur olahraga yang kini telah rata dengan tanah akibat pengeboman intensif.
Di tengah kesedihan yang mendalam, muncul kemarahan besar dari komunitas olahraga Palestina terhadap sikap diam komunitas internasional, terutama FIFA. Farid Al-Ashqar mempertanyakan di mana posisi organisasi sepak bola dunia dalam merespons pembantaian atlet dan hancurnya fasilitas olahraga di Gaza. Ia menuntut tindakan nyata agar penderitaan para atlet Palestina tidak terus diabaikan oleh federasi olahraga internasional.
Warisan Saleem al-Ashqar kini menjadi simbol perlawanan dan ketahanan bagi para atlet muda di Gaza. Meskipun stadion-stadion telah hancur dan lapangan latihan tidak lagi bisa digunakan, semangat untuk terus berolahraga tetap hidup. Komunitas olahraga di sana bertekad untuk menjaga nilai-nilai yang diperjuangkan al-Ashqar, yakni dedikasi terhadap tanah air dan solidaritas di tengah situasi yang penuh ketidakpastian serta ancaman nyata setiap saat.