Sepakbola

Kompany Bidik Liga Champions 2026/2027 Usai Bayern Sapu Bersih Domestik

Ringkasan

  • Pelatih Bayern Munich Vincent Kompany menargetkan gelar Liga Champions musim 2026/2027 setelah timnya menyapu bersih trofi domestik dan mencetak rekor gol Bundesliga musim lalu, namun gagal di semifinal Eropa.

Vincent Kompany tidak mau beristirahat di atas laurel musim kemenangan sempurna. Pelatih Bayern Munich itu menatap satu-satunya trofi yang luput dari genggaman Die Roten musim 2025/2026: Liga Champions. Setelah menyapu bersih Bundesliga, Piala DFB, dan Supercup Jerman sambil mencetak rekor sejarah, target musim depan sudah jelas — mengakhiri puasa gelar Eropa yang sudah berlangsung enam tahun.

Musim lalu Bayern memang hampir tak tertandingi di kancah domestik. Mereka mencetak 122 gol di Bundesliga, angka terbanyak dalam sejarah liga Jerman semusim dan kedua terbanyak di lima liga top Eropa setelah Torino 125 gol pada 1947/1948. Dominasi itu dibuktikan dengan 32 kemenangan dari 34 pertandingan, hanya kalah sekali dan imbang sekali. Namun, perjalanan di Eropa terhenti di semifinal usai dikalahkan Paris Saint-Germain agregat 5-6 dalam dua leg yang penuh drama.

Kompany sendiri mengakui sulitnya mengulangi rekor-rekor itu. "Sulit untuk meningkatkannya — lagipula, ini bukan soal trofi yang sudah kami menangi, melainkan juga tentang jumlah gol dan pertandingan yang telah kami menangi," ujar mantan kapten Manchester City itu kepada BeIN Sports di Hong Kong. Namun, dia menegaskan target baru tidak diragukan lagi: juara Liga Champions. Fokusnya kini beralih ke manajemen skuad agar seluruh pemain tetap fit dan sehat sepanjang musim yang padat.

Kegagalan di semifinal melawan PSG menjadi luka yang dalam. Bayern sempat unggul 3-2 di leg pertama di Allianz Arena, namun kalah 1-4 di Parc des Princes usai performa kolaps di babak kedua. Kebocoran pertahanan dan ketidakmampuan mengunci pertandingan menjadi evaluasi krusial. Kompany yang dikenal detail dalam persiapan taktis kini harus menyusun tim yang lebih tangguh mental di momen-momen kritis Eropa.

Sejarah Bayern di Liga Champions memang gemilang dengan enam gelar, berbagi rekor dengan Liverpool. Namun gelar terakhir 2019/2020 di Lisboa terasa lama bagi klub bersejarah ini. Era Hansi Flick, Julian Nagelsmann, hingga Thomas Tuchel tak berhasil mengembalikan trofi ke Munich. Kompany, yang baru menembus tahun pertamanya di bangku pelatih senior, kini mendapat kepercayaan penuh manajemen untuk memecahkan kode Eropa.

Strategi transfer musim panas ini akan menentukan nasib target itu. Bayern sudah mengamankan Michael Olise dari Crystal Palace dan Joao Palhinha dari Fulham untuk memperkuat sayap dan lini tengah. Masih ada kebutuhan di posisi bek kiri dan penyerang sayap kanan alami. Manajemen olahraga Max Eberl dan Christoph Freund harus bekerja cepat sebelum jendela transfer ditutup, mengingat kompetisi Bundesliga semakin ketat dengan Leverkusen, Dortmund, dan Leipzig yang terus memperkuat skuad.

Dari sudut pandang Liga Champions, format baru musim 2024/2025 yang menerapkan sistem liga satu meja 36 tim justru menguntungkan klub besar seperti Bayern. Mereka hanya butuh finis di delapan besar untuk lolos ke 16 besar tanpa playoff. Namun,ORMAT ini juga berarti lebih banyak pertandingan berisiko tinggi di fase liga, menuntut kedalaman skuad yang luar biasa. Kompany harus memutar pemain secara cerdas antara Bundesliga, Piala DFB, dan Liga Champions.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Bayern ini relevan karena menunjukkan betapa sulitnya mentranslasikan dominasi domestik ke keberhasilan Eropa. Banyak klub Liga 1 yang menguasai kompetisi nasional tapi gagal di AFC Champions League. Pelajaran dari Bayern: konsistensi performa tinggi selama 90 menit, manajemen fisik pemain, dan ketahanan mental di leg kedua jadi kunci. Kompany mempraktikkan filosofi "fokus pada pertandingan selanjutnya" — mantra yang cocok untuk pelatih dan pemain Indonesia.

Proyeksi musim 2026/2027 akan sangat bergantung pada adaptasi pemain baru, kesehatan Harry Kane yang jadi mesin gol, serta perkembangan Jamal Musiala dan Aleksandar Pavlovic sebagai tulang punggung masa depan. Jika Bayern bisa mempertahankan efisiensi finishing musim lalu sambil memperbaiki ketahanan defensif di leg kritis, target Kompany realistis. Enam tahun menunggu cukup lama bagi raksasa Bavaria — dan musim depan bisa jadi momen penebusan.

Mengapa Ini Penting

Target Kompany menegaskan bahwa dominasi domestik tanpa gelar Eropa dianggap gagal bagi klub kelas dunia. Bagi sepak bola Indonesia, ini menggarisbawahi pentingnya manajemen skuad jangka panjang dan ketahanan mental di leg knockout — area di mana klub Liga 1 sering gagal di kompetisi AFC. Musim 2026/2027 juga akan jadi ujian format Liga Champions baru bagi klub besar tradisional.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
7 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit